Semua parabola di Barrow tidak menghadap ke atas tapi horizontal sebab semua satelit terletak di dekat Equator. Meski fasilitas perguruan tinggi sudah disediakan di Ilisagvik College namun banyak anak muda yang pergi kuliah ke tempat lain ataupun bekerja merantau membuat kota Barrow yang penduduknya hanya 4.300 jiwa ini semakin sunyi senyap.
Tidak adanya gemerlap hiburan malam membuat penduduk malas keluar rumah kerena hawa terlalu dingin. Sudah jam setengah satu dini hari tapi diluar masih sangat terang. Fenomena midnght sun mulai tersa di sini. Meski tidak sangat terang namun suasana tengah malam seperti waktu siang saja.
Hari ini adalah hari ketiga saya berada di Barrow. Seperti sebelumnya saya bangun awal karena meja sarapan akan tutup jam sembilan pagi. Sarapan sangat berarti bagi saya supaya bisa berhemat mengingat harga makanan di sini sangat mahal.
Di penginapan ini disediakan berbagai macam roti, susu, dan sereal sudah cukup untuk mengganjal perut. Agenda saya hari ini adalah mengunjungi supermarket terbesar di Barrow. Karena lumayan jauh maka saya mau naik taksi saja. Ongkos taksi di sini jauh dekat sama saja yaitu USD 6 sekali jalan.
Sopir taksi di sini tidak mengharapkan tips tidak seperti di wilayah USA lainnya. Pekerjaan sebagai pengemudi taksi disini hampir semua dilakukan oleh penduduk lokal sehingga keramahan pun dapat segera saya rasakan.
Sebenarnya ada bus kota sebagai alternatif transportasi yang lebih murah tapi saya gak sabar untuk segera sampai. Barusan ada sebuah mini bus khusus untuk senior atau orang tua yang lewat dan meski sepi penumpang saya tidak diperkenankan untuk naik.
Alaska Commercial Company disebut sebagai perusahaan retail terbesar di Alaska yang melayani customer sejak 1867 dan tersebar di 33 kota di seluruh pedalaman Alaska. Penduduk setempat lebih mengenal dengan nama AC Value Center.
Jangan kaget jika harga makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari atau groseris di Barrow lebih mahal dibanding dengan harga-harga di wilayah USA lainnya. Sebab goods and service index di sini selalu paling tinggi di wilayah USA. Saya pun tertarik untuk berbelanja dan mengamatinya.
Hampir semua pelancong yang bertandang ke Barrow selalu saja mampir dan mengabadikan foto harga harga makanan di sini. Meski mahal tapi kan masih jauh lebih murah daripada kita harus makan di restauran.
Meskipun sudah berbelanja di AC Value Center, entah mengapa saya sangat ingin mencoba makan di Arctic Pizza yang paling terkenal itu. Harga pizza ukuran medium dan large masing-masing USD 17 dan USD 36. Jika mau minum masih harus membayar lagi.
Meski harganya mahal tetapi rasanya memang nikmat sekali dan ada kebanggaan tersendiri bisa menikmati hangatnya pizza di arctic circle. Pokoknya jika melancong ke Barrow harus siapkan budget super ekstra buat membeli makanan.
Sehabis manikmati hangatnya kelezatan pizza saya sempatkan pergi ke kantor pos untuk mengirim kartu pos bergambar beruang kutub berbagai pose dan bowhead whale buat teman- teman di Indonesia.
Saya melihat ada satu lapangan sepak bola yang tertutup salju di sini. Meski Barrow mempunyai salju yang sangat tebal namun tidak sepanjang tahun lapangan tertutup oleh salju. Sehingga pertandingan sepak bola tetap bisa dilakukan di musim panas.
Menjadi destinasi wisata favorit adalah dambaan pemerintah kota Barrow saat ini. Dengan tersedianya fasilitas yang lengkap dan beberapa tempat yang unik dan melawan arus, kini Barrow sudah banyak memikat hati pelancong kelas wahid dari penjuru dunia untuk menikmati Arctic Adventures.
Sektor pariwisata merupakan pendapatan tambahan yang menghasilkan lumayan banyak pemasukan untuk menggenjot pertumbuhan perekonomian. Pada musim spring dan panas seperti ini semakin banyak pelancong berdatangan untuk menikmati midnight sun dan festival perburuan bowhead whale yang dikenal dengan Nalukataq dengan disuguhi tarian khas penduduk Eskimo blanket toss dance.
Berbagai macam brosur tempat wisata, penginapan, dan tempat makan juga bisa didapatkan secara cuma-cuma. Bagi pelancong yang sudah bosan dengan hiruk-pikuk suasana liburan perkotaan ataupun pantai dengan view pohon kelapa bisa bertandang ke sini untuk mencari suasana berbeda sambil memperluas pengalaman.
Di Barrow memang tidak ada landscape seperti gunung es ataupun hutan dengan tumbuhan hijau yang dihiasi dengan air sungai yang gemercik mengalir tetapi kultur dan sisi kehidupan lain umat manusia yang berbeda bisa kita nikmati dan rasakan disini.
Perasaan haru saya pun datang ketika saya akan meninggalkan kota ini. Kota yang penuh dengan potensi keunikan alam dan segudang warisan budaya suku Inupiat Eskimo. Dan akhirnya melalui sebuah referendum pada Oktober 2016 nama kota Barrow secara resmi diubah kembali ke nama tradisional yaitu Utqiakvik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar