- Vaksin corona muncul dengan berbagai merek dagang mulai Sinovac, Pfizer, sampai Astrazeneca. Belum ada dua tahun pandemi, vaksin-vaksin ini sudah siap meluncur. Pertanyaannya, pernahkah ada vaksin lain yang dibuat lebih cepat atau sama cepatnya dari vaksin corona?
Dalam sejarah kedokteran, jarang ada vaksin yang dikembangkan dalam waktu kurang dari lima tahun. Di antara yang tercepat untuk dikembangkan adalah vaksin gondongan yang diisolasi dari pencucian tenggorokan seorang anak bernama Jeryl Lynn pada tahun 1963.
Selama beberapa bulan berikutnya, virus secara sistematis dilemahkan di laboratorium oleh ayahnya, seorang ilmuwan biomedis bernama Maurice Hilleman. Virus yang dilemahkan seperti itu merangsang tanggapan kekebalan tetapi tidak menyebabkan penyakit. Uji coba pada manusia dilakukan selama dua tahun berikutnya, dan vaksin tersebut dilisensikan oleh Merck pada Desember 1967, mengutip KHN.
Diketahui, para peneliti di seluruh dunia sedang mengembangkan lebih dari 125 vaksin COVID-19 untuk melawan virus corona. Vaksin biasanya membutuhkan penelitian dan pengujian selama bertahun-tahun sebelum mencapai uji klinis, tetapi para ilmuwan berlomba untuk menghasilkan vaksin yang aman dan efektif hanya dalam waktu kurang lebih setahun.
Pekerjaan dimulai pada bulan Januari dengan penguraian genom Sars-CoV-2. Uji coba keamanan vaksin pertama pada manusia dimulai pada Maret. Beberapa percobaan akan gagal, dan yang lainnya berakhir tanpa hasil yang jelas. Tetapi beberapa dinilai berhasil merangsang sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi yang efektif melawan virus.
1. Vaksin corona PT Bio Farma
2. Vaksin corona China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm)
3. Vaksin corona Novavax
4. Vaksin corona Sinovac
5. Vaksin corona Pfizer-BioNTech
6. Vaksin corona Oxford-AstraZeneca
7. Vaksin corona Moderna
https://kamumovie28.com/movies/geralds-game/
Mengenal Metadata WhatsApp: Data yang Lebih Data dari Data
Waduh, saya barusan agree, jadi WhatsApp bisa lihat transaksi BCA mobile saya?
Pertanyaan ini banyak dilontarkan karena dalam ketentuan penggunaan yang baru WhatsApp menyatakan akan memproses informasi tambahan, termasuk akun pembayaran dan informasi transaksi.
Siapapun yang menggunakan WhatsApp tentunya perlu khawatir jika benar WhatsApp memantau transaksi finansial mereka dan apa pasalnya kok aplikasi messsaging mengecek transaksi finansial ?
Namun hal ini sebenarnya berkaitan dengan sistem pembayaran WhatsApp Pay yang saat ini hanya tersedia di beberapa negara seperti di India dan saat ini tidak tersedia di Indonesia sehingga ketentuan ini tidak berlaku. Apalagi sampai memantau aktivitas finansial lain yang tidak ada hubungan dengan WhatsApp seperti mobile banking BCA, ini mah bukan messaging tapi Trojan. Dan jika WhatsApp Pay memang diluncurkan di Indonesia, maka akan ada ketentuan kebijakan privasi pembayaran khusus yang harus disetujui oleh pengguna WhatsApp Pay.
Sampai saat ini WhatsApp masih berusaha memegang komitmennya untuk tidak menampilkan iklan langsung di platform messaging, namun akibatnya Facebook Group harus menomboki biaya pengelolaan sumber daya WhatsApp yang harus melayani aktivitas chat dengan anggota sebanyak 2 miliar.
Kalau YouTube kan lain cerita, mereka sudah tidak nombok lagi dan penghasilan dari iklan di video bukan saja cukup untuk membiayai pengelolaan server dan bandwidth, malah banyak YouTuber yang kecipratan sebagian dari pendapatan iklan yang di terima YouTube. Karena itulah sebagai pemilik WhatsApp, Facebook group berpikir keras bagaimana melakukan monetisasi atas aplikasi yang dapat dikatakan paling aktif dan populer di muka bumi ini.
Kendala yang dihadapi WhatsApp dalam monetisasi adalah E2EE alias End to End Encryption dimana dalam seluruh komunikasi baik chat personal maupun group, harus dilindungi dengan enkripsi dan yang memiliki kunci membuka dan membaca pesan adalah hanya peserta chat/group yang bersangkutan. Tidak ada pihak lain yang memiliki kunci dekripsi untuk membaca pesan tersebut termasuk server WhatsApp sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar