Kamis, 18 Juni 2020

Jadi Korban Cyberbullying, dr Tirta Curhat Sempat Alami Depresi

Beberapa waktu lalu foto dr Tirta Mandira Hudhi di salah satu restoran cepat saji di kawasan Jakarta Selatan viral di media sosial. Karena kejadian itu juga, dokter sekaligus influencer gaya hidup ini mengalami cyberbullying selama berhari-hari oleh para netizen.
Perasaan itu pun ia curhatkan melalui akun Twitter pribadi miliknya, Rabu (17/6/2020).

"Habis ini saya akan angkat suara mengenai mental health akibat cyberbullying. Saya dihujat tiga hari ramai-ramai, untung saya nggak bunuh diri. Bukan berarti karena ini sosmed Anda bisa memaki sesuka hati dan berkata 'cie baperan'," tulis dr Tirta dalam tweetnya.

Namun, kini dr Tirta mengaku sudah merasa jauh lebih baik setelah mendapat dukungan dari teman-teman seprofesinya.

"Untung teman-teman dokter menguatkan, jadi saya nggak sampai depresi berat," kata dr Tirta melalui pesan singkat kepada detikcom, Kamis (18/6/2020).

"Kalau ada manusia salah terus dibully habis-habisan dengan kata-kata kotor, itu bisa berdampak sangat buruk ke depannya. Antara dia ikut-ikutan atau malah jatuh ke fase depresi," lanjutnya.

Cuitannya tersebut pun menuai berbagai respons dari para netizen. Ada yang mendukung dan memberi semangat, tapi ada juga yang tetap menyindir dr Tirta.

"Sabar bang semua pasti ada hikmahnya. Kalau emang nggak ada hikmahnya, berarti emang lagi apes aja," tulis @ho**a*ge*e.

"Hmm waktu Anda maki-maki orang lain gara-gara nggak mematuhi anjuran social distancing, mereka juga dibully lho sama netizen," tulis @je**w*k.

Peneliti Jepang Temukan Virus Corona di Air Limbah Pabrik

Peneliti di Jepang mengkonfirmasi adanya virus Corona di air limbah pabrik. Peneliti menyebut bahwa metode penemuan ini nantinya bisa menjadi sinyal wabah di masa depan.
Dikutip dari laman The Star, sebuah studi menguji air dari empat pabrik pengolahan limbah di prefektur Ishikawa dan Toyama di Jepang bagian barat. Menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Prefektur Toyama, Universitas Kanazawa dan Universitas Kyoto, dari 27 sampel yang diuji, 7 positif virus Corona COVID-19.

Temuan ini mencerminkan studi yang serupa di Australia, Amerika Serikat, dan Eropa. Pakar kesehatan masyarakat mengatakan pengambilan sampel seperti itu dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah orang yang terinfeksi di suatu wilayah tanpa menguji setiap orang.

"Pengujian air limbah bisa digunakan sebagai sistem peringatan dini untuk mengingatkan orang tentang berlangsungnya transmisi penyakit di antara masyarakat yang mungkin tak disadari," kata Yuki Furuse, seorang profesor dari Universitas Kyoto.

Jepang saat ini sedang melakukan modifikasi strategi pengujian COVID-19 untuk bersiap dengan adanya kemungkinan gelombang kedua. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa tes antibodi dari hampir 8.000 orang menunjukkan tingkat infeksi corona 0,1 persen di Tokyo, 0,17 persen di Osaka, dan 0,03 persen di pedesaan Prefektur Miyagi.

Kementerian Kesehatan Jepang juga menyetujui penggunaan tes antigen untuk mengkonfirmasi kasus negatif daripada tes polymerase chain reaction (PCR).

Tes antigen yang diproduksi oleh anak perusahaan Miraca Holdings Inc dapat menunjukkan hasil dalam waktu 10-30 menit. Lebih cepat bila dibandingkan dengan tes PCR yang bisa memakan waktu hingga 6 jam.
https://nonton08.com/cast/abhishek-khanna/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar