Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama tak mau lagi melihat Malaysia sebagai saingan pariwisata. Apa alasannya?
Dalam acara The Next Dev di Jakarta Convention Center, Sabtu (7/12/2019) Wishnutama hadir sebagai pembicara. Dirinya menyinggung soal persaingan pariwisata.
"Saya lihat nih, mohon maaf, Indonesia itu kayaknya emosi banget sama Malaysia sama Thailand, padahal ngapain mereka dijadiin saingan kita," terangnya.
Wishnutama menjelaskan, kerap kali dalam persaingan pariwisata, Indonesia dibanding-bandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Terutama, jumlah kunjungan turis.
Wishnutama pun menyebut New Zealand. Dia memberikan contoh terkait jumlah kunjungan turis per tahun di sana dan spending-nya.
"Mau kompetisi ya kerenan dikit gitu ya, kita lihat New Zealand. Mereka visitor-nya cuma 4 juta setahun, tapi spending-nya 5 ribu USD. Kalau Indonesia, spending-nya masih 1.200 USD. Kita bicara kualitas. Experience pariwisata adalah kualitas," papar Wishnutama.
Dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (7/12) kemarin malam, Wishnutama menjelaskan lebih dalam perihal tersebut. Menurutnya, kini dirinya akan membawa arah persaingan dan strategi pariwisata yang baru.
"Yang jarang orang bahas, turis yang ke Malaysia sebanyak 25 juta pada tahun lalu, itu setengahnya dari cross border atau dari perbatasan. Seperti dari Singapura, Thailand, bahkan Indonesia," terangnya.
Wishnutama menuturkan, wisatawan cross border cenderung akan menghabiskan waktu menetap yang lebih sebentar dan pengeluaran yang lebih sedikit. Dinilai hal tersebut tidak bagus untuk pendapatan negaranya.
"Begitu juga Thailand dan Singapura, memang turis yang ke sana banyak tapi juga rata-rata dari negara di ASEAN semua. Turis cross border cenderung spending-nya akan lebih sedikit dibanding dengan yang long haul," paparnya.
Oleh sebab itu, Wishnutama mau mengincar turis yang datang dari negara jauh (long haul) daripada turis cross border. Wishnutama lebih banyak mau turis dari Eropa dan Amerika yang datang ke Indonesia.
"Kalau turis long haul, mereka pasti spending-nya bakal gede seperti waktu menginap, belanja suvenir, makan di restoran, dan lain-lain. Ya masa terbang 6 jam ke Indonesia, habis itu balik lagi, nggak kan? Tapi pasti mereka mau nikmatin dulu lebih lama," ungkapnya.
Dirinya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Dirinya ingin pariwisata Indonesia menawarkan sesuatu yang beda dari yang lain.
"Turis dari cross border seperti dari Malaysia dan negara tetangga lain tentu kita perhatikan, tapi kita sekarang akan lebih meningkatkan lagi yang long haul. Kita incar turis yang jauh sekalian" tutupnya Wishnutama.
Labuan Bajo Jadi Wisata Super Premium, Wishnutama: Jangan Khawatir
Labuan Bajo di NTT jadi wisata super premium, tapi malah muncul kerisauan warga lokalnya. Menparekraf Wishnutama mengimbau jangan khawatir.
Presiden Jokowi sudah mencanangkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium. Artinya, segementasi pasarnya tidak dicampur aduk.
Labuan Bajo sendiri merupakan bagian dari 5 Destinasi Super Prioritas. Artinya, pembangunan pariwisata di sana bakal dikebut dan dimaksimalkan supaya membuat turis nyaman dan jadi ladang devisa besar untuk negara.
Namun justru, hal tersebut membuat kerisauan khususnya bagi warga lokal di Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Mereka gusar, kalau jadi super premium, bisa jadi nanti turis yang datang malah sedikit.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama angkat bicara dan menjelaskan lebih mendalam soal Labuan Bajo menjadi destinasi wisata super premium. Pertama, dia meminta masyarakat untuk tidak melihatnya setengah-setengah.
"Untuk wisata super premium ini, jangan lihat setengah-setengah. Kita harus lihat secara utuh, apa sih yang pemerintah rencanakan, bagaimana strateginya, serta jangka ke depannya seperti apa," terang Wishnutama kepada detikcom, Selasa (3/12/2019).
"Yang pasti tujuan dijadikannya Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium adalah untuk kesejahteraan masyarakat, devisa negara, dan untuk menjaga alam," lanjutnya menambahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar