Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bertemu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Kedua sahabat lama ini bertemu di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman dan Investasai.
Usai pertemuan, Luhut dan Prabowo keluar barsama menuju lobi Kemenko Kemaritiman. Nampak pula Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin jalan bareng Luhut dan Prabowo di Kemenko Kemaritiman.
Saat ditanya soal isi pertemuan, Luhut enggan banyak komentar. "Makan siang saja," jawab Luhut sambil berjalan menuju mobilnya.
detikcom mencoba mengkonfirmasi langsung ke Ngabalin soal pertemuan yang dihadirinya bersama Luhut dan Prabowo. Ngabalin menyatakan itu hanya pertemuan makan siang biasa.
Katanya, Luhut dan Prabowo sudah lama tidak makan siang bareng. Menurutnya, tidak ada hal penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
"Beliau berdua sudah lama nggak makan siang. Jadi pertemuan siang tadi makan siang saja dan memang sudah lama nggak jumpa untuk agenda seperti lunch," ungkap Ngabalin lewat pesan WhatsApp kepada detikcom.
Usai pertemuan, Ngabalin ikut mendampingi Luhut menuju Istana Negara untuk rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.
"Setelah itu saya mendampingi Pak Menko menuju istana untuk ratas dengan Bapak Presiden," kata Ngabalin.
Luhut Beri Aturan Main ke Edhy Prabowo Tangani Kapal Eks Maling Ikan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan hari ini memanggil Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ke kantornya. Pertemuan tersebut membahas nasib kapal maling ikan ke depan.
Luhut mengatakan sudah memberikan aturan main tentang status bekas kapal maling ikan kepada Edhy. Hal ini terkait keinginannya yang menginginkan kapal tersebut untuk dihibahkan kepada orang yang membutuhkan.
"Kapal tadi kita bicara semua biarlah Pak Edhy buat studi dengan timnya. Tapi kita sudah jelaskan rambu-rambu bermain," ucap Luhut di kantornya, Selasa (19/11/2019).
Rambu-rambu bermain yang dimaksud Luhut adalah bagaimana aturan terkait penghibahan kapal itu bisa memberikan dampak positif bagi semua pihak.
"Jadi rambu-rambu bermain itu bagaimana nelayan bisa enak, terus Indonesia juga dapat revenue yang bagus, laut terpelihara baik, kemudian hubungan dengan negara-negara lain bagus," katanya.
Lebih lanjut, Luhut bilang bahwa semua itu dibutuhkan pengawasan dan perencanaan yang matang.
"Tapi ujung-ujungnya itu perencanaan yang matang dan pengawasan. Jadi pengawasan dan perencanaan yang matang," jelasnya.
Sebelumnya, Edhy mengatakan pihaknya tidak akan asal-asalan menyerahkan kapal maling ikan kepada penerima kapal. Edhy tidak mau, kapal yang sudah dihibahkan malah mangkrak atau malah dijual.
"Ya nanti dulu makanya kita liat kan yang jelas kami lagi menyiapkan siapa penerimanya, siapa yang akan menjadi tujuan. Begitu kita serahkan, kita harus cek sebulan dua bulan ke depan kapalnya menghasilkan nggak? Jangan-jangan mangkrak lagi atau malah dijual," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar