Sebagai negara maju, apa sih yang tidak bisa dimiliki Jepang? Namun mereka membuat toilet bisa bersenandung karena sifat pemalu orang-orangnya.
Apa yang traveler bayangkan tentang negara Jepang? Warganya yang bersih dan on time? Negara industri yang maju? Negara dengan ribuan vanding machine? Negara dengan Ztoilet canggih? Itu semua benar.
Namun dibalik fakta itu semua, warga Jepang sejatinya punya sifat yang pemalu. Dapat dilihat dari desain toilet mereka yang tak hanya canggih, namun juga bisa bersenandung.
detikcom bersama Smartfren datang ke Jepang. Kami pun singgah diberbagai tempat dan menemukan adanya tanda 'flushing sound' di salah satu tombol toiletnya.
"Orang Jepang sangatlah pemalu. Makanya di toilet mereka ada fitur 'flushing sound' untuk meredam bunyi-bunyi saat kita buang air besar," ungkap Andi, guide yang menemani detikcom di Jepang.
Di suatu kesempatan detikcom pun mencoba menggunakan fitur flashing sound ini. Bunyinya pun sungguh riuh seperti robot yang sedang berperang. Dan fitur ini memang bisa meredam bunyi 'plung-plung' dan keriuhan saat buang air besar.
Menariknya lagi, detikcom pun terkejut karena tidak menemukan tempat sampah untuk bekas tisu toilet. Ternyata tisunya langsung dibuang dan dihanyutkan ke toilet.
"Warga Jepang orangnya juga sangat bersih dan menjaga lingkungan. Tisu toilet mereka pun sudah di desain sedemikian rupa hingga saat di masukan ke toilet, tisu langsung hancur. Makanya mereka tidak butuh tempat sampah tisu toilet," jelas Andi.
Pada saat memasuki musim dingin ini, toilet juga menyesuaikan suhu. Dudukan dan airnya akan terasa hangat.
"Pada saat musim dingin dudukan toilet otomatis jadi hangat. Begitu juga dengan air bilasnya," tutup Andi.
Hal menarik lainnya yang detikcom temukan adalah adanya huruf braile di setiap fitur toilet. Berarti orang Jepang memikirkan kecanggihan memang untuk semua kalangan.
Perjuangan Jepang Melawan Pelecehan Seksual di Kereta
Siapa yang tidak bermimpi liburan ke Jepang? Namun ternyata, Jepang yang punya banyak destinasi indah juga punya sisi kelam berupa pelecehan seksual.
Dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (3/9/2019) pelecehan seksual di transportasi umum merupakan masalah besar di Jepang. Angka pelecehan seksual di Jepang pun cukup tinggi.
Ambil contoh di tahun 2017 lalu. Data dari Kepolisian Tokyo mencatat, terjadi 2.620 kasus pelecehan seksual di transportasi umum dan paling banyak di kereta dan stasiun. Paling banyak, pelecehan seksualnya berupa meraba-raba.
Bahkan suatu penelitian di Jepang mengenai pelecehan seksual menyebutkan, hanya 10 persen wanita Jepang yang melaporkan pelecehan seksual kepada polisi. Lebih banyak, memilih diam.
Pemerintah Jepang sebenarnya tidak menutup mata perihal pelecehan seksual di kereta. Sejak 20 tahun lalu, kereta di Jepang punya gerbong kereta khusus wanita.
Belakangan ini, pemerintah Jepang pun menambah banyak imbauan dan tempat-tempat khusus bagi wanita di stasiun-stasiun dan kereta-kereta. Sebut saja tempat khusus untuk menunggu kereta bagi wanita.
Imbauan di dalam kereta berupa sticker diperbanyak. Para wanita juga diminta untuk tidak segan melaporkan kepada petugas keamanan, jika melihat ada orang-orang mencurigakan yang mau melakukan pelecehan seksual.
Tahun 2016, kepolisian Jepang meluncurkan aplikasi DigiPolice. Lewat aplikasi ini, para korban pelecehan seksual tinggal memencet aplikasinya yang terhubung dengan kepolisian dan para pengguna lain. Sehingga, penumpang yang lain bisa tahu kalau ada pelaku pelecehan seksual di dekatnya.
Sebelumnya di tahun 2011, pemerintah Jepang memberlakukan aturan khusus soal kamera ponsel. Kamera ponsel harus berbunyi!
Sebabnya, banyak pula pelaku pelecehan seksual yang memotret wanita diam-diam apalagi bagi wanita yang memakai rok. Oleh sebab itu, segala jenis ponsel tidak boleh mematikan suara kamera ponsel alias tidak bisa di-silent. Hal tersebut pun dilakukan oleh berbagai pabrikan ponsel bahkan dari luar negeri, seperti Samsung dan Apple.
Berbagai inovator di Jepang pun mengeluarkan berbagai peralatan anti pelecehan seksual. Sebut saja stempel tak kasat mata, sampai aplikasi Chikan Radar. Aplikasi tersebut bagaikan suatu peta yang menampilkan lokasi-lokasi rawan pelecehan seksual dan kapan waktu-waktu mereka beraksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar