Di Barrow tidak ada toko yang menjual minuman yang mengandung alkohol. Namun penduduk bisa membeli dari tempat lain dengan batasan tertentu. Selain untuk mencegah meningkatnya tindak kejahatan, jika peminumnya sampai mabuk dan tak sadarkan diri di luar rumah maka orang tersebut bisa dipastikan akan terkena frostbite yaitu rusaknya jaringan kulit akibat terlalu lama terkena hawa yang sangat dingin.
Akhirnya malam ini saya tertarik untuk masuk dan bersantap di Sam & Lee restaurant dengan menu andalannya mongolian beef. Selain itu di sini ada beberapa tempat makan yang rasanya nikmat seperti Barrow kitchen, Osaka restaurant, Northen Light restaurant, East Coast Pizzeria, dan Arctic pizza.
Untuk observasi perubahan iklim dan cuaca maka pemerintah mendirikan Barrow Weather Service Office. Kantor ini bertujuan memberikan perakiraan cuaca serta peringatan dini jika terjadi iklim dan cuaca yang sangat ekstrim.
Karena berada jauh di atas arctic circle maka tanah yang dominan di sini adalah tundra dengan tumbuh-tumbuhan yang kerdil. Untuk kota yang hanya seluas 54 km persegi ini Barrow didatangi lebih banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan alam dibandingkan dengan kota lainnya di USA.
Mereka mengamati perubahan iklim dan cuaca, lautan luas yang tertutup oleh es, pemanasan global, perkembangbiakan ikan paus, lapisan tanah permafrost, serta peristiwa alam lainnya yang mempengaruhi lingkungan yang terjadi di sini. Sudah sejak lama Barrow dipercaya menyandang gelar 'The Arctics Science City'.
Hari kedua supaya tidak capek dan untuk alasan keselamatan dari serangan beruang kutub maka saya akan menjelajah kota Barrow bersama seorang pemandu wisata gaek yang saya kenal beberapa bulan yang lalu lewat sebuah media sosial. Namanya Mr Mike.
Kami akan berkelana ke segala sudut tempat-tempat yang menjadi andalan wisata kota ini dengan menggunakan kendaraan double gardan, sebab semua jalan masih tanah dan banyak yang becek. Mr Mike berkata bahwa beruang kutub jarang sekali berkeliaran di tengah pemukiman penduduk.
Mereka bergerombol di tengah laut yang membeku dan akan menuju ke pantai jika musim panen ikan paus telah tiba karena beruang kutub akan mengais sisa daging ikan paus yang tercecer ditanah. Mr Mike pun menyiapakan teropong kecil untuk mengintip beruang tersebut dari kejauhan.
Di sepanjang perjalanan Mr Mike juga berbagi cerita tentang riwayat Kota Barrow yang sudah ditempati oleh suku asli Inupiat Eskimo kira-kira sejak tahun 500 A.D. Dulunya dikenal dengan nama Ukpeakvik yang artinya tempat dimana burung hantu salju diburu.
Setelah kedatangan penjelajah arctic dari Inggris maka diberi nama Barrow oleh kapten William Beechey untuk menghormati laksamana Sir John Barrow pada tahun 1826. Untuk keperluan ibadah maka pada tahun 1888 sebuah gereja Presbyterian mulai dibangun oleh Misionaris dari USA. Saya pun mendengarkan cerita Mr Mike dengan sangat antusias.
Ketika mobil kami berjalan mengelilingi Barrow mata saya tertuju pada pipa-pipa saluran minyak di sepanjang jalan. Meski Barrow kaya akan cadangan minyak dan gas bumi tetapi harga bahan bakar di sini cukup mahal karena masih berwujud minyak mentah maka perlu disalurkan ke pabrik untuk diolah terlebih dahulu.
Kami berdua singgah di beberapa tempat yang menjadi pusat perhatian para pelancong yang berkunjung ke kota Barrow, di antaranya, Barrow Miles Post. Barrow Miles Post adalah sebuah tugu kayu dengan penunjuk jarak dari kota Barrow ke beberapa kota terkenal di penjuru dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar