Rabu, 11 Desember 2019

Bukan Cuma Bugil, Ini Tata Cara Menikmati Onsen di Jepang

Pemandian air panas alami atau onsen menjadi bagian dari budaya Jepang. Tapi tahukah traveler, ada beberapa hal yang wajib dan dilarang saat mandi di onsen?

Onsen atau pemandian air panas menjadi salah satu atraksi di Negeri Sakura. Onsen menjadi menarik karena pengunjung harus berendam tanpa baju atau telanjang.

Tak sembarang nyebur, rupanya onsen memiliki tata cara agar bisa dinikmati maksimal. Berikut detikcom rangkum untuk traveler:

1. Telanjang

Ini adalah peraturan dasar yang harus diikuti jika ingin menikmati onsen. Namun kini ada banyak juga onsen yang memperbolehkan pengunjungnnya untuk menutup badan dengan handuk.

2. Mandi

Sebelum masuk ke kolam pemandian, akan disediakan tempat khusus untuk mandi. Pengunjung harus mandi terlebih dahulu di tempat tersebut. Walau pun traveler sudah mandi sebelum berangkat ke pemandian, akan disarankan untuk mandi kembali.

Setelah selesai berendam, traveler pun diharapkan untuk mandi kembali. Sehingga traveler merasa segar dan bugar.

3. Hindari kontak mata

Setelah mandi, traveler bisa masuk ke dalam kolam pemandian. Namun hindarilah kontak mata kepada sesama pengunjung. Ini bisa membuat mereka tidak nyaman dan tak segan-segan untuk naik dari kolam.

4. Jangan bawa benda berharga

Biasanya onsen akan menyediakan yukata sebagai pakaian ganti. Setelah itu, semua barang harus ditinggal di loker yang disediakan. Supaya lebih maksimal, usahakan tidak membawa barang berharga ke dalam pemandian. Kehilangan benda berharga tidak akan menjadi tanggung jawab pengelola onsen.

5. Dilarang foto

Rasanya mengasyikan bisa mengabadikan momen liburan dan mencoba onsen. Tapi jangan coba-coba untuk berfoto di onsen, karena hal tersebut dilarang. Hal ini dapat mengganggu kenyamanan penggunan onsen lain dan bisa bikin kamu kena tegur, bahkan sanksi.

6. Tato

Karena identik dengan mafia dan gengster, pengunjung yang punya tato dilarang untuk mandi di onsen. Pengelola onsen menerapkan peraturan ini supaya terhindar dari konflik.

Namun ada beberapa onsen yang memperbolehkan pengunjung bertato. Akan lebih baik kalau traveler mencari tahu terlebih dahulu sebelum berkunjung.

7. Ruangan terpisah

Pengunjung pria dan wanita akan dipisah saat berendam di onsen. Traveler yang bingung dengan ruangannya bisa bertanya kepada staff onsen. Kalau salah masuk ruangan, bisa-bisa traveler dimaki habis-habisan oleh pengunjung di dalam ruangan. Jadi, jangan sampai salah ya...

Seperti Ini Perayaan Rasa Syukur Orang Jepang

Sebagai negara maju yang tak lupa akan tradisi budaya, Jepang kembali merayakan festival Shinto. Inilah perayaan rasa syukur dan suka cita.

Musim dingin di Jepang tak mengurangi kemeriahan festival malam itu. Kembang api menyala terang, lentera-lentara terbang menutupi bukit dan pusat kota diiringi tangisan orang-orang yang berteriak "washoi, washoi". Malam itu menjadi puncak Festival Shinto yang telah berevolusi dari ucapan syukur atas hasil panen menjadi pertemuan setahun sekali antara dua dewa lokal.

Festival Shinto yang disebut sebagai Chichibu Night Festival telah berusia lebih dari 1000 tahun. Festival ini merupakan salah satu dari tiga festival paling terkenal di Jepang.

Ikon dari Festival Shinto adalah pelampung besar yang ditarik keliling kota. Pelampung yang tingginya mencapai 7 meter dengan berat hingga 15 ton itu ditarik menggunakan roda kayu besar oleh ratusan penduduk berpakaian tradisional. Mereka mengenakan ikat kepala, legging hitam, dan jaket katun tebal yang berhias karakter Jepang. Arak-arakan itu semakin meriah dengan tabuhan drum, tiupan peluit, dan nyanyian yang meriah.

Dilansir dari Associated Press, Selasa (10/12/2019), Shinto merupakan kepercayaan asli Jepang yang telah berusia ratusan tahun. Kepercayaan animisme ini mengakui adanya ribuan 'kami' atau roh yang menghuni alam, seperti hutan, sungai, dan gunung atau arwah nenek moyang. Para penganutnya didorong untuk hidup dalam harmoni dengan roh yang dipercaya bisa membantu mereka.

Menurut imam kepala Kuil Chicibu, Minoru Sonoda, festival yang berlangsung selama dua hari ini berakar dari tradisi lama penduduk desa yang bersyukur pada dewa gunung atas bantuannya selama musim tanam dan panen. Mantan pengajar studi religi dari Universitas Kyoto itu juga menjelaskan bahwa pada 2016, UNESCO telah menetapkan festival ini sebagai warisan budaya tak benda.

"Ini adalah waktu untuk merayakan karunia alam," kata Sonoda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar