Minggu, 17 Januari 2021

CEO Telegram Klaim Facebook dan WhatsApp Lancarkan Serangan Hoax

 CEO Telegram Pavel Durov menuding bahwa ada upaya Facebook untuk menjatuhkan layanan pesan instan miliknya yang saat ini tengah meroket. Di sisi lain, kebijakan baru WhatsApp yang berbagi data dengan Facebook memicu kontroversi.

Pavel mengungkapkan berdasarkan informasi yang diterimanya, Facebook memiliki departemen khusus guna mengusut mengapa Telegram bisa sukses dan makin populer. Sebagai informasi, saat ini pengguna Telegram sudah melampaui 500 juta yang tersebar di berbagai negara.


"Dengan sekitar 500 juta pengguna dan terus berkembang, Telegram telah menjadi masalah utama bagi perusahaan Facebook," kata Pavel dikutip dari channel miliknya di Telegram.


Bahkan, Pavel mengklaim telah mendeteksi bot yang diperintahkan untuk menyebarkan informasi tidak akurat mengenai Telegram di media sosial. Pria yang pernah berkunjung ke Indonesia ini mengatakan bahwa itu ulah Facebook.


Ia pun memaparkan setidaknya ada tiga mitos berkaitan dengan informasi yang tidak akurat seperti dikatakannya. Pertama, "Kode Telegram bukanlah open-source". Padahal, Pavel mengatakan, platform pesan instan yang dibuatanya itu telah menjadi open-source sejak 2013.


"Enkripsi dan API kami didokumentasikan sepenuhnya dan telah ditinjau oleh pakar keamanan ribuan kali. Selain itu, Telegram adalah satu-satunya aplikasi perpesanan di dunia yang memiliki build yang dapat diverifikasi baik untuk iOS dan Android. Adapun WhatsApp, mereka sengaja mengaburkan kode mereka, sehingga tidak mungkin untuk memverifikasi enkripsi dan privasi mereka," tuturnya.


Kedua, "Telegram adalah bahasa Rusia". Faktanya, seperti disampaikan Pavel, Telegram tidak memiliki server atau kantor di Rusia. Malah layanan berlogo pesawat kertas ini diblokir sejak periode 2018 hingga 2020.


"Telegram masih diblokir di beberapa negara seperti Iran. Sementara, WhatsApp dan aplikasi "yang seharusnya aman" tidak pernah mengalami masalah di negara tersebut.


Ketiga, "Telegram tidak dienkripsi". Pavel mengatakan bahwa setiap percakapan yang terjadi di Telegram telah dienkripsi sejak layanan ini diluncurkan. Sedangkan WhatsApp, disebut Pavel, tidak terenkripsi selama beberapa tahun sebelum pada akhirnya mengikut jejak Telegram.


"WhatsApp, di sisi lain, tidak memiliki enkripsi selama beberapa tahun, dan kemudian mengadopsi protokol enkripsi yang didanai oleh Pemerintah AS. Meskipun kami berasumsi bahwa enkripsi WhatsApp solid, itu tidak valid melalui beberapa pintu belakang dan bergantung pada cadangan," pungkasnya.

https://nonton08.com/movies/monk-comes-down-the-mountain/


Jumlah Orang Meninggal Usai Divaksin Pfizer di Norwegia Bertambah


 Norwegia menyatakan kekhawatirannya terhadap keamanan vaksin Pfizer terhadap lansia setelah 29 orang meninggal, bertambah dari 23 orang.

Temuan ini membuat Norwegia mengambil kesimpulan kalau penggunaan vaksin COVID-19 terhadap lansia terlalu berisiko. Pihak Pfizer dan BioNTech pun sedang bekerja sama dengan pihak pemerintah Norwegia untuk meneliti kasus tersebut.


"Jumlah insiden sejauh ini belum mengkhawatirkan dan masih sesuai ekspektasi," tulis Pfizer dalam keterangannya, seperti dikutip detikINET dari Bloomberg, Minggu 17/1/2021).


Sebelumnya, jumlah orang yang meninggal adalah 23, namun kini bertambah enam orang. 13 dari 23 orang yang meninggal itu adalah pasien di rumah jompo. Pejabat setempat menyebut mereka meninggal karena efek samping pasien.


Penyebab kematian yang sebenarnya memang belum terungkap, namun saat ini Norwegia memang sudah memberikan setidaknya satu dosis vaksin ke 42 ribu orang, dan difokuskan pada orang-orang yang paling berisiko terhadap virus Corona, termasuk lansia.

https://nonton08.com/movies/in-the-heart-of-the-sea/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar