Saat naik pesawat, kita akan mengalami turbulensi. Sebenarnya seberapa bahayanya sih turbulensi itu?
Baru-baru ini, heboh video turbulensi parah di pesawat. Dalam videonya terlihat, seorang pramugari sedang menghidangkan makanan dan minuman. Sepersekian detik, turbulensi mengguncang kabin hingga membuat pramugari itu terpental.
Makanan dan minuman yang dipegangnya juga ikut tumpah, mengenai penumpang. Waduh!
Dilansir detikcom dari Conde Nast Traveler, turbulensi merupakan hal yang wajar saat pesawat mengudara. Turbulensi adalah perubahan kecepatan aliran udara yang membuat pesawat tergoncang. Perubahan kecepatan aliran udara tersebut terjadi karena banyak faktor seperti angin, badai, kecepatan pesawat sendiri, gumpalan awan, hingga berdekatan dengan kawasan pegunungan.
Jika diibaratkan begini, turbulensi itu bagaikan lubang di jalan raya. Saat kita naik kendaraan dan menghempas lumbang tersebut, badan kita pasti tergoncang.
Yang harus diingat, kadang turbulensi terasa begitu kecil goncangannya. Namun bisa juga, goncangannya begitu besar.
Turbulensi pasti terjadi dalam suatu penerbangan pesawat, tapi penumpang jangan khawatir. Turbulensi tidak berbahaya.
Sebabnya, pilot sudah terlatih untuk menghadapi turbulensi. Pilot pun sudah tahu kapan akan terjadi turbulensi, karena mendapat informasi cuaca terlebih dulu. Pilot juga akan dengan cermat mempelajari pola cuaca di rute yang akan dilewati.
Patrick Smith, penulis 'Ask the Pilot' dan 'Cockpit Confidential' yang juga pernah bekerja sebagai pilot menjelaskan, pesawat sudah dirancang sebaik mungkin untuk menghadapi turbulensi. Kecelakaan pesawat karena turbulensi pun minim.
"Pesawat-pesawat sudah dirancang untuk menghadapi turbulensi yang keras sekalipun," katanya.
Memang, tak ayal ada penumpang yang takut turbulensi. Kadang sampai deg-degan, cemas, hingga sesak nafas yang disebabkan oleh kepanikannya sendiri.
Ron Nielsen, seorang mantan pilot dan sudah bekerja puluhan tahun di industri penerbangan memberi trik bagi penumpang yang takut turbulensi. Caranya, ganggu pemikiran Anda sendiri!
"Kalau misalnya dia biasa menulis dengan tangan kanan, coba menulis dengan tangan kiri. Atau jika biasanya suka baca novel fiksi, maka coba baca koran. Saat itulah otaknya akan bekerja ekstra keras pada apa yang dia lakukan, karena hal-hal yang belum atau jarang dilakukannya," paparnya.
Satu yang pasti, jika awak kabin menyuruh memakai sabuk pengaman (seat belt) maka sebaiknya penumpang mematuhinya. Pun jika tanda sabuk pengaman dinyalakan, Anda diharuskan untuk memakai sabuk pengaman.
Sebabnya, arahan tersebut berasal dari pilot dan dia sudah memperhitungkan akan ada turbulensi. Makanya, jadi penumpang pesawat yang baik dan patuhi segala aturan ya!
Kata Pilot soal Makna Aturan Meja Lipat dan Kursi Pesawat
Penumpang pesawat terbang senantiasa diingatkan soal kondisi meja lipat dan posisi kursi, secara khusus saat lepas landas dan pendaratan. Apa sih tujuan aturan itu?
Patrick Smith, seorang pilot yang juga penulis buku Cockpit Confidential, memberikan jawaban. Pertama adalah kenapa meja lipat kursi pesawat (tray tables) harus dalam posisi terkunci dalam kondisi tertentu seperti saat takeoff dan landing.
"Meja lipat Anda harus dalam posisi terkunci sehingga jika ada pergerakan mendadak pesawat atau kecepatan yang menurun tiba-tiba, tubuh Anda takkan tertusuk. Itu juga memudahkan proses jalur evakuasi," katanya seperti diberitakan Express.co.uk.
Ia kemudian menjelaskan mengapa penumpang pesawat sewaktu-waktu akan diminta untuk menegakkan kursi dari posisi berbaring, secara khusus dalam keadaan turbulensi atau lepas landas dan pendaratan.
"Restriksi terhadap posisi kursi menghadirkan akses lebih mudah ke lorong pesawat dan juga membuat tubuh Anda berada pada posisi yang paling aman," ucap Smith.
"(Posisi) itu mengurangi potensi cedera whiplash-style (cedera pada leher yang diakibatkan akselerasi-deakselerasi mendadak) dan mencegah Anda dari 'submarining', begitu istilahnya, di bawah ikatan sabuk pengaman," tuturnya menjelaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar