Pembangunan infrastruktur membuat Indonesia jadi negara berdaya saing tinggi, bahkan bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah alias middle income trap. Untuk merealisasikan hal itu.. Indonesia butuh dana ribuan triliun..
Kebutuhan dana pembangunan infrastruktur di Indonesia mencapai Rp 6.445 triliun. Anggaran ini dianggap bisa mengejar ketertinggalan stok infrastruktur tanah air dari negara tetangga di Asia Tenggara.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Pengelolaan Dukungan Pemerintah dan Pembiayaan Infrastruktur DJPPR Kementerian Keuangan Brahmantyo Isdijoso dalam acara webinar Prodeep Institute via webinar, Sabtu (11/7/2020).
"Berdasarkan dokumen RPJMN pemerintah melalui APBN diperkirakan mampu memenuhi 37% sisanya diharapkan dari rekan-rekan BUMN, kemudian di private (swasta)," kata Brahmantyo.
Jika dilihat secara rinci, dari total kebutuhan dana infrastruktur yang mencapai Rp 6.445 triliun ini sekitar Rp 2.385 triliun atau 37% berasal dari APBN, lalu berasal dari sektor swasta dan BUMN sekitar Rp 2.707 triliun atau 42%, sedangkan sisanya berasal dari kerja sama sebesar Rp 1.353 triliun.
Menurut Brahmantyo, ada beberapa skema alternatif yang bisa memenuhi kebutuhan dana pembangunan infrastruktur di era new normal. Pertama, kerja sama pemerintah badan usaha (KPBU), penunjukan langsung BUMN, pendanaan dari private sector, dan blended finance.
Sementara Dirjen Pembiayaan Infrastruktur PUPR, Eko D. Heripoerwanto mengatakan untuk mencari alternatif pembiayaan di era new normal pemerintah akan lebih menyederhanakan proses administrasi hingga memastikan pembebasan lahan 100%.
"Saya berharap dengan kegiatan ini menjadi pengetahuan dalam strategi dan memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur di era new normal," ungkap Eko.
4 Negara Ini Pernah Lakukan Redenominasi, Apa Hasilnya?
Pemerintah menggulirkan rencana redenominasi alias penyederhanaan mata uang, dengan memangkas 3 angka nol. Misalnya, Rp 100.000 menjadi Rp 100 atau Rp 50.000 menjadi Rp 50, dengan nilai yang tetap sama.
Kebijakan ini pernah dijalankan sejumlah negara. Dirangkum detikcom, beberapa negara yang pernah melakukan redenominasi, yaitu Turki, Brasil, Rusia, dan Korea Utara
Ada yang sukses melakukan redenominasi, ada pula yang gagal. Berikut ini informasinya:
(1) Turki.
Turki mulai menerapkan redenominasi pada tahun 2005. Mata uang Lira (TL) dikonversi menjadi Lira baru dengan kode YTL. Kala itu, konversi mata uang lama ke baru dilakukan dengan menghilangkan 6 angka nol. Kurs konversi adalah 1 YTL untuk 1.000.000 TL.
Penerapan redemoninasi di Turki dilakukan dengan sangat hati-hati. Prosesnya pun berlangsung selama 7 tahun. Dalam prosesnya, pemerintah Turki sangat memperhatikan stabilitas perekonomian dalam negeri.
Pada tahap awal, mata uang TL dan YTL beredar secara simultan selama setahun. Kemudian mata uang lama ditarik secara bertahap digantikan dengan YTL. Pada tahap selanjutnya, sebutan 'Yeni' pada uang baru dihilangkan sehingga mata uang YTL kembali menjadi TL dengan nilai redenominasi. Selama tahap redenominasi, keadaan perekonomian tetap terjaga. Inflasi Turki pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 juga tetap stabil di kisaran 8-9%.
(2) Rusia
Redenominasi yang seharusnya dilakukan dalam kondisi perekonomian yang stabil, justru diterapkan negara-negara tersebut pada saat kondisi perekonomian tidak stabil dan memiliki tingkat inflasi yang tinggi. Salah satu contohnya yakni Rusia. Di sana, redenominasi bahkan dianggap sebagai instrumen tak langsung pemerintah merampok kekayaan rakyat.
(3) Korea Utara
Korea Utara memenggal angka nol di mata uang won, dari 100 won menjadi 1 won pada tahun 2009. Kegagalannya ialah stok mata uang baru yang terbatas. Pasalnya, ketika warga hendak menggantikan uang lama won ke uang baru, stok uang baru tidak tersedia.
(4) Brasil
Brasil melakukan redenominasi pada tahun 1994 diraihnya dengan mengarungi proses yang cukup lama dan juga kegagalan yang pernah menghampiri. Pada tahun 1986-1989, negara tersebut pernah gagal melakukan redenominasi.
Brasil melakukan penyederhanaan mata uangnya dari cruzeiro menjadi cruzado. Namun, kurs mata uangnya justru terdepresiasi secara tajam terhadap dolar AS hingga mencapai ribuan cruzado untuk setiap dolar AS. Kegagalan ini dikarenakan pemerintah Brasil tidak mampu mengelola inflasi yang pada waktu itu masih mencapai 500% per tahun.
https://cinemamovie28.com/the-33d-invader-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar