Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengakui tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) untuk pasien COVID-19 semakin tinggi. Beberapa rumah sakit (RS) bahkan sudah terisi 100 persen.
Doni menjelaskan saat ini di DKI Jakarta saja ruang isolasi COVID-19 sudah 87 persen terpakai dari total 7.700 tempat tidur yang disediakan. Sementara keterisian untuk ICU juga sudah di angka 84 persen.
"Padahal di DKI pada periode bulan Mei yang lalu itu BOR total ICU di DKI itu jumlahnya kurang dari 600 bed. Sekarang sudah ditambah menjadi sekitar 962 bed, ditambah terus," kata Doni dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB pada Kamis (7/1/2021).
"Beberapa rumah sakit memang sudah 100 persen. Tentunya kalau sudah 100 persen tidak bisa lagi ditampung sehingga ada beberapa warga, masyarakat, teman-teman kita yang meminta bantuan pada saya akhirnya kita alihkan ke tempat lain," lanjutnya saat menjawab soal mulai ramai keluhan warga ditolak RS.
Tingkat keterisian tempat tidur ini jadi cerminan situasi wabah COVID-19 di Indonesia.
Doni mengimbau agar seseorang yang terdeteksi positif langsung isolasi mandiri. Bila tidak mampu atau tempatnya tidak layak maka minta bantuan satgas atau otoritas setempat agar diarahkan ke fasilitas yang sudah disediakan.
"Sekali lagi kita harus segera melakukan berbagai langkah dan upaya agar rumah sakit ini tidak boleh penuh. Kalau penuh tentu akan menimbulkan rasa khawatir dan juga berdampak panik pada masyarakat," pungkas Doni.
https://maymovie98.com/movies/two-sisters-in-law/
Makan Bareng-bareng Picu Penularan COVID-19 Klaster Keluarga-Perkantoran?
Makan siang bareng teman-teman kantor memang seru. Tapi ada baiknya dihindari dulu di masa pandemi ini karena disinyalir penularan COVID-19 banyak terjadi pada momen seperti ini.
Ini diungkap oleh Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, Ratri S Survivalina, kepada wartawan baru-baru ini. Menurutnya, kegiatan makan bersama juga berpotensi memicu penularan di klaster keluarga.
"Karena pada waktu makan itu biasanya pada buka masker. Kemudian pada saat makan bersama disitu biasanya terjadi ngobrol ya dan itu ternyata disinyalir menjadi salah satu sumber penularan yang utama di klaster keluarga maupun di klaster tempat kerja," jelasnya.
Maka, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari kegiatan makan bersama. Jika tidak bisa dihindari, sebaiknya posisinya jangan saling berhadapan, sehingga potensi penularan virus Corona bisa dihindarkan.
"Sehingga untuk mewaspadai penularan di klaster keluarga dan di tempat kerja ini sebaiknya untuk makan bersama itu mulai dihindari. Kalaupun memang tidak bisa dihindarkan itu posisinya supaya jangan berhadapan. Jadi makan bersama itu posisinya saling membelakangi, sehingga potensi penularan ini benar-benar bisa dihindarkan," imbau Lina, sapaan akrabnya.
Dalam sepakan terakhir atau dari tanggal 30 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021, Lina menyebut di Boyolali ada tambahan jumlah kasus baru positif COVID-19 sebanyak 223 orang. Jumlah tersebut tersebar di 20 kecamatan.
Dengan tambahan tersebut, sehingga sampai saat ini jumlah kasus konfirmasi positif COVID-19 di Boyolali sebanyak 3.414. Dengan rincian yang dirawat 133 orang, yang isolasi mandiri 232 orang, selesai isolasi 2.944 orang dan meninggal dunia ada 105 orang.
"Untuk skoring IKM COVID-19 Boyolali saat ini diangka 1,88, dengan demikian Boyolali berada di zona orange atau zona risiko sedang," jelasnya.
Menurut Lina, pihaknya agak kesulitan untuk mengidentifikasi klaster kasus COVID-19 di Boyolali. Hal ini dikarenakan perkembangan atau kasusnya sudah banyak sekali, sehingga hampir semua jadi satu dan sulit di ketahui mana ujungnya dan mana pangkalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar