Peneliti kesehatan lingkungan Dr Shanna Swan dari Mount Sinai Hospital, New York, menjelaskan bagaimana polusi bisa berdampak terhadap kesehatan reproduksi manusia. Dalam buku terbarunya yang berjudul "Count Down", ukuran penis manusia disebut semakin menyusut karena polusi.
Dr Swan menaruh perhatian pada senyawa phthalate yang umum digunakan dalam pembuatan plastik. Senyawa phthalate diketahui dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan mengganggu produksi hormon, khususnya testosteron.
Riset Dr Swan awalnya melihat sindrom phthalate pada tikus di laboratorium. Ia menemukan bahwa tikus yang terpapar senyawa tersebut akan lebih mungkin melahirkan keturunan dengan kelamin yang lebih kecil.
Senyawa phthalate pada pria disebut juga bisa mengganggu dengan kualitas spermanya. Analisa studi yang dipublikasi tahun 2017 lalu menemukan setidaknya jumlah sperma pada sekitar 45.000 pria di Barat sudah berkurang hampir 50 persen selama empat dekade terakhir.
"Masalah kesehatan reproduksi ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama karena mengancam keberlangsungan hidup manusia," tulis Dr Swan seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (6/4/2021).
Dr Swan percaya bila masalah polusi phthalate berlanjut maka pria akan mulai kesulitan menghasilkan sperma sehat pada tahun 2045.
https://trimay98.com/movies/7-hours-to-go/
Bukan Digaruk! Ini 3 Tips Atasi Biduran bagi Ibu Menyusui
Beberapa wanita yang baru melahirkan dilaporkan mengalami biduran pada kulitnya. Ternyata, kondisi ini bisa menetap hingga ibu menyusui sang buah hati.
Menurut Valinda Riggins Nwadike, MD, MPH, seorang dokter spesialis kandungan, sebanyak 20 persen ibu dilaporkan mengalami biduran. Kondisi ini bisa disebabkan oleh alergi, infeksi, maupun stres psikologis.
"Jangan khawatir, biduran biasanya hilang secepat muncul. Inilah mengapa Anda mungkin mengalami gatal-gatal usai melahirkan dan persiapkan apa yang harus dilakukan," ujar Nwadike, dikutip dari HaiBunda.
Biduran yang disebabkan oleh alergi biasanya akan muncul di sejumlah bagian tubuh, seperti wajah, bibir, lengan, tenggorokan, dan telinga, dan memicu munculnya gatal-gatal yang menyebabkan munculnya ruam dan kulit menjadi merah.
Pasalnya, saat tubuh bereaksi terhadap alergen, tubuh akan memproduksi protein histamin dan bahan kimia tertentu. Ketika tubuh melepaskan histamin, pembuluh darah di kulit akan menghasilkan plasma darah yang dapat memicu ruam, gatal, dan bentol-bentol.
Apa yang menyebabkan biduran?
Mengutip Parenting Firstcry, biduran yang dialami oleh ibu menyusui bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan, seperti aspirin, obat anti-inflamasi, obat tekanan darah tinggi, dan obat pereda nyeri.
Selain konsumsi obat-obatan, alergi pada bulu, makanan, dan serangga juga bisa dapat menyebabkan munculnya biduran di kulit.
Di sisi lain, biduran juga bisa muncul sebagai reaksi kulit lantaran keringat berlebih, stres emosional, dan infeksi mononukleosis. Paparan dingin, panas matahari, dan penyakit autoimun juga bisa menyebabkan munculnya bentol-bentol di tubuh ini.
Bagaimana jika ibu menyusui mengalami biduran?
Apabila ibu mengalami biduran saat tengah masa menyusui, maka para ibu tidak perlu khawatir dan berhenti memberikan ASI kepada bayinya. Sebab, biduran tidak akan menular, kecuali biduran yang disebabkan oleh infeksi virus.
Meski menghilangkan gatal-gatal saat menyusui bukanlah hal yang mudah, ibu bisa mencoba mengobati biduran dengan mengonsumsi obat antihistamin.
Akan tetapi, perlu diingat untuk melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu agar kandungan obat tidak bercampur dengan ASI. Sejumlah dokter biasanya akan menyarankan untuk segera mengonsumsi obat setelah menyusui. Hal ini dilakukan guna mengurangi kemungkinan obat terakumulasi dalam ASI.
Selain minum obat, biduran bisa diatasi dengan cara alami, lho. Bagaimana caranya?
KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar