Minggu, 12 Juli 2020

3 Fakta GBK Jadi Aset Termahal RI

 Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan mencatat nilai aset negara atau barang milik negara (BMN) mencapai Rp 10.467,53 triliun. Aset tersebut terus dikelola pemerintah untuk mendapatkan pundi-pundi yang disebut pendapatan negara bukan pajak (PNBP).
Dari banyak aset yang dimiliki negara DJKN menyebut komplek Gelora Bung Karno (GBK) sebagai aset yang paling tinggi alias mahal usai direvaluasi dan lolos audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berikut 3 fakta GBK sebagai aset termahal negara.

1. Nilainya Rp 347 Triliun

Direktur Barang Milik Negara (BMN) DJKN Kementerian Keuangan Encep Sudarwan mengatakan, nilai aset komplek GBK yang paling anyar sebesar Rp 347 triliun dari total aset negara senilai Rp 10.467,53 triliun.

"Kalau Satker GBK nilainya Rp 347 triliun, tanahnya sekitar Rp 345 triliun, bangunannya Rp 3 triliun, itu sebuah komplek paling tinggi di Indonesia," ujar Encep.

2. Nilai GBK Terus Naik

Dia menjelaskan, kenaikan nilai aset komplek GBK dikarenakan lokasinya yang berada di tengah kota Jakarta. Tingginya nilai aset komplek GBK lantaran mahalnya harga tanah di kawasan tersebut.

Menurut Encep, pemerintah juga akan mengoptimalkan aset negara atau BMN agar memberikan hasil berupa pendapatan negara bukan pajak (PNBP) lebih besar lagi. Salah satunya melalui PP Nomor 28 Tahun 2020 yang merupakan revisia dari PP Nomor 27 Tahun 2014.

Melalui beleid itu, pemerintah bisa mengoptimalkan BMN melalui skema Limited Concession Scheme (LCS).

3. Aset Lainnya Masih Disisir Negara

Saat ini pihak DJKN masih menyisir BMN apa saja yang bisa dimanfaatkan pengelolaannya dengan skema LCS. Di beberapa negara, skema LCS diterapkan pada bandara hingga pelabuhan.

Skema LCS ini pemerintah bisa menarik potensi pendapatan dalam pengelolaan BMN di depan, artinya jika satu BMN dikelola dengan skema LCS selama 30 tahun maka pemerintah mendapat nilai keuntungan selama 30 tahun ini di depan atau dibayarkan oleh calon mitra.

Bisnis Masker Lagi Rame Nih, Modalnya Cuma Rp 5 Juta!

Merebaknya virus Corona membuat masker dicari banyak orang demi melindungi diri agar tak tertular. Tak heran bila produk kesehatan tersebut laris-manis selama masa pandemi COVID-19 hingga menyambut masuknya era kebiasaan baru (new normal).
Tidak sedikit orang yang memanfaatkan fenomena tersebut sebagai peluang bisnis. Modal tak jadi soal, sebab dana yang dibutuhkan untuk memulai usaha tersebut bisa dibilang minim.

Seperti yang dilakukan oleh Raihan Abiyan Fattah. Dia memulai bisnis produk masker dengan modal kurang dari Rp 5 juta. Dia merogoh kocek tersebut menggunakan dana pribadinya.

"Kemarin modalnya nggak sampai Rp 5 juta, modal sendiri, (pakai) tabungan," kata Founder Masker Rupa Nusa itu kepada detikcom, Minggu (12/7/2020).

Lanjut dia, proses produksi dilakukan oleh jasa konveksi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Begitu masker selesai diproduksi akan dikirim kepada dirinya.

Saat ini, lanjut dia, proses distribusi masih dilakukannya seorang diri tanpa bantuan tenaga kerja. Bisa dibilang pengeluarannya pun menjadi lebih minim karena tak perlu mengupah pekerja tambahan.

"Belum (pakai bantuan tenaga kerja). Sekarang belum sih, masih penjahitnya, penjahitnya di Tasik, di Jakartanya sendiri, buat distribusinya sendiri," ujarnya.

Ditambahkannya, bisnis ini dirintis sejak April lalu, di tengah-tengah pandemi COVID-19. Lalu produknya baru dipasarkan pada 13 Mei secara online dan berlanjut hingga kini.
https://cinemamovie28.com/passengers/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar