Selasa, 14 Juli 2020

Bayi Usia 17 Hari Jadi Pasien Termuda yang Sembuh dari Virus Corona Tanpa Obat

Bayi usia 17 hari telah pulih dari virus corona. Sejauh ini, ia dilaporkan menjadi pasien termuda yang sembuh dari virus corona COVID-19 tanpa obat.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu telah meninggalkan rumah sakit pada hari Jumat (21/2) setelah pulih dengan sendirinya tanpa bantuan obat-obatan.

Dikutip Daily Mail dari People's Daily, sebelumnya pasien dipindahkan dari Rumah Sakit Anak di Wuhan tak lama setelah lahir. Bayi yang diberi nama Xiao Xiao awalnya mengalami infeksi pada sistem pernapasannya dan kerusakan miokard ringan atau cedera otot jantung menurut dokter yang merawatnya.

Karena gejalanya yang tidak parah, dokter memutuskan bahwa Xiao tidak perlu diberikan antibiotik dan menunggu sistem imunnya sendiri untuk mengatasi virus.

"Dia tidak kesulitan bernapas, tidak batuk atau demam. Oleh karena itu kami hanya memberikan perawatan medis untuk kondisi miokardnya," tutur dr Zeng Lingkong, direktur Departemen Neonatologi di rumah sakit tersebut.

Kemudian pada Jumat sore, Xiao menjalani tes pemeriksaan virus corona. Hasilnya terbukti negatif dalam tiga tes asam nukleat berturut-turut sehingga ia diizinkan pulang.

"Dia sekarang bebas dari virus corona dan juga penyakit jantungnya. Bahkan dia tumbuh lebih besar dan gemuk saat dirawat di rumah sakit," pungkas dr Zeng.

Sebelumnya, Xiao dikabarkan terinfeksi virus corona dari sang ibu. Ia adalah pasien termuda yang terkonfirmasi virus corona 30 jam setelah waktu kelahirannya.

Wabah Virus Corona Meluas, Olimpiade Tokyo 2020 Terancam Batal

Ajang olahraga internasional Olimpiade Tokyo 2020 yang rencananya diadakan pada Bulan Juli kini terancam batal. Alasannya karena situasi wabah virus corona (COVID-19) meluas, termasuk di Jepang yang jadi tuan rumah.
Anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC), Dick Pound, menyebut keputusan final tentang Olimpiade Tokyo 2020 kemungkinan akan keluar sekitar bulan Mei. Selama itu panitia akan menunggu perkembangan apakah dunia mampu mengendalikan penyebaran virus.

Dick menyebut pelaksanaan olimpiade tidak mungkin dipindah atau ditunda. Alasannya karena banyak persiapan yang diperlukan.

"Anda tidak bisa begitu saja menunda acara sebesar olimpiade. Ada banyak benda bergerak, begitu banyak negara, musim, dan televisi. Jadi Anda tidak bisa bilang 'oke kita lakukan di bulan Oktober saja,'" kata Dick seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (26/2/2020).

"Hanya ada beberapa tempat di dunia yang bisa menyiapkan fasilitas sesingkat itu," lanjutnya.

IOC disebut akan mengambil keputusan final setelah berkonsultasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kasus COVID-19 di Korea Selatan Capai 1.100, Pengikut Gereja Akan Jalani Tes

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) mengkonfirmasi, kasus virus corona di Korea Selatan sudah mencapai 1.100 per Rabu (26/2). Jumlah ini terus bertambah 37 hari setelah kasus pertama dikonfirmasi pada Januari lalu.
Dikutip dari Yonhap News Agency, pasien kasus COVID-19 ini menyebar di beberapa daerah di Korea Selatan, di antaranya Daegu, Gyeongsang Utara, Cheongdo, dan Busan. Sekitar 80 persen jumlah kasus diduga berasal dari dua kelompok yang terhubung dengan Gereja Shincheonji, Daegu dan sebuah rumah sakit yang ada di Cheongdo.

Dengan adanya lonjakan kasus, KCDC memperkirakan ini akan terus meningkat di hari mendatang. Hal ini mendorong Badan Kesehatan Korea untuk melakukan tes uji para anggota Gereja Shincheonji, yang disebut sebagai salah satu pusat penyebarannya.

Hal ini membuat semua kegiatan masyarakat lumpuh dan harus mengerjakannya di rumah. Bahkan, virus ini sudah mencapai kota besar lainnya, yaitu Seoul.

Seorang profesor kedokteran pencegahan di Cha University Graduate School of Medicine mengatakan, virus corona baru ini penyebarannya jauh lebih cepat dibandingkan wabah flu lain, termasuk H1N1.

"Itu (virus corona) cepat menyebar, meskipun transisinya tidak terlihat," katanya.
https://nonton08.com/dilan-1991-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar