Sebuah 'harta karun' berisi catatan rahasia yang disimpan oleh CIA sehubungan dengan aktivitas UFO yang telah dilaporkan akhirnya terungkap.
Rilis publik ini disebut cukup lengkap dan berisi hampir seluruh arsip dokumentasinya tentang UFO yang sekarang disebut 'Unidentified Aerial Phenomena' (UAP). Informasi ini terdiri dari ratusan catatan yang sebelumnya sangat rahasia dan berusia lebih dari setengah abad.
Data ini bisa sampai ke publik berkat upaya yang telah lama dilakukan oleh situs web intelijen The Black Vault, yang sudah mencari dan berbagi dokumentasi pemerintah yang tidak diklasifikasikan tentang UFO sejak pertengahan 1990-an. Menurut pendiri situs tersebut, John Greenewald Jr., The Black Vault telah berjuang sejak tahun 1996 untuk merilis rekaman UFO ini.
Namun, tidak ada cara mudah untuk memverifikasi secara faktual apakah ini adalah keseluruhan arsip CIA, seperti yang diklaim oleh badan tersebut. Bisa saja juga pemerintah AS masih memegang catatan rahasia tentang UFO atau UAP yang belum pernah diungkap. Bagaimanapun, koleksi sebanyak 2.780 halaman yang sekarang tersedia di situs web The Black Vault tersebut cukup menarik perhatian untuk didalami lebih lanjut.
Ratusan catatan yang berasal dari pertengahan abad ke-20 ini dapat dibaca, baik melalui PDF atau file ZIP. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa tidak semua informasi dapat dibaca dengan mudah. Banyak detail dalam dokumen yang disunting dan belum lagi masalah kualitas pemindaian yang kurang jelas.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa UFO berarti 'Benda Terbang Tak Teridentifikasi'. Tidak selalu UFO berkaitan dengan alien dan tak jarang fenomena UFO bisa dijelaskan secara ilmiah. Demikian dilansir Science Alert.
https://maymovie98.com/movies/haunted-mansion/
Facebook Hapus Ribuan Akun Palsu Termasuk di Indonesia
Facebook mengumumkan telah menghapus lebih dari 2.000 akun palsu di platform mereka pada bulan Desember 2020. Mayoritas dari akun-akun tersebut berkaitan dengan kontestasi politik, beberapa di antaranya berkedok portal berita.
Dalam keterangan resmi yang dilansir detikINET dari CNet, Kamis (14/1/2021), Facebook merinci bahwa dari operasi penertiban siber mereka, telah dihapus 1.957 akun Facebook, 156 halaman publik, 727 grup, dan 707 akun Instagram. Akun-akun tersebut ditertibkan karena dianggap menyamarkan identitas dan tujuannya di platform Facebook.
Media sosial besutan Mark Zuckerberg itu menyatakan telah mengungkap sebanyak 14 jaringan akun palsu di berbagai negara. Adapun negara-negara tempat beroperasinya jaringan akun palsu tersebut, antara lain di Argentina, Brazil, Pakistan, Maroko, Ukraina, Kyrgyzstan, termasuk pula di Indonesia. Beberapa akun palsu di Perancis dan Rusia juga telah didepak pada awal Desember 2020.
Argentina muncul sebagai negara dengan jumlah jaringan akun palsu terbesar. Secara total terdapat 663 akun Facebook dan 388 akun Instagram di Negeri Tango yang dimusnahkan Facebook.
Facebook mengungkapkan akun-akun palsu tersebut beroperasi untuk kepentingan kontestasi politik di wilayahnya masing-masing. Mereka menargetkan warga lokal sebagai target penyebaran informasi yang kadang tidak benar.
"Kampanye lokal menimbulkan tantangan yang kompleks berupa pengaburan batas antara debat yang sehat dan manipulasi," tulis Facebook dalam laporannya dikutip CNet.
Penertiban akun palsu merupakan salah satu upaya Facebook untuk menunjukkan keseriusannya mengawasi penyebaran informasi palsu dan hasutan. Terlebih Facebook menjadi sorotan karena dianggap menjadi salah satu platform yang menjadi tempat berhembusnya hasutan yang menjadi pemicu kerusuhan berdarah di Gedung Capitol, Amerika Serikat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar