Wabah virus corona baru atau COVID-19 di China yang meluas ke seluruh dunia telah memicu fenomena Sinophobia, atau ketakutan dan kepanikan yang dianggap "memalukan" di Italia, menurut anggota komunitas China Italia dan kelompok hak asasi manusia.
Mengutip Aljazeera, warga Italia melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan kepada wisatawan asal Tiongkok dan Asia akibat wabah COVID-19.
"Apa yang kamu lakukan di Italia? Pergi! Kamu membawakan kami penyakit," kenang seorang bocah lelaki Italia-Tiongkok, 15 tahun, sebelum dia dipukul dan ditendang di wajahnya di kota utara Bologna pada 2 Februari lalu.
Beberapa hari kemudian, di kota selatan Cagliari, seorang pria Filipina berusia 31 tahun yang dirawat di rumah sakit mengatakan kepada La Nuova Sardegna, sebuah surat kabar lokal, bahwa ia telah diserang oleh sekelompok pemuda yang mengira ia adalah orang China dan menuduhnya "membawa virus "ke Italia.
"Virus ini telah menjadi pembenaran untuk mengekspresikan prasangka dan kebencian. Itu tidak seburuk selama epidemi SARS 17 tahun yang lalu," katanya kepada AlJazeera, merujuk pada wabah sindrom pernapasan akut 2002-2003 yang parah, yang juga berasal dari Tiongkok.
Diskriminasi terhadap Tiongkok dan rakyat Tiongkok bukanlah hal baru. Fenomema Sinophobia sayangnya sudah ada selama berabad lalu namun dengan adanya wabah virus corona, maka hubungan dunia dengan China makin krisis dan kompleks.
Disebut "virus", misalnya, adalah hal yang umum, dan minoritas Asia secara fisik dijauhi atau telah menjadi sasaran omelan dan serangan rasis. Meskipun upaya China untuk menahan virus telah dipuji oleh banyak orang, termasuk WHO, yang lain telah mengambil kesempatan ini untuk mengutarakan prasangka mereka.
Banyak orang yang mengklaim bahwa virus tersebut 'dibuat di China' sebagai akibat dari pola makan eksotik atau kebersihan yang buruk. Lainnya menyebut penyakit tersebut sebagai 'virus Wuhan' yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa COVID-19 adalah buatan manusia daripada mikroba.
Saat ini banyak warga China di seluruh dunia merasa diabaikan dan 'ditolak'. Perlu diketahui bahwa sinophobia bukanlah solusi untuk mencegah wabah. Bersama-sama, kita semua harus bahu membahu dengan China untuk memerangi epidemi sebelum menjadi lebih buruk.
Bayi Usia 17 Hari Jadi Pasien Termuda yang Sembuh dari Virus Corona Tanpa Obat
Bayi usia 17 hari telah pulih dari virus corona. Sejauh ini, ia dilaporkan menjadi pasien termuda yang sembuh dari virus corona COVID-19 tanpa obat.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu telah meninggalkan rumah sakit pada hari Jumat (21/2) setelah pulih dengan sendirinya tanpa bantuan obat-obatan.
Dikutip Daily Mail dari People's Daily, sebelumnya pasien dipindahkan dari Rumah Sakit Anak di Wuhan tak lama setelah lahir. Bayi yang diberi nama Xiao Xiao awalnya mengalami infeksi pada sistem pernapasannya dan kerusakan miokard ringan atau cedera otot jantung menurut dokter yang merawatnya.
Karena gejalanya yang tidak parah, dokter memutuskan bahwa Xiao tidak perlu diberikan antibiotik dan menunggu sistem imunnya sendiri untuk mengatasi virus.
"Dia tidak kesulitan bernapas, tidak batuk atau demam. Oleh karena itu kami hanya memberikan perawatan medis untuk kondisi miokardnya," tutur dr Zeng Lingkong, direktur Departemen Neonatologi di rumah sakit tersebut.
Kemudian pada Jumat sore, Xiao menjalani tes pemeriksaan virus corona. Hasilnya terbukti negatif dalam tiga tes asam nukleat berturut-turut sehingga ia diizinkan pulang.
"Dia sekarang bebas dari virus corona dan juga penyakit jantungnya. Bahkan dia tumbuh lebih besar dan gemuk saat dirawat di rumah sakit," pungkas dr Zeng.
Sebelumnya, Xiao dikabarkan terinfeksi virus corona dari sang ibu. Ia adalah pasien termuda yang terkonfirmasi virus corona 30 jam setelah waktu kelahirannya.
https://nonton08.com/kuntilanak-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar