Seperti 'terlahir kembali', kini warga Wuhan lagi memakai masker. Wuhan, adalah kota pertama kali virus Corona COVID-19 dilaporkan akhir Desember lalu.
Dikutip dari Channel News Asia, para pejabat China menggambarkan kondisi Wuhan yang seperti 'terlahir kembali'. Para pejabat China seolah meyakini telah berhasil mengatasi pandemi dan meyakini ekonomi kembali pulih, saat Amerika Serikat masih berjuang.
Gambaran 'bebas Corona' Wuhan dimulai sejak minggu lalu saat sekolah dasar China kembali dibuka. "Ada beberapa tempat di dunia saat ini di mana Anda tidak membutuhkan masker dan dapat berkumpul," kata seorang pejabat China, Lin Songtian, kepada para eksekutif, menyiratkan bahwa Wuhan adalah salah satu tempat itu.
"Ini membuktikan kemenangan Wuhan atas virus dan bahwa (kota) kembali berbisnis," lanjutnya.
Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan hingga saat ini adalah asal-usul virus Corona. Sebelumnya penyebaran Corona pertama kali diyakini terjadi di pasar basah Wuhan.
Sementara itu menteri luar negeri China pada 28 Agustus, meyakini asal-usul virus Corona mungkin saja tidak berawal di China.
Penampakan Wuhan sebelumnya bak 'kota hantu'
Kota berpenduduk 11 juta orang dan lebih dari 80 persen dari 4.634 meninggal karena COVID-19 di China, telah menempuh perjalanan cukup suram sejak awal pandemi. Lockdown diberlakukan selama berminggu-minggu, membuat penampakan Wuhan seperti 'kota hantu'.
Namun, kini tidak ada transmisi lokal baru yang dilaporkan dalam beberapa bulan. Lalu lintas pun kembali padat dan pengunjung mal kembali ramai.
Tidak lagi pakai masker
Aktivitas di Wuhan tidak lagi memakai masker. Seperti pesta biliar Wuhan yang dihadiri oleh ribuan orang tanpa masker bulan lalu. Tidak sedikit yang menilai pesta ini terlalu 'nekat'.
Namun, warga China membantah anggapan meremehkan risiko virus Corona. "Risiko apa yang mungkin ada?" tanya pekerja pabrik Wuhan Xie Ailiang saat berbicara kepada AFP.
"Saya pikir sekarang Wuhan harus benar-benar aman," yakinnya.
Kekhawatiran gelombang baru Corona di musim dingin
Banyak warga Wuhan mengungkapkan keprihatinan pemulihan wabah Corona yang belum merata. Hal ini juga memicu ketakutan akan wabah baru.
"Semua orang takut epidemi akan kembali, tahu? Musim panas sudah berakhir, dan musim dingin akan datang," kata Yi.
Beri Sanksi Tegas, IDI Ancam Copot Izin Praktik Dokter Pelaku Bullying
Cerita atau kisah para 'dokter junior' menggambarkan dampak kasus bullying di masa pembelajaran. Tidak jarang, para korban akhirnya memilih bungkam dengan harapan tidak menambah masalah di masa pendidikannya.
Dari kasus bullying yang tampak 'ringan' hingga berat. Kasus bullying di antara dokter pun disebut-sebut untuk melatih mental.
Padahal, psikiater dari Rumah Sakit dr H Marzoeki Mahdi di Bogor, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan bullying adalah perilaku yang menyakiti seseorang. Menggunakan alasan apapun, kasus bullying tidak bisa dibenarkan.
"Setiap tipe pembullyan ini akan menimbulkan dampak psikologis bagi mereka yang jadi korban bullyingnya siapa pun itu, baik dokter PPDS, maupun misalnya anak sekolah, ataupun di kantor, tetap ada dampak psikologis," kata dr Lahargo, saat dihubungi detikcom, Minggu (6/9/2020).
Lalu bagaimana peran Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dalam menanggapi kasus semacam ini?
Dihubungi detikcom secara terpisah, Wakil Ketua PB IDI dr Slamet Budiarto mengaku, IDI akan menerapkan beberapa langkah pencegahan demi menghindari kasus bullying terus terjadi. Salah satunya membuat sanksi bertahap, dari ringan hingga berat.
"IDI akan memberikan sanksi kepada dokter yang melakukan bullying. Sanksi yang ringan berupa teguran, sanksi sedang berupa skors, sementara sanksi berat bisa dicabut rekomendasi izin praktiknya," tegas dr Slamet pada Minggu (6/9/2020).
Selain itu, pengawasan di beberapa institusi pendidikan akan diperketat. Dilanjutkan dengan pendekatan sosialisasi terkait kode etik kedokteran di Indonesia.
"Pengawasan secara langsung dilakukan oleh institusi pendidikan, secara tdk langsung melalui IDI. Untuk mencegah kekerasan di pendidikan dr spesialis, IDI akan melakukan sosialisasi secara berkala ttg kode etik kedokteran indonesia," sebutnya.
Bagi beberapa korban yang mengalami kasus bullying, IDI akan menyediakan fasilitas hotline pengaduan dokter. Khususnya bagi dokter yang masih menjalani masa program pendidikan dokter spesialis (PPDS).
"IDI akan membuat hotline pengaduan dokter yang masih pendidikan dokter spesialis. Sehingga kekerasan fisik maupun mental bisa dicegah," tambah dr Slamet.
"IDI mengingatkan kepada institusi pendidikan baik dekan atau rektor untuk melakukan pengawasan melekat," pungkasnya.
https://indomovie28.net/close-range-love/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar