Rabu, 08 Juli 2020

4 Fakta Pes, Penyakit yang Buat China Siaga di Masa Pandemi Corona

Sementara dunia masih memerangi virus COVID-19, sebuah penyakit kuno di China yang dikenal dengan julukan "Black Death" kembali muncul.
Komisi Kota Mongolia Dalam menerapkan siaga tingkat tiga yang memperingatkan orang-orang agar tidak berburu, makan, atau mengangkut hewan yang berpotensi terinfeksi, terutama dari jenis hewan pengerat (tikus, marmut, tupai, kelinci). Peringatan tersebut pun menetapkan hewan pengerat yang mati atau berpenyakit, pasien diduga terinfeksi dengan demam tinggi, serta kematian yang tidak dapat dijelaskan harus dilaporkan.

Xinhua melaporkan diagnosis penyakit pes pada seorang penduduk Mongolia Dalam yang memburu dan memakan kelinci. Dia dirawat di rumah sakit dan 28 orang yang telah melakukan kontak dekat dengannya ditempatkan di bawah karantina medis.

Berikut 4 fakta mengenai penyakit pes

1. Disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis
Penyakit pes disebabkan oleh infeksi bakteri yersinia pestis yang bisa dibawa oleh tikus, kelinci, kambing, domba, dan kucing.

"Faktanya, lebih dari 200 spesies hewan dapat terinfeksi oleh penyakit ini", sebut Pusat Keamanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat di Iowa State University melalui Health.

2. Penularan melalui kontak langsung
"Orang dapat terinfeksi oleh wabah melalui gigitan kutu, kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, atau menghirup bakteri. Gigitan kutu adalah bentuk penularan yang paling umum," kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Dalam kasus penyakit pes, bakteri berkembang biak di kelenjar getah bening paling dekat dari tempat bakteri masuk ke dalam tubuh.

3. Gejala utama pembengkakan kelenjar getah bening
Seseorang yang terjangkit penyakit pes bisa mengalami demam, sakit kepala, kedinginan, kelemahan yang mendadak, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Dalam kasus parah, kulit dan jaringan lain dapat berubah menjadi hitam karena kematian jaringan terutama pada jari tangan, kaki, dan hidung.

4. Diagnosis dini sangat penting
Jika penyakit pes tidak diobati dengan cepat, bakteri dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan mengakibatkan komplikasi yang lebih serius.

CDC merekomendasikan seorang pasien yang didiagnosis terinfeksi pes harus diisolasi di rumah sakit. Demi mencegah kematian akibat pes, antibiotik harus diberikan dalam waktu 24 jam setelah timbulnya gejala.

Vaksin Corona RI Tersedia di 2021, Sekitar 350 Juta Dosis Dipersiapkan

Saat ini Indonesia juga tengah mengembangkan vaksin Corona untuk mengakhiri pandemi COVID-19 yang saat ini telah menginfeksi 66 ribu warga RI. Vaksin Corona yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) bersama dengan dua industri farmasi lainnya berencana menyediakan sekitar 350 juta dosis yang diperkirakan bakal tersedia 2021 mendatang.
"Industri sudah memperkirakan fasilitas produksi vaksin di Indonesia bisa memenuhi kebutuhan sampai sekitar 350 juta dosis," tutur Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio kepada detikcom, Rabu (8/7/2020).

Hitungannya, vaksin sekiranya harus mengcover sekitar 70 persen dari populasi masyarakat Indonesia. Dengan jumlah penduduk RI sebanyak 267,7 juta (Sensus 2018), diperkirakan vaksin bisa didapatkan oleh 175 juta orang.

"Kalau setiap orang harus disuntik dua kali, berarti kami harus menyediakan 350 juta dosis. Rencananya memang dilakukan pemberian dua dosis setiap orang," jelasnya.

Progres pembuatan vaksin Corona di Indonesia telah mencapai 20 persen. Untuk uji klinis ke manusia, diperkirakan bisa dilakukan sekitar awal tahun 2021.

"Mungkin sekitar Maret-April diharapkan sudah mulai uji klinis fase 1 dulu kemudian kalau sudah selesai baru dilanjutkan fase 2 dan 3," pungkas Prof Amin.
https://nonton08.com/star/bartek-kaminski/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar