Setelah pesanan chipnya ditolak Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), nasib chip buatan Huawei tampaknya bakal diselamatkan oleh Samsung. Begini penjelasannya.
TSMC terpaksa menolak pesanan chip HiSilicon itu karena pemerintah Amerika Serikat menerapkan aturan impor baru, yang melarang perusahaan pengguna mesin dan teknologi buatan AS untuk berbisnis dengan Huawei, sekalipun perusahaan tersebut bukan asal AS.
Padahal anak usaha Huawei yang bernama HiSilicon bergantung pada TSMC untuk memproduksi chipnya, termasuk chip bermacam seri chip Kirin yang dipakai di ponsel buatan Huawei, dan tentunya chip yang dipakai di berbagai perangkat jaringan mereka.
Untungnya, Samsung tak seperti TSMC, mereka punya sejumlah lini produksi yang memakai teknologi pembuat chip dari Jepang dan Eropa untuk memproduksi chip 7nm, demikian dikutip detikINET dari Phone Arena, Minggu (14/6/2020).
Saat ini Samsung dan Huawei dikabarkan tengah berdiskusi untuk membicarakan kemungkinan pembuatan chip untuk perangkat jaringan 5G buatan Huawei. Saat ini Huawei memang sudah punya kontrak untuk memproduksi 600 ribu BTS 5G yang menggunakan chip HiSilicon yang seharusnya dibuat oleh TSMC.
Tak cuma Samsung, Huawei pun disebut sudah menyerahkan sejumlah pesanan chipnya ke SMIC, perusahaan pembuat chip asal China. Namun sayangnya teknologi pembuatan chip buatan SMIC masih tertahan di 14nm, jauh dari TSMC.
SMIC berencana meningkatkan untuk meningkatkan kemampuan produksinya ke chip 7nm pada akhir 2020 ini. Namun untuk mewujudkan rencana itu mereka juga harus mendapat lisensi dari AS.
China Dinilai Sulit Balas Dendam Lewat Apple
Tekanan terus menerus yang dihadapi Huawei dari pemerintah Amerika Serikat membuat China ingin melakukan perhitungan. Apple yang banyak bergantung ke Negeri Tirai Bambu kemungkinan jadi sasaran, tapi hal itu dinilai sulit dilakukan.
Dikutip detikINET dari CNBC, itu karena Apple punya hubungan baik dengan Beijing. Selain itu melalui mitra manufaktur seperti Foxconn, Apple membuka ratusan ribu lapangan pekerjaan. Jika Apple dilumpuhkan, akibatnya bagi ekonomi China pun bisa runyam.
Seperti diberitakan sebelumnya, media pemerintah China, Global Times, bahkan memberitakan terang-terangan bahwa sasaran China adalah Apple. Disebutkan bahwa perusahaan AS seperti Apple akan diinvestigasi dan akan mendapat pembatasan tertentu.
Dikatakan bahwa Apple dan juga perusahaan teknologi lain semacam Qualcomm dan Cisco sangat bergantung pada pasar China. Perusahaan-perusahaan AS itu akan terus diperiksa. Akan tetapi bisa jadi hal itu hanya gertakan.
Pasalnya jika terjadi apa-apa, Apple bisa saja merelokasi pabrik ke negara seperti Vietnam atau India. Tahun silam, Apple sudah uji coba produksi Airpods di Vietnam. Mereka juga pernah menyarankan para pemasok komponen memindahkan 15 sampai 30% produksi dari China ke Asia Tenggara.
"China sudah merasakan ancaman di mana perusahaan semacam Apple ingin mendiversifikasi basis manufakturnya," kata Neil Shah, Direktur Riset Counterpoint Research.
"Jadi akan runyam jika China menyasar Apple dan juga secara tidak langsung Foxconn, karena malah akan mempercepat perpindahan manufaktur keluar China," tambahnya.
"Apple punya kontribusi besar sekali secara langsung ataupun tidak langsung kepada ekonomi China. Jadi Beijing akan berpikir dua kali sebelum mengincar Apple," pungkas Shah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar