Kumpul keluarga saat Lebaran kerap horor bagi kaum muda, tak terkecuali yang tengah menginjak usia 25 tahun. Pasalnya, silaturahmi tatap muka atau via video call tak jarang jadi kesempatan keluarga besar bombardir pertanyaan. Mulai dari template seputar kapan kerja, kapan lulus, hingga yang menyinggung urusan privasi seperti hubungan cinta dan pernikahan.
Psikolog klinis Dessy Ilsanty menjelaskan, adalah normal jika kaum muda merasa tak nyaman menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun menurutnya, tak tertutup kemungkinan pertanyaan tersebut terlontar karena niat baik menanyakan kabar atau sekedar basa-basi, terlepas dari niat mengintimidasi.
"Ketika butuh topik yang cepat, terus yang keluar itu saja (template) kalau sudah selesai sekolah, ya menikah. Itu simpelnya. Kalau mau dipikir lebih dalam, kan belum tentu, itu yang ada bukan basa-basi. Mikirnya kelamaan, percakapannya jauh lebih dalam. Menurut fitrahnya, orang basa-basi cepat saja," terangnya dalam program e-Life detikcom, Jumat (7/5/2021).
Menurutnya, pertanyaan ini kerap membuat tak nyaman lantaran keluarga terlihat tidak memahami pilihan hidup anak muda. Anak muda yang baru lulus, dianggap sudah waktunya bekerja. Anak muda yang sudah bekerja, dianggap sudah waktunya menjalani hubungan percintaan yang serius.
Padahal pilihannya belum tentu demikian. Wajar jika kondisi ini menimbulkan rasa tertekan.
Ia harap dengan memahami bahwa pertanyaan ini basa-basi, anak muda bisa lebih santai menanggapinya. Misalnya, dengan merespons basa-basi kembali. Jangan sampai, ketidaknyamanan ini membuat anak muda membatasi momen silaturahmi dengan keluarga.
"Jawaban kita yang kontrol. Kita ditanya apa, kita punya kendali mau jawab apa nggak. Orang mungkin bisa mengorek privasi kita, tapi kuncinya di kita mau ngasih jawaban atau nggak. Kalau kita nggak berkenan, ya sudah nggak usah dikasih, sesimpel itu. Kalau orang itu mencoba bertanya, itu hak dia. Tapi kita juga punya hak mau memberi jawaban atau nggak," imbuhnya.
Yakin Hampers-mu Aman? BPOM Bagikan 4 Cara Pilih Parsel Jelang Lebaran
Menjelang Lebaran, parsel atau hampers marak dijual. Selain menjadi tradisi merayakan hari Raya Idul Fitri, penjualan hampers Lebaran semakin laris di tengah pandemi Corona saat banyak orang tak bisa bertemu tatap muka.
Namun, tak sedikit di antara mereka yang kerap menyepelekan keamanan hampers. Padahal, kualitas utama hampers tentu perlu jadi hal utama yang diperhatikan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membagikan beberapa tips memilih hampers Lebaran yang aman dikonsumsi atau dibagikan ke kerabat dekat atau keluarga. Apa saja?
1. Mengecek kemasan
Ada baiknya, konsumen memilih sendiri bahan makanan yang akan dijadikan hampers. Sebab, penting untuk mengecek kemasan dalam keadaan baik.
"Pastikan kemasan produk pangan dalam keadaan tidak sobek, tidak bolong, tidak bocor, tidak penyok, tidak karatan, dan masih tersegel rapat," jelas BPOM dalam akun resminya Minggu (9/5/2021).
2. Mengecek label
Mengecek label tidak kalah pentingnya dengan mengecek kemasan. Beberapa informasi pada label harus tercantum dengan jelas.
Apa saja informasi yang perlu ada pada label?
- Nama dagang
- Komposisi
- Nama jenis pangan olahan
- Logo halal bagi yang dipersyaratkan
- Tanggal dan kode produksi
- Nama dan alamat importir
- Keterangan kedaluwarsa
- Berat bersih
- Nomor izin edar
3. Izin edar
Salah satu hal yang kerap dilupakan saat membeli produk makanan adalah izin edar. Wajib mengetahui produk pangan yang sudah memiliki izin edar BPOM.
Contoh izin edar yang dikeluarkan BPOM:
- Pangan olahan dalam negeri
BPOM RI MD xxxxxxxxx (12 digit angka)
- Pangan olahan impor
BPOM RI ML xxxxxxxxx (12 digit angka)
Kamu bisa pula mengecek daftar izin edar di aplikasi BPOM 'BPOM mobile' atau situs resmi di SINI.
4. Mengecek kedaluwarsa
Hal terpenting dari seluruh poin yang dijelaskan, yaitu memastikan tanggal kedaluwarsa. Hal ini demi meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan saat mengkonsumsi bahan pangan yang tidak lagi layak dimakan.
"Keterangan kedaluwarsa merupakan batas akhir suatu pangan dijamin mutunya, sepanjang penyimpanannya mengikuti petunjuk yang diberikan produsen," pesan BPOM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar