Kamis, 16 April 2020

Viral Penampakan dari Dekat Mata Memerah Akibat Menangis, Ini Kata Dokter

Ramai diperbincangkan di media sosial, sebuah foto yang menggambarkan mata memerah akibat menangis. Dalam foto tersebut terlihat banyak pembuluh darah yang membesar membuat sebagian warganet merasa takut bahkan ada yang mendeskripsikannya seperti cacing.
"Banyak bgt cacingnya," tulis seorang warganet, @sah***tn*bii, Rabu (15/4/2020).

"Ngeri tapi estetik," ucap warganet lainnya, @bi**d*mn.

Menanggapi hal ini, dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Jakarta Eye Center (JEC), Kedoya, Jakarta Barat, dr Elvioza, SpM(K), mengatakan saat menangis pembuluh darah di sekitar mata yang melebar itu berfungsi untuk menghasilkan air mata.

"Air mata itu asalnya dari pembuluh darah, karena itu untuk menghasilkan air mata yang banyak maka pembuluh darah itu melebar," kata dr Elvioza kepada detikcom, Kamis (16/4/2020).

"Jadi urat-urat merah itu adalah pembuluh darah yang melebar," lanjutnya.

Menurutnya dalam pembuluh darah itu ada kelenjar yang berfungsi untuk memproduksi air mata. Jadi ketika menangis, air mata akan dihasilkan oleh pembuluh darah dan disalurkan melalui kelenjar tersebut.

"Dari pembuluh darah nanti ada kelenjar air mata dan dari kelenjar itulah air mata keluar. Kelenjar air mata itu sumber airnya dari pembuluh darah dan pembuluh darah menyuplai air dari situ nanti keluarlah air mata," jelas dr Elvioza.

dr Elvioza juga menjelaskan ketika seseorang sudah berhenti menangis, pembuluh darah di sekitar mata akan menjadi normal kembali sehingga tidak akan terlihat memerah.

"Membesar dan melebar sesaat, ketika itu sudah selesai nanti dia normal lagi, tapi kalau ada rangsangan terus-menerus dia akan merah terus, melebar terus pembuluh darahnya," tuturnya.

Penjelasan Ahli Kemungkinan Reaktivasi Pada Pasien yang Sembuh Corona

Terjadinya banyak kasus pasien kembali positif virus Corona COVID-19 di berbagai negara membuat para ahli curiga bahwa kemungkinan terjadi reaktivasi. Reaktivasi adalah masih adanya virus dalam tubuh pasien yang tidak terdeteksi dan kembali aktif.
Menurut Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio, reaktivasi bisa terjadi karena virus Corona tak hanya hidup di saluran pernapasan saja, tetapi juga di berbagai macam organ tubuh lainnya. Sehingga ada virus yang tidak terdeteksi ketika pasien sudah dinyatakan sembuh.

"Reaktivasi itu berarti virus masih ada di dalam tubuh. Jadi di tenggorokan sudah tidak ada dan tidak terdeteksi, tapi mungkin virusnya masih ada di organ lain," kata Prof Amin kepada detikcom, Rabu (15/4/2020).

"Seperti di saluran pencernaan, urine yang walaupun jumlahnya sedikit, tetapi suatu ketika dia bisa memperbanyak diri lagi," lanjutnya.

Prof Amin juga menjelaskan virus Corona bisa kembali berkembang di dalam tubuh jika pasien tersebut mengalami masalah imunitas.

"Bisa berkembang kalau situasi memungkinkan, artinya kembali ke masalah imunitas pasiennya. Harusnya sih kalau kekebalan cukup itu tidak terjadi," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar