Senin, 13 Juli 2020

Google Larang Iklan yang Tawarkan Jasa Memantau Orang

- Google tak lagi mengizinkan iklan untuk produk atau layanan yang dipasarkan dengan tujuan pelacakan atau pemantauan orang lain tanpa izin.
Dilansir detiKINET dari CNBC, dalam pembaruan kebijakan iklan Google, disebutkan bahwa larangan ini berlaku bagi spyware dan teknologi yang digunakan untuk memantau teks, panggilan telepon atau riwayat pencarian.

Larangan ini juga berlaku bagi pelacak GPS yang dipasarkan untuk memata-matai seseorang tanpa persetujuan mereka seperti kamera, perekam audio, dan kamera dashboard yang dipasarkan untuk tujuan pemantauan.

Google juga melarang layanan untuk melacak dan memantau anak-anak di bawah umur. Rencananya pembaruan kebijakan 'Enabling Dishonest Behavior´ (mengaktifkan perilaku tidak jujur) akan diaktifkan mulai 11 Agustus 2020.

Sebelumnya pada 2018, sekelompok peneliti melakukan penelitian tentang ekosistem spyware yang melakukan pengawasan terhadap pasangan. Mereka menemukan ribuan iklan Google memunculkan istilah pencarian yang menunjukkan niat eksplisit melakukan mata-mata.

Iklan yang ditemukan antara lain seperti, "Bagaimana cara mengetahui pasangan selingkuh dari ponselnya", "Lacak ponsel istri," "Lacak Istri Anda tanpa sepengetahuannya. Unduh!".

Para peneliti mengatakan, dalam penelitian ini Google telah mulai membatasi iklan untuk jenis istilah pencarian tersebut. Iklan tidak ditampilkan pada istilah pencarian eksplisit untuk pengawasan pasangan intim pada saat penelitian diterbitkan.

"Kami terus mengevaluasi dan memperbarui kebijakan iklan kami untuk memastikan kami melindungi pengguna," kata juru bicara Google dalam pernyataannya.

"Kami secara rutin memperbarui bahasa kami dengan contoh-contoh untuk membantu mengklarifikasi apa yang kami anggap melanggar kebijakan. Teknologi spyware untuk pengawasan pasangan selalu berada dalam ruang lingkup kebijakan kami terhadap perilaku tidak jujur, " lanjutnya.

Menurut Google, kebijakan iklan perusahaan sudah melarang promosi produk dan layanan yang memungkinkan pengguna memperoleh akses tidak sah ke sistem, perangkat, atau properti pengguna. Tetapi pembaruan ini mengubah bahasa kebijakan untuk menyertakan promosi spyware dan teknologi pengawasan yang menargetkan akses tidak sah.

Lepas Saham Alibaba, Jack Ma Raup Rp 138 Triliun

 Walau telah pensiun dari Alibaba, raksasa e-commerce yang ia dirikan, Jack Ma masih memegang saham cukup besar. Baru-baru ini, ia diketahui melepas sebagian sahamnya itu dan mengantongi triliunan rupiah.
Dikutip detikINET dari Reuters, Jack Ma memangkas kepemilikan saham Alibaba dari awalnya 6,4% menjadi tinggal 4,8%. Berdasarkan harga saham terkini Alibaba, berarti ia menguangkan USD 9,6 miliar atau di kisaran RP 138 triliun.

Harga saham Alibaba sendiri merambat naik meskipun pandemi Corona mengganggu perekonomian China. Bisa ditebak, situasi seperti ini justru membuat orang makin banyak yang memilih belanja online termasuk di Alibaba.

Selain Jack Ma, Executive Vice Chairman Alibaba, Joseph Tsai, juga memangkas kepemilikan sahamnya di waktu yang sama, dari semula 2,3% menjadi 1,6%. Uang yang didapatnya sekitar USD 4,1 miliar.

Jack Ma telah pensiun dari Alibaba pada September tahun silam, digantikan Daniel Zhang sebagai Chairman. Sementara Joseph Tsai meski masih di Alibaba, semakin berkurang keterlibatannya dalam operasional sehari-hari.

Jack Ma sekarang aktif dalam kegiatan filantrofi dan kadang tampil dalam event sebagai narasumber. Misalnya belum lama ini, dia tampil di World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai.

Dia mengatakan bahwa pandemi Corona mengakselerasi adopsi artificial intelligence atau kecerdasan buatan serta teknologi digital dalam berbagai industri, termasuk kesehatan dan pertanian.

Saat pandemi Corona, China mengembangkan mesin dengan algoritma yang 60 kali lebih efisien dibandingkan dokter untuk mendeteksi kasus infeksi Corona. Ma pun berharap agar kerja sama di bidang AI dan solusi teknologi lain terus ditingkatkan.

"Virus tak butuh visa, batas negara tak berarti apa-apa dan seharusnya teknologi tidak dibatasi. Saat ini, akumulasi pengetahuan manusia, kemampuan untuk memproses informasi dan menurunkan risiko lebih powerful dari sebelumnya," cetus Ma.

"Akan tetapi sayangnya, kita kurang bijaksana dan kadang kita tidak menggunakan sumber daya kapabilitas dan pengetahuan untuk meningkatkan komunikasi dan kerja sama, dan kadang kadang kita membuat banyak gap, bahkan memperlebar perbedaan," pungkas Jack Ma.
https://nonton08.com/one-piece-film-gold-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar