Sudah sebulan lebih wabah virus corona 2019-nCoV menjadi ancaman di berbagai negara, dan belum ada satu pun kasus positif di Indonesia. Hingga kini, hari Senin (10/2/2020), jumlah yang terinfeksi sudah mencapai 40.552 kasus dan 910 di antaranya meninggal dunia.
Memiliki wilayah yang cukup besar, tentu menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga virus corona agar tidak masuk ke Indonesia. Terlebih sebuah penelitian di Harvard University memperkirakan seharusnya sudah ada kasus yang dilaporkan di Indonesia.
"Itu merupakan tantangan sendiri tapi kita harus tetap memelihara kewaspadaan petugas-petugas yang ada di garis depan," kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, kepada detikcom, Senin (10/2/2020).
Prof Amin juga mengatakan perlu adanya kesiapan yang memadai dari sisi pendeteksian pasien yang diduga terinfeksi virus corona. Sebab pengecekan yang dilakukan, tak bisa hanya bergantung kepada petugas di bandara maupun pelabuhan.
"Jadi di back office atau laboratorium dan sebagainya harus tetap memiliki kapasitas yang memadai secara kualitas maupun kuantitasnya dalam menangani kasus ini," ucap Prof Amin.
Sebab kemungkinan virus corona masuk ke Indonesia, tetap saja bisa terjadi. Lantaran mengingat negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia pun sudah terinfeksi virus ini.
"Namanya juga kita menghadapi suatu ancaman dari luar, kalau kita menganggap tidak mungkin kan berarti kita nggak usah siaga satu kan," jelasnya.
"Jadi kalau ditanya kemungkinan, ya ancaman itu ada," pungkasnya.
Alasan untuk Tak Panik Menyikapi Riset Harvard Soal Virus Corona di RI
Ramai diperbincangkan kembali sebuah riset yang dilakukan di Harvard University. Sebab riset tersebut memprediksi seharusnya virus corona 2019-nCoV sudah masuk ke Indonesia.
Menanggapi hal ini Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, mengatakan meski studi yang dilakukan berdasarkan keilmuan dan faktor-faktor yang mendukung, tetap saja itu hanyalah sebuah prediksi.
"Studi itu kan berdasarkan keahlian yang mereka miliki dalam membuat prediksi. Prediksi itu kan bukan sesuatu yang harus diikuti," kata Prof Amin, kepada detikcom, Senin (10/2/2020).
Meskipun begitu, menurutnya riset yang dilakukan di Harvard University tersebut tetap bisa di pertanggungjawabkan.
"Iya bisa dipertanggungjawabkan, artinya mereka dalam publikasinya sudah menyebutkan faktor-faktor A, B, C, D. Artinya faktor-faktor yang mereka teliti itu adalah yang mereka kuasai dan mereka anggap itu tidak akan berubah-ubah," ucap Prof Amin.
Prof Amin juga mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik dengan adanya studi ini. Alasannya, hal ini masih menjadi sebuah prediksi.
"Prediksi itu kita pakai hanya untuk menambah kewaspadaan saja, bukan untuk menambah panik atau menjadi paranoid, namanya juga prediksi," imbaunya.
"Kita harus menyikapi dengan cerdas prediksi itu," pungkasnya.
Riset Harvard Soal Virus Corona di Indonesia Seharusnya Tak Bikin Panik
Ramai diperbincangkan kembali sebuah riset yang dilakukan di Harvard University. Riset tersebut memprediksi seharusnya virus corona 2019-nCoV sudah masuk ke Indonesia.
Menanggapi hal ini Prof Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mengatakan riset tersebut hanyalah sebuah prediksi sehingga masyarakat tak perlu panik.
"Prediksi itu kita pakai hanya untuk menambah kewaspadaan saja, bukan untuk menambah paranoid. Namanya juga prediksi, kita harus menyikapi dengan cerdas prediksi itu," Kata Prof Amin, kepada detikcom, Senin (10/2/2020).
Menurutnya, masyarakat harus tetap waspada dan menjaga kebersihan, serta jangan terlalu terpaku dengan virus corona. Sebab masih banyak virus yang lebih menular dan berbahaya bagi kesehatan.
"Virus influenza misalnya, itu lebih menular dan angka kematiannya juga lebih tinggi, sama-sama menyebabkan gangguan kesehatan yang parah pada usia lanjut," ucap Prof Amin.
"Jadi, jangan hanya terpaku pada virus corona dan kemudian mengabaikan infeksi yang lain," tuturnya.
https://kamumovie28.com/my-friends-mother-yui-kasuga-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar