Selasa, 10 Desember 2019

Pernyataan Achmad Zaky Usai Mundur Sebagai CEO Bukalapak

Achmad Zaky resmi mengundurkan diri sebagai CEO Bukalapak. Dalam pernyataannya, Zaky mengungkapkan rasa bangga telah membangun Bukalapak hingga berkontribusi terhadap para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

"Kami memulai Bukalapak dengan semangat pribadi untuk menciptakan dampak positif bagi UMKM. Saya bangga dalam waktu 10 tahun, Bukalapak dikenal di peta dunia sebagai e-Commerce Indonesia yang terkemuka," ujar Zaky dalam pernyataannya, Senin (9/12/2019).

Bukalapak didirikan sejak 10 Januari 2010, di mana Achmad Zaky bersama Muhammad Fajrin Rasyid dan Nugroho Herucahyono berperan penting dalam kelahiran startup e-commerce ini.

Sekarang, Bukalapak jadi salah satu startup bergelar unicorn alias valuasi di atas USD 1 miliar. Selain Bukalapak, level unicorn di Indonesia ini dihuni Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Ovo.

Perubahan pucuk kepemimpinan Bukalapak ini terhitung efektif pada tanggal 6 Januari 2020, sebagai sebagai kelanjutan dari rencana jangka panjang perusahaan memasuki dekade kedua dan dalam rangka membangun bisnis e-commerce yang berkelanjutan (sustainable).

Implementasi dari rencana jangka panjang ini telah dimulai sejak bulan Oktober 2016 dengan penunjukan Willix Halim sebagai Chief Operating Officer (COO) Bukalapak untuk memperkokoh tim manajemen dengan individu-individu yang memiliki keahlian khusus dan berpengalaman.

Adapun pengganti Zaky di Bukalapak adalah Rachmat Kaimuddin yang nantinya berperan sebagai CEO.

"Sekarang, kami mengajak Rachmat bergabung dengan Bukalapak karena kepemimpinannya bisa mengarahkan Bukalapak ke tingkat yang lebih hebat lagi. Saya percaya Rachmat adalah orang yang tepat, bagian dari tim yang tepat, di posisi yang tepat, dan datang pada waktu yang tepat," kata Achmad Zaky.

Upaya Bukalapak Go International

Dengan fitur BukaGlobal yang telah diluncurkan beberapa waktu silam, Bukalapak coba memudahkan pelapaknya untuk berjualan di negara lain. Saat ini, mereka masih terus berupaya mengembangkannya.

"BukaGlobal baru start dan belum lama jadi baru coba-coba tapi sudah berpartner di Singapore, Brunei, Taiwan, Hongkong, dan Malaysia jadi UMKM yang sudah jadi lapak bisa berpotensi jual barangnya ke negara tersebut," jelas Even Alex Chandra Head of Public Policy & Government Relations Bukalapak, Kamis (5/12/2019), di seminar Global Sources Electronic Indonesia, Jakarta Convention Center (JCC).

Syaratnya pelapak harus memberikan yang terbaik dari segi kualitas barang dan pelayanannya, contohnya apakah saat si pelapak bisa cepat ketika membungkus barang. Sementara, barang yang bisa masuk kriteria juga baru di DKI Jakarta dan Tangerang.

"Syarat lainnya, tergabung komunitas Bukalapak, jadi nggak semua 5 juta pelapak tapi yang berkualitas yang bisa masuk global apa nggak. Ini upaya global, bisa jadi mercusuar, orang-orang bisa melihat yang benar-benar bagus dari Indonesia," sambungnya.

Jika ingin menjual keluar negeri, Anda harus membukanya lewat fitur BukaGlobal. Bukalapak juga menjamin pembeli luar negeri dari biaya-biaya tambahan dan ini adalah produk prioritas yang difokuskan:

1. Kosmetik halal
2. Busana muslim
3. Makanan dan bahan makanan
4. Keperluan rumah tangga
5. Minyak herbal, jamu
6. Kerajinan tangan

Untuk urusan legal atau tidaknya barang juga sudah dipikirkan oleh Bukalapak dan dibantu oleh Janio sebagai mitra logistik.

"Kalau di kita Buka Lapak jadi satu fitur sendiri, kalau misalnya barangnya yakin legal atau tidak, Bukalapak kan sifatnya platform buat jual dan beli, kita partnernya sama Janio, jadi akan urusan paperworks ini legal atau tidak mereka yang bantu," tutupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar