Baru-baru ini nama Era Setyowati heboh jadi sorotan publik. Wanita yang juga menjadi Miss Landscape Indonesia 2019 mengaku punya anak dari 'Prof M'. Belakangan, muncul Profesor Muradi, bos BUMN yang juga guru besar sebuah perguruan tinggi di Bandung, menyampaikan bantahan atas pengakuan tersebut.
Profesor Muradi angkat bicara melalui kuasa hukumnya Patrice Rio Capella menegaskan tak berhubungan dengan Era Setyowati apalagi hingga memiliki anak.
"Klien kami menyampaikan bahwa tes DNA saja," jelas Patrice di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2021).
Sementara kuasa hukum Era Setyowati, Razman Arif Nasution, mengaku tak keberatan akan tantangan tersebut.
"Kalau dia merasa fitnah, merasa difitnah, ya sudah nanti kita buat tes DNA. Silakan lapor polisi, tes DNA. Kan kita siap tes DNA," tambahnya menjawab tantangan.
Sebenarnya bagaimana tes DNA bisa mencocokkan pola genetik anak dan sang ayah?
Dalam sebuah wawancara dengan detikcom, pakar genetika dr Helena Suryadi, MS, Wakil Kepala Laboratorium DNA Forensik Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, menjelaskan bahwa tes DNA untuk mengidentifikasi pewarisan genetik dilakukan dengan membandingkan pola DNA seperti sosok ayah yang diduga dari anak tersebut.
Pengambilan sampel untuk tes DNA paternitas ini bisa dari darah atau usapan selaput lendir pada wilayah bibir bagian dalam. Nantinya, ada lebih dari 20 marka autosom yang bisa dibandingkan bagaimana pewarisan hubungan antara ayah dan sang anak.
"Kalau masing-masing cocok, maka 99,999 persen adalah anak biologis," kata dr Helena, Selasa (6/3/2019).
Bagaimana ukuran tes DNA cocok atau tidak?
Menurutnya, dari 20 marka autosom, kalau ada tiga yang tak cocok sudah bisa dipastikan bukan anak biologis. Tes DNA yang dikenal dengan tes paternitas ini memiliki akurasi yang sangat tinggi.
"Kalau ada 3 saja yang tidak cocok, sudah bukan anak biologis," lanjutnya.
https://trimay98.com/movies/the-hollow/
Viral Wanita Cuma Menstruasi 2 Kali dalam Setahun, Ternyata Kena Penyakit Ini..
Viral di media sosial, seorang wanita mengalami gangguan menstruasi selama bertahun-tahun. Disebutkan, terkadang ia hanya mengalami haid sebanyak dua kali setahun.
Kisah ini dibagikan oleh Sastia Roria (23) lewat akun TikTok, @sastiaiaia, dan telah ditonton lebih dari 350.000 pengguna. Sastia mengaku periode menstruasi tidak teratur sudah dialaminya sejak duduk di bangku SMP.
Selain mengalami gangguan menstruasi, ia juga merasa berat badannya mudah sekali naik.
"Aku pribadi memang dari awal menstruasi pun tidak lancar bisa 2-3 bulan sekali dan paling parahnya setahun cuma dua kali. Kondisi lainnya body fat atau lemak tubuh cenderung tinggi, sering bloating kalau makan-makanan tertentu," kata Sastia saat dihubungi detikcom, Senin (5/4/2021).
"Padahal harusnya siklus mens yang normal di 21-35 hari," lanjutnya.
Hingga akhirnya ketika sudah menginjak di usia 20-an, ia mulai merasa ada yang aneh dengan dirinya, karena siklus menstruasi yang tak kunjung normal. Namun, ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, ia dikatakan hanya mengalami stres.
Tak puas dengan hasilnya, Sastia memutuskan pergi ke Singapura untuk memeriksakan kesehatan dirinya. Hasilnya, ia didiagnosis terkena polycystic ovary syndrome (PCOS).
"Pas umur 21-22 cek ke obgyn, tapi jawabannya sama karena memang faktor stres," ujarnya.
"Obgyn di Indonesia, padahal ini sudah USG dan tes darah juga. Baru pas aku ke Singapura didiagnosis PCOS, karena dari hasil USG sana ada kista kecil-kecil gitu," jelasnya.
dulu masih dikit banget yang aware sama #pcos , kalau sekarang mah udah banyak keliatannya #tiktoksehat #pcosawareness♬ Bongo cha-cha-cha - Remastered - Caterina Valente
Tidak ada komentar:
Posting Komentar