Sabtu, 14 Desember 2019

Belajar Toleransi dari Kota Suci Betlehem

Betlehem menjadi kota suci kelahiran Yesus. Penuh toleransi, suara adzan di kota ini akan diakhiri dengan bunyi lonceng gereja.

Kota Suci Betlehem adalah kota suci yang mempunyai daya tarik tinggi sebagai tujuan wisata rohani. Salah satu objek yang cukup menarik terutama pada bulan Desember menjelang natal adalah Gereja Nativity atau yang merupakan tempat kelahiran Yesus.

Gereja Nativity dikelillingi tembok dari tiga biara yaitu Orthodoks, Armain, dan Katolik Roma. Pintu masuk Gereja ini melalui pintu batu yang sempit dan rendah. Desain seperti ini fungsinya untuk mencegah perampok masuk ke gereja dengan kuda sewaktu perang salib berkecamuk.

Gereja Nativity berdekatan dengan Masjid yang dibangung pada tahun 1193 oleh Sultan Afdhal, putra dari Salahuddin al-Ayubi. Di tempat tersebut dulu Khalifah Umar RA melaksanakan shalat.

Masjid Umar didirikan di atas tanah pemberian dari Gereja Kristen Ortodoks Yunani.Antara Gereja Nativity dan Masjid Umar ada bangunan Betlehem Peace Center, dan lapangan yang saat ini ada pohon natal yang tinggi menjulang megah.

Gereja Nativity selain sangat sakral juga sangat unik. Di Gereja yang menjadi tempat kelahiran Yesus ini dihiasi dengan ornamen berwarna emas yang sangat mengagumkan.

Jika pengunjung ingin memasuki gua tempat kelahiran Yesus maka harus melalui pintu sempit sekaligus menuruni sejumlah anak tangga secara bergiliran. Di tempat lahirnya Yesus terdapar bintang perak yang bertulisan bahasa Latin "Hic de Maria Virgine Jesus Cristus Natus est" yang artinya Di Sinilah Yesus Kristus Anak Perawan Maria Dilahirkan.

Pada saat penulis mengunjungi Gereja Nativiti (6 Desember 2019) pegunjung sangat ramai. Dan dari atributnya nampak bahwa pengunjung bukan hanya umat bergama Kristen atau Katolik tetapi juga umat agama lain. Bahkan suara azan dari Masjid Umar selalu diakhiri dengan lonceng Gereja. Suasananya sangat damai.

Kota Suci Betlehem adalah kota dengan toleransi beragama yang sangat baik. Masing-masing umat menjalankan agamanya dengan khusuk tanpa merasa terganggu dengan ritual agama lain. Sukacita dirasakan oleh seluruh masyarakat pada saat hari raya keagamaan. Toleransi umat beragama di Betlehem ini yang patut diteladani.

Keindahan Pantai Seger Saat Festival Bau Nyale

Festival Bau Nyale sudah menjadi acara tahunan warga Lombok. Saat festival mulai, Pantai Seger yang gelap akan tampak indah dengan pendar senter.

Berburu Nyale tak lepas dari kisah Putri Mandalika, seorang putri raja di pulau Lombok yang rela menceburkan dirinya ke lautan untuk menghindari pertumpahan darah antar pangeran dari berbagai kerajaan yang ingin mempersuntingnya dan oleh masyarakat Sasak Lombok dipercaya menjelma menjadi Nyale.

Tradisi ini dilakukan secara turun temurun setiap tahun menurut perhitungan penanggalan suku Sasak yaitu pada hari ke-20 setelah purnama di bulan ke-10.

Semakin banyak Nyale yang keluar dari laut maka dipercaya membawa keselamatan dan kesejahteraan. Selain untuk di konsumsi, Nyale juga dipercaya dapat menyuburkan lahan pertanian dengan cara meyebarnya di lahan tersebut.

Berbekal kepercayaan tersebut, masyarakat setempat selalu menyambut tradisi ini dengan gembira dan beramai-ramai untuk berburu di sepanjang pantai selatan, timur dan tengah pulau Lombok dan setiap tahunnya kegiatan ini dipusatkan di Lombok Tengah, tepatnya di pantai Seger.

Menjelang dini hari, berbekal lampu sederhana dan jaring berbagai bentuk, ribuan orang baik laki-laki dan perempuan dari beragam usia mulai turun ke laut untuk memulai perburuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar