Senin, 07 September 2020

Beri Sanksi Tegas, IDI Ancam Copot Izin Praktik Dokter Pelaku Bullying

 Cerita atau kisah para 'dokter junior' menggambarkan dampak kasus bullying di masa pembelajaran. Tidak jarang, para korban akhirnya memilih bungkam dengan harapan tidak menambah masalah di masa pendidikannya.
Dari kasus bullying yang tampak 'ringan' hingga berat. Kasus bullying di antara dokter pun disebut-sebut untuk melatih mental.

Padahal, psikiater dari Rumah Sakit dr H Marzoeki Mahdi di Bogor, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan bullying adalah perilaku yang menyakiti seseorang. Menggunakan alasan apapun, kasus bullying tidak bisa dibenarkan.

"Setiap tipe pembullyan ini akan menimbulkan dampak psikologis bagi mereka yang jadi korban bullyingnya siapa pun itu, baik dokter PPDS, maupun misalnya anak sekolah, ataupun di kantor, tetap ada dampak psikologis," kata dr Lahargo, saat dihubungi detikcom, Minggu (6/9/2020).

Lalu bagaimana peran Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dalam menanggapi kasus semacam ini?

Dihubungi detikcom secara terpisah, Wakil Ketua PB IDI dr Slamet Budiarto mengaku, IDI akan menerapkan beberapa langkah pencegahan demi menghindari kasus bullying terus terjadi. Salah satunya membuat sanksi bertahap, dari ringan hingga berat.

"IDI akan memberikan sanksi kepada dokter yang melakukan bullying. Sanksi yang ringan berupa teguran, sanksi sedang berupa skors, sementara sanksi berat bisa dicabut rekomendasi izin praktiknya," tegas dr Slamet pada Minggu (6/9/2020).

Selain itu, pengawasan di beberapa institusi pendidikan akan diperketat. Dilanjutkan dengan pendekatan sosialisasi terkait kode etik kedokteran di Indonesia.

"Pengawasan secara langsung dilakukan oleh institusi pendidikan, secara tdk langsung melalui IDI. Untuk mencegah kekerasan di pendidikan dr spesialis, IDI akan melakukan sosialisasi secara berkala ttg kode etik kedokteran indonesia," sebutnya.

Bagi beberapa korban yang mengalami kasus bullying, IDI akan menyediakan fasilitas hotline pengaduan dokter. Khususnya bagi dokter yang masih menjalani masa program pendidikan dokter spesialis (PPDS).

"IDI akan membuat hotline pengaduan dokter yang masih pendidikan dokter spesialis. Sehingga kekerasan fisik maupun mental bisa dicegah," tambah dr Slamet.

"IDI mengingatkan kepada institusi pendidikan baik dekan atau rektor untuk melakukan pengawasan melekat," pungkasnya.

Catatkan 90 Ribu Kasus dalam Sehari, India Pecahkan Lagi Rekor COVID-19

 India kembali mencetak rekor penambahan kasus positif virus Corona COVID-19. Tercatat 90.632 kasus terkonfirmasi dalam 24 jam terakhir, lebih tinggi dari rekor sebelumnya yakni 78.761 kasus akhir pekan lalu.
Sementara itu jumlah kematian di India meningkat 1.065 kasus menjadi 70.626 kasus. Total kasus positif tercatat lebih dari 4,2 juta dengan jumlah pasien sembuh sekitar 3,2 juta.

India saat ini berada di urutan kedua negara dengan jumlah kasus positif paling tinggi. Urutan pertama ditempati Amerika Serikat masih menempati urutan pertama dengan jumlah kasus positif 6,4 juta.

Brazil ada di urutan ketiga dengan 4,1 kasus positif, kematian 126.650 kasus.

Di Asia, Iran menempati urutan kedua jumlah kasus paling tinggi dengan 386.658 kasus positif. Urutan ketiga ditempati Bangladesh dengan 325.157, disusul Saudi Arabia dengan 320.688 kasus.
https://indomovie28.net/kinshin-mugon-sokan-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar