Raja Ampat tak hanya punya gugusan pulau karang yang cantik. Satu lagi, Kalibiru si sungai yang berwarna biru!
Kata orang, Raja Ampat itu adalah serpihan surga yang jatuh ke bumi, karena saking indahnya. Mungkin ada benarnya, tidak percaya? Coba tengok salah satu spot terindah di sini, namanya Kalibiru.
Kenapa dinamakan Kalibiru? Karena warna air di sungai itu berwarna biru jernih, alami, tanpa pewarna buatan ataupun hasil limbah pabrik. Warga lokal menyebut tempat ini Warabiae, yang artinya sungai berwarna biru jernih.
Memang belum setenar Wayag atau Piaynemo, tapi Kalibiru ini punya keindahan khas tersendiri. Kalibiru ini terletak di pedalaman hutan Papua Barat yang masih perawan. Kurang lebih butuh waktu tempuh 1 jam dari Waisai dengan speedboat. Setelah itu kalian diharuskan trekking melewati hutan selama kurang lebih 15 menit dari muara tempat speedboat bersandar.
First impression teman-teman saya saat liat Kalibiru?
"Wooow, so magical!" kata Agung, 22 tahun.
"Seger!" kata Hendika, 23 tahun.
"Unbelievable, gue langsung terpana melihat keindahan Kalibiru. Walau cuma dari foto," kata Charles, 20 tahun padahal dia belum pernah ke sana.
Seindah itukah? Iya, indah banget! Bahkan media asal Inggris, The Sun pernah mengulas tentang kalibiru di tahun 2018 lalu. Mereka menulis Kalibiru sebagai 'Beautiful Turqoise River in Indonesia shines so bright it looks like it has underwater lighting'.
Saya sendiri ternganga saat pertama kali lihat. Benar-benar jernih sampai bisa lihat ke dasarnya. 10 Detik awal setelah lihat, pasti langsung terbesit di pikiran untuk nyebur.
Percayalah guys, airnya itu seger seperti kata si Hendika tadi. Kalau nggak percaya sliahkan datang dan coba masukin botol minuman ke dalamnya. Hasilnya air botol itu langsung berembun kayak habis masuk kulkas.
Tapi jangan ditinggalin ya botol sama sampah kalian di sana. Kalibiru ini salah satu tempat wisata yang paling perawan yang pernah saya kunjungi. Belum ada ulah jahil tangan manusia yang merusak di sana. Lets keep it that way.
Ini Pulau Paling Utara di Kepulauan Seribu
Kepulauan Seribu bisa jadi opsi destinasi untuk menghabiskan weekend. Coba mampir ke Pulau Sebira yang paling Utara di Kepulauan Seribu.
Pulau Jaga Utara merupakan nama lain dari Pulau Sebira. Pulau Sebira merupakan pulau paling utara di Kepulauan Seribu yang masih dalam provinsi DKI Jakarta. Dengan luas sekitar 8 ha pulau ini dihuni oleh sekitar 100-an kepala keluarga, mayoritas warga Pulau Sebira adalah Suku Bugis.
Penduduk Pulau Sebira sangat ramah dan hangat dalam menyambut setiap pelancong yang datang berwisata. Untuk berwisata ke Pulau Sebira kita bisa mengunakan kapal cepat dari dishub DKI dengan jadwal pemberangkatan setiap hari pukul 09.00 dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke. Sedangkan jadwal kapal dari Pulau Sebira ke Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke setiap hari pukul 13.00.
Bagi teman teman yang ingin mengunjungi Pulau Sebira dapat membeli tiket di Pelabuhan Kali Adem, loketnya sendiri dibuka mulai pukul 08.00 dengan harga tiket Rp 74.000 untuk sekali jalan. Datanglah lebih pagi untuk mengantre tiket karena Dishub DKI hanya menjual tiket sebanyak tempat duduk yang tersedia di kapal.
Waktu tempuh dari Pelabuhan Kali Adem ke Pulau Sebira kurang lebih selama 2,5 jam, tergantung dari kondisi cuaca serta lamanya kapal bersandar di Pulau Kelapa (Rute III dari Muara Angke ke Pulau Kelapa dilanjutkan ke Pulau Sebira). Pulau Sebira belum memiliki homestay untuk menginap, tapi para wisatawan tidak perlu risau karena kita bisa menyewa kamar milik penduduk lokal yang ramah dan bersahabat dengan wisatawan.
Di Pulau Sebira terdapat mercusuar yang cukup tua. Di atas pintu mercusuar terdapat tulisan berbahasa Belanda serta penanda tahun yang tertulis 1869. Mercusuar ini sampai sekarang masih berfungsi dan terawat dengan cukup baik. Karena letaknya di ujung utara Kepulauan Seribu, membuat pulau ini relatif sepi dari wisatawan serta masih memiliki laut yang sangat bersih.
Selain bersnorkling kita bisa bersantai dan berkunjung ke pusat penangkaran serta konservasi penyu. Jika hobi memancing, pulau ini juga tidak boleh dilewatkan. Penduduk sekitar menuturkan, adanya kapal dari Dishub DKI yang rutin setiap hari cukup banyak mendatangkan para pelancong yang hobi memancing, terlebih di akhir pekan.
Pengunjung yang hobi mancing sudah menyiapan peralatannya di pinggir pelabuhan untuk memancing. Tidak perlu menyewa kapal untuk pergi ke area yang dalam, di pingggir pelabuhan pun bisa mendapatkan ikan-ikan yang cukup besar.
Jika lapar? Tenang, sudah banyak tersedia warung yang menyediakan makanan untuk bersantap maupun mie instan. Yang tidak boleh dilupakan, jangan lupa mengunjungi 'pohon galau,' pohon yang tumbuh menyendiri ke arah lautan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar