Saat ini Indonesia juga tengah mengembangkan vaksin Corona untuk mengakhiri pandemi COVID-19 yang saat ini telah menginfeksi 66 ribu warga RI. Vaksin Corona yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) bersama dengan dua industri farmasi lainnya berencana menyediakan sekitar 350 juta dosis yang diperkirakan bakal tersedia 2021 mendatang.
"Industri sudah memperkirakan fasilitas produksi vaksin di Indonesia bisa memenuhi kebutuhan sampai sekitar 350 juta dosis," tutur Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio kepada detikcom, Rabu (8/7/2020).
Hitungannya, vaksin sekiranya harus mengcover sekitar 70 persen dari populasi masyarakat Indonesia. Dengan jumlah penduduk RI sebanyak 267,7 juta (Sensus 2018), diperkirakan vaksin bisa didapatkan oleh 175 juta orang.
"Kalau setiap orang harus disuntik dua kali, berarti kami harus menyediakan 350 juta dosis. Rencananya memang dilakukan pemberian dua dosis setiap orang," jelasnya.
Progres pembuatan vaksin Corona di Indonesia telah mencapai 20 persen. Untuk uji klinis ke manusia, diperkirakan bisa dilakukan sekitar awal tahun 2021.
"Mungkin sekitar Maret-April diharapkan sudah mulai uji klinis fase 1 dulu kemudian kalau sudah selesai baru dilanjutkan fase 2 dan 3," pungkas Prof Amin.
Apa Itu Reaktif Corona? Begini Cara Mengartikan Rapid Test
Rapid test umum digunakan sebagai screening atau penapisan awal kasus infeksi virus Corona COVID-19. Hasil rapid test yang reaktif corona biasanya akan dilanjutkan dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) untuk memastikan diagnosis.
Cara kerja rapid test
Spesialis patologi klinik dr Muhammad Irhamsyah, SpPK, MKes, dari Primaya Hospital Bekasi Timur menjelaskan bahwa rapid test bekerja dengan cara mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh. Spesifiknya antibodi Immunoglobulin M (IgM) dan Immunoglobulin G (IgG).
"Antibodi akan mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Kemudian, Antibodi akan menandai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri sehingga sel pejuang tubuh dapat membedakan molekul asing tersebut sekaligus melumpuhkannya," kata dr Irhamsyah.
Tubuh akan memproduksi antibodi IgM saat seseorang pertama kali terinfeksi bakteri atau virus sebagai bentuk pertahanan pertama. Menurut dr Irhamsyah kadar IgM akan meningkat dalam waktu tiga hingga 14 hari saat terjadi infeksi dan kemudian akan menurun dan digantikan oleh Antibodi IgG yang akan muncul pada hari ke tujuh hingga 15 sampai infeksi hancur atau musnah.
Hasil rapid test IGM dengan nilai yang tinggi bisa dianggap sebagai tanda adanya infeksi yang aktif.
Akurasi rapid test
Ketika hasil rapid test reaktif, belum pasti juga orang tersebut artinya positif terinfeksi virus Corona. Menurut Direktur Laboratorium Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, ini karena tingkat sensitivitas rapid test dinilai kurang baik bila dibandingkan dengan tes yang lebih spesifik yaitu dengan mesin PCR.
Pernah dilaporkan ada kasus hasil rapid test awal dinyatakan reaktif corona, namun yang kedua kalinya justru non-reaktif. Menurut Prof Amin kemungkinan ini karena adanya kesalahan pada bahan kimia yang digunakan dalam alat uji tersebut.
"Mungkin karena bahan kimianya yang kurang baik sehingga siapa pun yang dites pakai itu bisa positif. Jadi tesnya itu memang ada kesalahan," ungkapnya.
Oleh karena itu, beberapa ahli memang menyarankan rapid test dilakukan berulang kali.
https://nonton08.com/star/avis-marie-barnes/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar