Perusahaan dompet digital OVO hari ini mengeluarkan pengumuman penting buat penggunanya. Biaya top up OVO akan naik Rp 500 menjadi Rp 1.500.
Mengutip pengumuman di aplikasi OVO, Senin (13/7/2020) kenaikan tarif top up itu mulai berlaku sejak 25 Agustus 2020.
Penyesuaian tarif top up itu akan berlaku pada 19 bank dan berbagai saluran top up-nya. Baik itu melalui ATM, internet banking, SMS banking maupun mobile banking.
Berikut daftar kenaikan top up OVO di 19 bank:
- CIMB Niaga: ATM
- OCBC NISP: ATM, internet banking, mobile banking
- Danamon: ATM, internet banking, mobile banking
- BRI Syariah: mobile banking, SMS banking
- Bank BJB: internet banking, mobile banking
- Bank Mayapada: ATM, mobile banking
- Bank Muamalat: ATM, mobile banking
- Maybank: ATM internet banking, mobile banking, SMS banking
- Bank Sinarmas: ATM, internet banking, mobile banking
- Bank Mega: ATM, mobile banking
- Bank Syariah Mandiri: mobile banking
- Bank Bukopin: mobile banking
- Bank Panin: ATM
- UOB: internet banking, mobile banking
- Shinhan: internet banking
- BPD DIY: ATM, mobile banking, SMS banking
- Bank Nagari: ATM, internet banking
- Bank MAS: internet banking
- BTPN: mobile banking
Enaknya... Warga di Kota Ini Dapat Rp 7 Juta Per Bulan Cuma-cuma
Stockton, sebuah kota di California Amerika Serikat terbilang cukup royal dalam membantu warganya menghadapi pandemi COVID-19. Melalui Stockton Economic Empowerment Demonstration (SEED), pemerintah kota itu merancang program yang memberi 125 penduduknya bantuan tunai hingga US$ 500 setara Rp 7 juta/bulan (kurs Rp 14.000/US$).
Walikota Stockton Michael Tubbs sebagai perancang program ini, mengaku pertama kali mempelajari konsep tersebut saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Stanford. Saat di bangku kuliah, ia terinspirasi dari buku karya Dr. Martin Luther King Jr, berjudul 'Where Do We Go From Here: Chaos or Community?'. Buku ini mengajak siapapun yang membacanya dapat royal memberi penghasilan dasar mereka guna membantu memerangi ketimpangan antara si kaya dan miskin.
"Saya ingat membaca itu saat masih jadi mahasiswa baru dan berpikir, "Wow, saya belum pernah mendengar ini. Saya bertanya-tanya apa yang terjadi. Mengapa itu tidak pernah diajarkan?" ujar Tubbs dikutip dari CNBC, Senin (13/7/2020).
Bertahun-tahun kemudian, Tubbs mengingat ide tersebut, tepatnya pada 2017, ketika terpilih sebagai walikota Stockton, yang juga merupakan kota kelahirannya. Dia meminta tim pembuat kebijakannya meneliti berbagai ide untuk merancang suatu program yang bisa mengatasi berbagai masalah dan pendapatan dasar universal muncul kembali.
"Saya pikir inti dari sebagian besar masalah kami di Stockton adalah kemiskinan dan kemiskinan universal sistemik," sambungnya.
Meski begitu, ia juga menyadari risiko dibalik gagasannya tadi, terutam sebagai walikota baru, Tubbs sadar betul gagasannya berisiko secara politis. Namun, pada Februari 2019, program SEED mulai bergulir. Memberikan uang Rp 7 juta per bulan kepada 125 penduduk yang dipilih secara acak.
Meski dipilih secara acak, untuk mendapatkan bantuan tunai ini tetap ada syaratnya. Warga kota harus berusia 18 tahun atau lebih. Kemudian tinggal di lingkungan dengan atau di bawah pendapatan rumah tangga rata-rata Stockton sebesar US$ 46.000 setara Rp 644 juta.
https://nonton08.com/yurikos-aroma/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar