Kota Barrow di Alaska hanya berjarak 2.100 km dari Kutub Utara. Simak kisah penjelajahan traveler asal Indonesia di Kota Barrow ini.
Begitu pintu pesawat dibuka, hawa dingin seperti es pun melaju menghampiri saya. Jaket tebal, kaos tangan kulit, dan topi wool sudah melekat di badan sedari tadi, namun hawa dingin itu tetap terasa di kulit.
Perlahan-lahan saya segera keluar menuruni anak tangga pesawat Alaska Airlines jenis boeing 737-400 combi yang pintu keluar masuk utamanya berada di sisi kiri belakang. Bandar udara Wiley Post Will Rogers Memorial ini memang beroperasi sepanjang tahun, meski musim winter yang ekstrim sekalipun.
Ruangan utamanya hanya ada satu, tetapi multifungsi. Bisa sebagai konter check in, ruang tunggu untuk keberangkatan, sekaligus tempat kedatangan. Untung saja tempat saya akan menginap jaraknya hanya 150 meter, jadi tidak perlu keluar ongkos taksi dan bisa segera terbebas dari hawa dingin yang sangat menusuk tulang.
Tiba di penginapan, Mr Andre si pemilik Airport Inn sangat surprise, katanya saya pelancong asal Indonesia pertama yang akan tinggal di penginapannya. Kami pun bercakap-cakap sebentar. Setelah membayar USD 488.25 untuk menginap tiga malam, beliau langsung memberikan sebuah kunci kamar.
"Enjoy your Arctic Adventure in Barrow, Alaska" katanya.
Hawa yang sangat dingin membuat perut ini menjadi sangat lapar. Mahalnya harga makanan dan barang-barang di Barrow karena penduduk di sini mangandalkan pesawat terbang sebagai alat transportasi utama untuk melakukan pengiriman semua kebutuhan.
Bahkan orang sakit pun mereka akan mencari pesawat terbang untuk membawanya berobat ke kota Anchorage. Jarak yang hanya 2.100 km dari kutub utara membuat Barrow memiliki iklim kutub yang mampu mempertahankan suhu di bawah titik beku meski matahari sudah bersinar 24 jam.
Ketika Saya berkeliling kota ini seorang diri, tak satupun saya menjumpai rumah igloo di sini, yang ada hanya rumah panggung karena untuk menghindari timbulnya panas pada tanah permafrost yang mengakibatkan bangunan menjadi miring dan tenggelam. Tidak heran jika semua jalan di sini juga tidak diaspal.
Barrow adalah kota paling ujung utara dari wilayah Amerika Serikat yang masih kental mempertahankan tradisi leluhurnya. Kota kecil yang penghuninya 60% adalah suku Inupiat Eskimo itu, sampai saat ini masih mengandalkan makanan sehari-harinya dengan berburu binatang seperti walrus, karibau, beruang kutub, unggas air, ataupun ikan paus jenis bowhead whale.
Yang bikin Saya agak sedikit geli ketika melewati sebuah kotak tempat sampah bertuliskan 'save whales for dinner'. Tapi menurut International Whaling Commision, Barrow memang salah satu kota yang penduduknya masih diberi keleluasaan untuk berburu bowhead whale dengan kuota tidak lebih dari dua puluh lima ekor pertahun supaya tidak mengganggu ekosistem.
Di Barrow tidak ada toko yang menjual minuman yang mengandung alkohol. Namun penduduk bisa membeli dari tempat lain dengan batasan tertentu. Selain untuk mencegah meningkatnya tindak kejahatan, jika peminumnya sampai mabuk dan tak sadarkan diri di luar rumah maka orang tersebut bisa dipastikan akan terkena frostbite yaitu rusaknya jaringan kulit akibat terlalu lama terkena hawa yang sangat dingin.
Akhirnya malam ini saya tertarik untuk masuk dan bersantap di Sam & Lee restaurant dengan menu andalannya mongolian beef. Selain itu di sini ada beberapa tempat makan yang rasanya nikmat seperti Barrow kitchen, Osaka restaurant, Northen Light restaurant, East Coast Pizzeria, dan Arctic pizza.
Untuk observasi perubahan iklim dan cuaca maka pemerintah mendirikan Barrow Weather Service Office. Kantor ini bertujuan memberikan perakiraan cuaca serta peringatan dini jika terjadi iklim dan cuaca yang sangat ekstrim.
Karena berada jauh di atas arctic circle maka tanah yang dominan di sini adalah tundra dengan tumbuh-tumbuhan yang kerdil. Untuk kota yang hanya seluas 54 km persegi ini Barrow didatangi lebih banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan alam dibandingkan dengan kota lainnya di USA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar