Dalam konteks penularan penyakit, pornografi tergolong industri paling berbahaya. Namun industri ini sekaligus punya prosedur pencegahan yang ketat dan dinilai bisa diterapkan untuk menangkal virus Corona COVID-19.
Sejak HIV (Human Imunodeficiency Virus) mewabah di era 1990-an, studio 'mainstream' film dewasa di Amerika Serikat menerapkan The Performer Availability Scheduling Services (PASS). Diklaim sejak 2004 tidak terjadi penularan berkat skema tersebut.
Tes rutin tiap 2 pekan jadi syarat mutlak bagi setiap pemeran jika ingin tampil. Jika ada pemeran yang positif terinfeksi, kegiatan produksi dihentikan sampai tracing atau pelacakan maupun serangkaian tes menjangkau semua orang yang terlibat kontak.
"Saya tidak yakin bisa ada di industri ini tanpa hal itu," kata Lance Hart, seorang pemeran film dewasa asal Las Vegas, dikutip dari The Sun.
Selama lockdown akibat pandemi corona, studio porno tidak beroperasi. Namun para bos tengah memikirkan langkah-langkah keamanan tambahan jika kelak sudah bisa beroperasi kembali, misalnya dengan melakukan sanitasi.
"Dalam beberapa hal, apa yang mereka lakukan adalah model untuk apa yang kita coba lakukan pada COVID," kata Dr Ashish Jha dari Global Health Institute di Harvard University.
"Industri film dewasa mengajarkan kita bahwa sebagai proof of concept, ini bisa berhasil. Kita hanya perlu scale up," lanjutnya.
Peneliti Temukan 3 Kombinasi Obat untuk Atasi Covid-19
Penelitian di Hong Kong menemukan tiga kombinasi obat antivirus yang mampu menekan jumlah virus corona penyebab Covid-19 dalam tubuh. Studi terhadap 127 pasien Covid-19 di negara itu membagi kelompok menjadi dua yakni kelompok uji dan kelompok kontrol.
Kelompok uji diberi kombinasi tiga obat, pertama adalah lopinavir-ritonavir yang biasa digunakan untuk mengobati HIV / AIDS. Kedua, ribavirin yang dipakai untuk mengobati hepatitis, dan ketiga adalah interferon beta yang mengobati multiple sclerosis.
Sementara itu, kelompok kontrol hanya diberikan obat HIV dengan merek Kaletra. Para pasien dalam kelompok kontrol tidak terdeteksi virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 setelah 12 hari.
Sedangkan pasien dalam kelompok uji bisa pulih sepenuhnya dalam waktu tujuh hari. Hasil ini berarti lima hari lebih awal dibanding pasien dalam kelompok kontrol.
Dilansir dari CNN, peneliti utama Kwok-Yung Yuen dari Universitas Hong Kong mengungkapkan kombinasi obat dalam studinya dapat meredakan gejala pasien Covid-19.
"Percobaan kami menunjukkan bahwa pengobatan dini Covid-19 ringan hingga sedang dengan kombinasi tiga kombinasi obat anti virus dapat dengan cepat menekan jumlah virus dalam tubuh pasien dan meredakan gejala," ujar Kwok.
Peneliti juga mencatat bahwa dengan memberikan obat ke pasien yang sakit itu maka secara tidak langsung juga menyelamatkan nyawa petugas medis yang merawat pasien.
Sebab laju virus yang lebih cepat ditekan akan memungkinkan fase 'pelepasan virus' dari pasien pun akan kian sedikit waktunya. Fase ini terjadi ketika virus paling aktif dan paling mudah ditularkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar