Suara deburan ombak dari kejauhan serona musikal alam yang menggoda panca indra. Sungguh Tanjung Bira gambaran nyata pantai penuh pesona yang selama ini menjadi destinasi wisata yang saya impi-impikan. Di sini saya puaskan diri bergumul dan menyibak butiran-butiran pasir berwarna putih yang teramat lembut selembut tepung terigu, menghampar rata seluas mata memandang.
Saya tak membuang kesempatan menikmati beningnya air laut di pesisir pantai yang membentuk degradiasi warna hijau (tosca) kebiru-biruan yang teramat eksotis, ketika terkena pantulan sinar matahari serupa lautan kristal yang terpendam dalam air. Sungguh pemandangan alam yang tak hanya indah tapi juga seksi.
Tak sekedar menghanyutkan diri oleh keindahan alam dan berburu titik-titik terkece untuk berpotret-potret ria, di sini pengunjung bisa diving dan snorkeling, ada tempat penyewaan alatnya, hanya saja saya belum sempat mencobanya.
Jika ingin menikmati pesona pantai pada pagi, sore, atau malam hari, buang jauh rasa kekhawatiran masalah tempat menginap karena di lokasi tidak jauh dari pantai banyak sekali lokasi penginapan semacam villa, bungalow, homestay, bahkan juga hotel.
Untuk memesan hotel jangan lupa colek langsung di layanan tiket.com. Dijamin no ribet. Booking jauh-jauh hari juga bisa kok. Pada musim liburan seringnya penginapan diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin sekedar refresing, menekuni hobby, atau menerapi diri dari kejenuhan di sela kesibukan kerja atau kegiatan kuliah/sekolah.
Jika tidak ingin repot membawa bekal atau sedang berwisata spontan jangan takut akan kelaparan, karena di tempat ini banyak pedagang aneka makanan dan minuman. Tinggal siapin dokunya saja.
Tidak terasa hari bergulir menuju sore, tapi dua kaki rasa berat sekali meninggalkan tempat yang yang dipenuhi kemolekan tanpa cacat ini. Tapi saya berjanji dalam diri dan berdoa, semoga suatu saat ada peluang datang ke sini lagi.
"Ke Tebing Apparalang sekarang, ya", ajak Bu Rika, memecah lamunan saya.
Saya mengacungkan ibu jari seraya berseru, "Siap, Bu Guru!"
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Tidak seperti jalanan yang kami lalui sewaktu ke pantai Tanjung Bira, rute ke Tebing Apparalang kondisi jalan cenderung berkelok-kelok, menanjak, hingga turunan tajam dan bergeronjal. Sungguh memompa jiwa petualang saya yang sedang mekar-mekarnya.
Angin sepoi-sepoi mengibarkan hijab yang saya kenankan. Kurang lebih 30 menit kami sampai ke lokasi wisata yang disebut Tebing Apparalang. Hanya dengan membayar parkir 5000 untuk roda dua dan 10.000 sekelas mobil, pengunjung sudah bisa sepuasnya menikmati pemandangan aduhai di kawasan ini.
Tebing Apparalang ini menampakkan panorama pantai dengan rona biru berpadu tosca serupa Pantai Bira dengan tebing curam dan bebatuan karang menambah pancaran gagah destinasi ini.
Ada sebuah anjungan yang memudahkan pengunjung untuk lebih dekat dan bisa bermesraan langsung dengan jernihnya air laut, cukup menuruni tangga kayu untuk mencapai ke sana. Kita juga dibolehkan terjun berenang, tapi harus hati-hati sebab banyak batu karang tajam yang siap mengenai kaki jika tidak mawas diri.
Kelelahan dan perjuangan selama perjalanan menuju ke tempat ini sungguh terbayar lebih dari sekedar kontan, tapi mendapatkan bonus lebih yakni menikmati alam ciptaan Tuhan yang luar biasa memukau dan sangat menakjubkan secara langsung dan mengabadikannya untuk kenang-kenangan.
Enggan rasanya meninggalkan spot-spot yang di mata saya tidak ada secuilpun nilai minusnya. Tapi apa daya hari yang berangsur gelap memaksa saya segera mengalihkan pandangan dan beranjak pulang. Beberapa bidikan berhasil saya dokumentasikan dan tersimpan rapi di galeri smartphone saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar