Jumat, 08 Mei 2020

Ilmuwan Lacak Gelombang Kedua Virus Corona dari Limbah Feses

Para ilmuwan mengklaim dengan mempelajari feses atau kotoran manusia bisa menjadi kunci untuk menghentikan gelombang kedua virus Corona COVID-19. Menurut mereka, dengan mempelajari limbah di dalam saluran pembuangan di seluruh dunia, bisa melihat tingkat orang-orang yang terinfeksi.
"Pasien yang terinfeksi bisa mengeluarkan virus Corona itu di dalam fesesnya. Dari sistem pembuangan kota lah kami bisa melihat dan mendapat informasi kesehatan manusia yang ada di wilayah tersebut," kata Newsha Ghaeli, pendiri perusahaan epidemiologi Biobot.

Dikutip dari Daily Star, perusahaan tersebut mengumpulkan sampel dari fasilitas air limbah di seluruh dunia. Dengan cara ini mereka percaya bisa mendapat gambaran yang lebih jelas tentang penyebaran virus tersebut dan cara mengatasinya.

Saat ini Biobot sendiri sudah terkumpul sebanyak 300 sampel dari 40 negara bagian Amerika Serikat (AS).

Di Prancis, para peneliti sudah mulai menguji air limbah sejak 5 Maret lalu.

"Air limbah bisa membantu untuk menyelidiki area penyebaran virus. Tidak dengan menguji per orang, tetapi satu area sekaligus," jelas Vincent Marechal, ahli virologi.

Dokter Ini Sarankan Obat Rematik Untuk Sembuhkan Pasien Corona yang Kritis

Seorang spesialis penyakit paru-paru dari California, Amerika Serikat (AS), membagikan kisahnya dalam mengobati pasien kritis virus Corona menggunakan obat tocilizumab. Dokter yang bernama Imran Sharief ini mengatakan ia pernah merawat pasien usia 30-an yang memiliki gejala virus Corona.
Pasien tersebut mengalami perburukan yang cepat sehingga harus menggunakan ventilator. Di AS, tocilizumab yang biasa dipakai untuk mengobati rematik masuk ke dalam salah satu obat eksperimental virus Corona.

Teorinya obat bekerja dengan menekan peradangan di dalam tubuh akibat virus Corona sehingga gejala yang parah dapat ditekan.

"Kami sangat berhati-hati dan khawatir. Karena pasien ini masih sangat muda, jadi kami segera mulai pengobatan secepatnya," kata Sharief, dilansir Fox News.

Setelah lima hari dilakukan perawatan dengan menggunakan obat ini, kondisi pasien mulai membaik.

Sharief menyarankan koleganya menggunakan obat tocilizumab pada pasien terinfeksi virus Corona dengan keadaan kritis. Obat ini diklaim dapat mengobati virus Corona dengan memblok reseptor dan mencegah pelepasan mediator inflamasi.

"Saya menyarankan kepada kolega saya bahwa begitu kalian melihat pasien yang memburuk, kondisinya klinisnya semakin parah hingga butuh terapi oksigen dengan ventilator, maka segera mulai pengobatan ini secepatnya dalam kurun waktu 12-24 jam," ucap Sharief.

Namun, tocilizumab disebut tidak dapat diberikan kepada orang hamil dan pasien yang memiliki sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan.

Dari Ngantuk Sampai Diare, Ini Akibatnya Bila Buka Puasa Berlebihan

Saat berbuka puasa, dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang ringan di perut, contohnya seperti air putih. Ini dilakukan secara bertahap agar bisa terhindar dari berbagai permasalahan di perut setelah 13 jam berpuasa.
"Nyeri perut adalah salah satu masalah yang paling sering ditemukan di bulan Ramadhan. Itu terjadi karena kebiasaan makan yang berlebihan saat berbuka puasa," kata Dr Magdi Mohamed, dokter spesialis pengobatan darurat di Burjeel, Abu Dhabi.

Mengutip dari The National, dampak yang terjadi bisa bermacam-macam, seperti nyeri perut, muntah, radang lambung, hingga diare. Terlebih lagi jika makanan yang dikonsumsi terdiri dari gorengan dan memiliki cita rasa pedas.

Saat berpuasa, perut berada dalam keadaan 'mode tidur'. Untuk membangunkannya kembali, harus perlahan. Bisa diawali dengan mengkonsumsi segelas air putih dan makan 2-3 buah kurma.

Menurut Dr Ravi Arora, ahli penyakit dalam dan diabetologis di Rumah Sakit Khusus NMC, Abu Dhabi, jika kebiasaan berbuka puasa secara berlebihan terus berlanjut, dampaknya akan semakin besar.

"Bisa membuat kadar asam lambung meningkat, perut terasa tidak nyaman, kembung, dan gastritis. Tak hanya itu, jika yang dikonsumsi itu makanan berkalori dan karbohidrat tinggi, bisa memicu rasa kantuk, lesu, sampai kenaikan berat badan," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar