Jakarta punya sejumlah ruas jalan yang dilengkapi jalur khusus pesepeda. Namun fungsi jalur ini lebih ditujukan untuk sepeda sebagai sarana transportasi dibanding untuk sport atau olahraga.
Untuk olahraga, sepeda jenis roadbike umumnya melaju dengan kecepatan tinggi. Ada yang sampai 40-50 km/jam, bahkan bisa 60 km/jam. Untuk masuk ke jalur sepeda yang lebarnya tidak lebih dari 2 meter, pesepeda yang masuk kategori olahraga umumnya akan kesulitan dan malah membahayakan.
Kondisi inilah yang kerap jadi alasan pesepeda tidak gowes di jalurnya. Nah yang viral baru-baru ini, rombongan pesepeda tertangkap kamera menerobos Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari yang tidak dilengkapi jalur sepeda.
Sebenarnya, bagaimana aturan bersepeda untuk olahraga?
Ketua Dewan Transportasi Jakarta (DTKJ) Haris Muhammadun mengakui ada perbedaan antara sepeda sebagai sarana transportasi dengan sepeda sebagai sarana olahraga. Jalur sepeda yang ada saat ini disebutnya lebih ditujukan untuk transportasi bagi pesepeda yang pergi-pulang dari tempat kerja.
"Kalau sepeda sport ada kritera kusus, seperti CFD (Car Free Day) yang sengaja ditutup untuk bersepeda sehat dengan leluasa, tidak dibatasi dengan jalur sepeda yang disediakan," jelas Haris saat dihubungi detikcom, Selasa (11/8/2020).
Bersepeda untuk kepentingan olahraga, menurut Haris kadang-kadang juga memanfaatkan jalan umum, yang artinya mix dengan kendaraan lain. Pada kondisi ini, dibutuhkan pengawalan dari petugas.
"Untuk sport loh, bukan untuk sehari-hari," tegasnya.
Setujukah jika harus berbagi jalan untuk olahraga? Sampaikan pendapat di komentar.
Uji Klinis Tak Lengkap, Vaksin Corona Rusia 'Sputnik V' Dikritik
Pengumuman oleh Rusia pada Selasa (11/8/2020) yang menyatakan mereka akan menyetujui penggunaan vaksin Corona dengan hanya melakukan pengujian selama kurang dari dua bulan memicu kekhawatiran para ahli kesehatan global. Para ahli menyebut tanda data uji coba lengkap, vaksin yang diberi nama 'Sputnik V' itu sulit dipercaya keamanannya.
Bermaksud menjadi yang pertama dalam perlombaan global untuk mengembangkan vaksin melawan penyakit pandemi, Rusia belum melakukan uji coba skala besar yang akan menimbulkan risiko serius.
"Rusia pada dasarnya melakukan percobaan di tingkat populasi yang lebih besar. Persetujuan super cepat seperti itu dapat berarti bahwa potensi efek merugikan dari vaksin mungkin tidak terdeteksi," kata Ayfer Ali, seorang spesialis dalam penelitian obat-obatan di Sekolah Bisnis Warwick Inggris dikutip dari Channel News Asia.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan vaksin yang dikembangkan oleh Institut Gamaleya Moskow itu aman dan telah diberikan kepada salah satu putrinya.
Francois Balloux, seorang ahli di Institut Genetika Universitas College London, mengatakan itu adalah 'keputusan yang sembrono dan bodoh'.
"Vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji secara tidak tepat tidak etis," sebut Balloux.
Persetujuan vaksin Rusia oleh Kementerian Kesehatan dilakukan sebelum uji coba yang biasanya melibatkan ribuan peserta, umumnya dikenal sebagai uji coba Fase III.
Uji coba semacam itu biasanya dianggap sebagai prekursor penting bagi vaksin untuk mendapatkan persetujuan regulasi.
Peter Kremsner, seorang ahli di Rumah Sakit Universitas Jerman di Tuebingen yang sedang mengerjakan uji klinis calon vaksin dari CureVac, mengatakan langkah Rusia itu terlalu cepat dan terkesan terburu-buru.
"Biasanya Anda membutuhkan banyak orang untuk diuji sebelum Anda menyetujui suatu vaksin. Saya pikir itu sembrono untuk melakukan itu jika banyak orang belum pernah diuji."
Para ahli mengatakan kurangnya data yang dipublikasikan tentang vaksin Rusia, termasuk bagaimana pembuatannya dan perincian tentang keamanan, respons kekebalan dan apakah dapat mencegah infeksi COVID-19, membuat para ilmuwan, otoritas kesehatan, dan publik bisa meragukan efektivitas vaksin tersebut.
https://kamumovie28.com/baik-baik-sayang-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar