Beberapa bukti yang menunjukkan bahwa gejala COVID-19 juga dapat merusak pikiran. Hal itu dikarenakan komplikasi neurologis, mulai dari hilangnya kemampuan meraskan rasa dan mencium bau hingga kejang, yang muncul pada beberapa pasien COVID-19.
Sementara itu pasien long hauler atau mereka yang sembuh namun tetap merasakan gejala COVID-19 mengeluhkan brainfog. Saat ini ada kemungkinan keterkaitan antara COVID-19 dan psikosis atau gangguan mental.
The New York Times mencatat bahwa beberapa dokter di seluruh dunia melaporkan gejala psikotik pada sejumlah kecil pasien yang pernah mengalami infeksi Corona. Laporannya hanya berupa episode psikotik pasien setelah terinfeksi COVID-19.
Namun, belum ada bukti bahwa virus Corona menyebabkan psikosis. Ini hanyalah gambaran yang diamati oleh para ahli medis.
"Saya pikir ini sangat mengkhawatirkan karena seperti yang Anda lihat dan baca, ada lebih banyak lagi laporan kasus," ujar asisten profesor klinis psikiatri di Department of Consultation Liaison Psychiatry Stony Brook University Hospital, di New York, dr Mason Chacko dikutip dari Health.
Sebagai penulis utama dari laporan tersebut, dr Chacko menyaksikan fenomena itu. Dia mendeskripsikan seorang pria berusia 52 tahun yang percaya dialah penyebab pandemi virus Corona, dengan delusi paranoidnya menyebabkan upaya bunuh diri.
Meskipun dua tes COVID-19 menunjukkan hasil negatif, pemeriksaan darahnya menunjukkan tanda-tanda peradangan. Pengujian selanjutnya mengungkapkan bahwa dia memiliki antibodi untuk COVID-19, yang menunjukkan bahwa dia tertular virus.
Kondisi psikosis pria itu berhasil diobati melalui kombinasi obat-obatan dan terapi elektrokonvulsif, tetapi kasus ini dan kasus lainnya menimbulkan pertanyaan mengenai potensi efek COVID-19 pada otak.
Di sisi lain, sebagian besar kasus psikosis post-COVID melibatkan orang-orang berusia 30 hingga 50-an. Kejadian psikotik mereka tidak terkait dengan gejala fisik COVID-19.
National Alliance on Mental Illness (NAMI) mengungkapkan penderita psikosis biasanya sulit untuk menentukan mana yang nyata dan yang tidak, hingga mengalami halusinasi. Mereka mungkin mendengar suara-suara atau melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada atau mengalami sensasi aneh, dan delusi.
Sebuah laporan dari London, yang diterbitkan dalam jurnal Brain menuliskan bahwa seorang wanita berusia 55 tahun tanpa riwayat kejiwaan sebelumnya dirawat di rumah sakit setelah 14 hari mengalami gejala COVID-19. Setelah menjalani perawatan, wanita itu mengatakan halusinasi visual yang membuatnya mengira dia melihat singa dan monyet di rumahnya.
"Ada banyak bukti sekarang bahwa paparan infeksi, terutama virus dikaitkan dengan perkembangan gangguan psikotik," kata ahli di unit neurologi pencegahan Queen Mary University of London, dr Cameron J Watson.
https://tendabiru21.net/movies/the-housemaid-2/
WHO Kecewa, China Belum Berikan Izin Penelusuran Asal-usul COVID-19
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pihaknya sangat kecewa karena China masih belum mengizinkan masuknya tim ahli internasional untuk memeriksa asal-usul virus Corona.
Tim beranggotakan 10 orang itu dijadwalkan berangkat di awal Januari sebagai bagian dari misi yang telah lama ditunggu untuk menyelidiki kasus awal COVID-19 yang pertama kali dilaporkan setahun lalu di Wuhan, China.
"Hari ini kami mengetahui bahwa pejabat China belum menyelesaikan izin yang diperlukan untuk kedatangan tim (peneliti) di China," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers daring, dikutip dari Reuters, Rabu (6/1/2020).
"Saya telah melakukan kontak dengan pejabat senior China dan saya sekali lagi menjelaskan bahwa misi adalah prioritas WHO," lanjutnya kemudian.
Misi tersebut akan dipimpin oleh Peter Ben Embarek, ahli penyakit hewan, yang pergi ke China untuk misi pendahuluan Juli lalu.
Dua anggota tim internasional telah memulai perjalanan mereka ke China. Satu sekarang telah berbalik dan yang lainnya sedang transit di negara ketiga, kata kepala darurat Mike Ryan.
Menjelang perjalanan tersebut, Beijing telah berusaha untuk membentuk narasi tentang kapan dan di mana pandemi dimulai. Diplomat senior Wang Yi mengatakan "semakin banyak penelitian" menunjukkan bahwa hal COVID-19 muncul di berbagai wilayah.
China berkali-kali menepis kritik atas penanganan kasus awal yang muncul pada akhir 2019, meskipun beberapa termasuk Presiden AS Donald Trump telah mempertanyakan tindakan Beijing selama wabah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar