Pada zaman Paleozoikum, sejumlah artropoda mewakili hewan raksasa di Bumi. Salah satunya adalah kalajengking laut yang ukurannya bisa sampai sebesar manusia bahkan lebih.
Eurypterida, demikian nama ilmiah dari kalajengking laut, punya penampakan yang mirip dengan kalajengking modern. Meski demikian, bentuk tubuh hewan purba ini hanya bisa dipakai untuk berenang, sehingga tempat tinggal mereka di laut.
Hewan perenang tangkas ini kemungkinan menggunakan anggota tubuh depannya yang besar dan bersenjatakan cakar untuk meraih mangsa. Selanjutnya mangsa akan mereka hancurkan di antara struktur seperti gigi di kaki mereka (disebut duri gnathobasic).
Belum diketahui persis apa yang dimakan hewan-hewan raksasa ini. Para peneliti memperkirakan eurypterida memakan ikan dan arthropoda yang lebih kecil.
Dikutip dari Science Alert, eurypterid diyakini merupakan nenek moyang kalajengking saat ini, dan mungkin saja juga semua arachnida, yaitu kelas hewan yang mencakup laba-laba dan artropoda berkaki delapan lainnya.
Selama 27 juta tahun kalajengking laut ini hidup. Mereka telah mengambil tempat di puncak rantai makanan, berkembang tanpa adanya predator alami.
Selain itu, eurypterida termasuk predator laut terbesar yang pernah muncul dalam catatan fosil. Salah satu dari jenis spesies ini, Jaekelopterus rhenaniae, diperkirakan memiliki panjang lebih dari 2,5 meter.
Menurut tim peneliti yang dipimpin Russell D.C Bicknell dari University of New England di Australia, kalajengking laut raksasa pertama kali diidentifikasi fosilnya pada 1899.
Akan tetapi, mereka masih belum bisa mengungkap alasan spesies ini bisa tumbuh subur di lautan sekitar Gondwana, sebuah superbenua purba yang terbagi hingga menciptakan beberapa benua modern di antaranya Afrika, Amerika Selatan, Australia, Antartika, India, dan Semenanjung Arab.
Eurypterida dari Gondwana ini masih merupakan spesies yang sama sekali baru. Para peneliti berharap studi lebih lanjut akan membantu mereka mengidentifikasi spesies baru dari hewan purba ini.
Ilmuwan China Kabur, Tuding Beijing Tutupi Pandemi Corona
Ilmuwan China, Dr Li Meng Yang, melarikan diri ke Amerika Serikat dan menuding negaranya menutup-nutupi fakta pada saat permulaan pandemi Corona. Dia disebut terbang ke AS secara sembunyi-sembunyi menggunakan pesawat Cathay Pacific dari Hong Kong, pada 28 April 2020.
Dikutip detikINET dari Fox News, Meng Yang adalah dokter yang bekerja di Hong Kong School of Public Health. Ia mengklaim harus lolos terlebih dahulu dari pengawasan kamera sampai sensor di kampusnya sebelum dapat kabur ke Negeri Paman Sam.
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Meng Yang yakin bahwa pemerintah China sudah tahu soal keganasan virus Corona sebelum mereka mengumumkannya. Dia juga sudah meriset tentang bahaya virus itu, tapi diabaikan oleh supervisornya.
Ceritanya, pada akhir Desember 2019, dia diminta supervisornya, Dr Leo Poon, meneliti klaster kasus penyakit mirip SARS di China daratan. "Pemerintah China menolak mengizinkan pakar luar negeri, termasuk Hong Kong, meriset di China. Jadi saya ke kawan saya untuk mendapat lebih banyak informasi," cetusnya.
https://indomovie28.net/astro-boy-tetsuwan-atom-episode-13/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar