Sabtu, 11 Juli 2020

Viral Sayembara Misuh, Psikolog: Bagian dari Katarsis, Bukan Budaya Jawa

Sebuah komunitas bahasa bernama Jawa Sastra mengadakan Sayembara Misuh Internasional 2020. Dosen Fakultas Psikologi UGM, Prof Koentjoro, menilai misuh adalah media mengeluarkan uneg-uneg, dan misuh bukanlah budaya Jawa.
"Itu (misuh) bagian dari katarsis, katarsis itu adalah mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam diri kita," katanya saat dihubungi detikcom, Jumat (10/7/2020).

Oleh karena itu, dia menilai sayembara itu bisa untuk media katarsis daripada sekadar ajang misuh, mengingat misuh atau mengumpat sendiri adalah hal yang bertentangan dengan norma.

"Tetapi misuh itu kan sesuatu yang tidak disukai dan bertentangan dengan norma. Makanya sekarang apakah masyarakat kita sudah keluar dari aturan kebajikan?" ucapnya.

"Jadi kalau hanya sekadar lomba untuk apa? Tapi kalau bentuk katarsis okelah," imbuh Koentjoro.

Apalagi, saat ini tradisi umpatan sudah bergeser. Hal yang sebelumnya tabu menjadi hal yang familiar di masyarakat. Namun, familiarnya hal tersebut membuat umpatan bukan lagi manjadi sebuah katarsis.

"Misuh ini juga menurut tradisi itu bergeser, dari dulu tabu lama-lama bisa diterima. Misalnya 'jancok', 'jancok' itu bagi orang zaman dulu udah misuh, tapi sekarang untuk orang Surabaya sudah jadi panggilan, cok, terus seperti gentho, 'piye kabare tho?' gitu," katanya.

Menyoal misuh sebagai identitas budaya Jawa, Koentjoro tidak begitu setuju. Mengingat orang Jawa sejatinya dicegah untuk misuh atau mengumpat, karena misuh akan menunjukkan kelas sosial seseorang.

"Orang Jawa itu kalau misuh, itu misuh dalam bahasa halus (krama inggil) dan dalam Jawa dicegah untuk tidak misuh. Karena luhuring budi bukan dari misuhnya, tapi luhuring budi itu gumantung seko lathi atau mulut," katanya

"Dan ketika mengumpat kelas sosialnya ketahuan, jadi siapa yang ngumpat itu orang Jawa bisa tahu kelas sosial mana," imbuh Koentjoro.

Jack Ma Ambil Hikmah di Balik Pandemi Corona

 Pandemi Corona amat merugikan baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan masyarakat. Namun menurut Jack Ma, ada hikmah di baliknya terkait industri digital.
Pendiri Alibaba itu menyebut pandemi Corona mengakselerasi adopsi artificial intelligence atau kecerdasan buatan serta teknologi digital dalam berbagai industri, termasuk kesehatan dan pertanian.

"Kita umat manusia tidak seharusnya berpikir terlalu tinggi soal diri kita. Banyak hal sulit bagi manusia tapi begitu mudah untuk mesin," katanya dalam karakter hologram, saat berbicara di World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai.

"Tren besar di teknologi digital tak berubah. Namun apa yang biasanya butuh 30 sampai 50 tahun untuk digitalisasi, sekarang dipercepat antara 10 sampai 20 tahun, perubahan besar sebagai hasil dari pergolakan saat ini," papar Jack Ma, dikutip detikINET dari South China Morning Post.

Krisis kesehatan saat ini memaksa orang untuk berinovasi. Kecerdasan buatan misalnya, digunakan secara efektif untuk membantu dokter membaca scan CT lebih cepat. Sedangkan petani memanfaatkan big data untuk memonitor hasil tanahnya.

Saat pandemi Corona, China mengembangkan mesin dengan algoritma yang 60 kali lebih efisien dibandingkan dokter untuk mendeteksi kasus infeksi Corona. Ma pun berharap agar kerja sama di bidang AI dan solusi teknologi lain terus ditingkatkan.

"Virus tak butuh visa, batas negara tak berarti apa-apa dan seharusnya teknologi tidak dibatasi. Saat ini, akumulasi pengetahuan manusia, kemampuan untuk memproses informasi dan menurunkan risiko lebih powerful dari sebelumnya," cetus Ma.

"Akan tetapi sayangnya, kita kurang bijaksana dan kadang kita tidak menggunakan sumber daya kapabilitas dan pengetahuan untuk meningkatkan komunikasi dan kerja sama, dan kadang kadang kita membuat banyak gap, bahkan memperlebar perbedaan," pungkas Jack Ma.
https://indomovie28.net/cast/ashley-hobbs/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar