Rabu, 12 Agustus 2020

Percaya Hoax Disebut Lebih 'Mematikan' dibanding Corona, Termasuk di Indonesia

 Sebuah penelitian baru membuktikan bahwa masyarakat yang percaya soal hoax virus Corona dapat menyebabkan banyak kematian, termasuk Indonesia. Studi ini menemukan hoax terkait virus Corona di Indonesia yang merupakan salah satu negara yang terbanyak di dunia.
Dikutip dari laman CNN, studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menunjukkan bahwa stigma, rumor, dan teori konspirasi terkait virus Corona beredar dalam 25 bahasa di 87 negara yang diteliti.

Penelitian ini menganalisis stigma, teori konspirasi, dan rumor terkait COVID-19 yang diunggah ke surat kabar, dan situs online pada rentang waktu dari 31 Desember 2019 hingga 5 April 2020.

Para peneliti mendefinisikan rumor sebagai informasi yang belum diverifikasi kebenarannya, informasi yang salah, atau dibuat-buat. Sedangkan stigma terkait dengan diskriminasi suatu kelompok. Sementara teori konspirasi didefinisikan sebagai mengarahkan individu atau kelompok pada sebuah kepercayaan yang tak terbukti kebenarannya.

Peneliti tersebut mengidentifikasi 2.311 laporan hoax terkait virus Corona COVID-19 dari 87 negara. Sebanyak 89 persen diklasifikasikan sebagai rumor, 7,8 persen soal teori konspirasi, dan 3,5 persen adalah stigma.

Peneliti menyebutkan beberapa contoh rumor diantaranya 'telur unggas terkontaminasi virus Corona' dan 'minum pemutih dapat membunuh virus'. Contoh stigma seperti 'virus Corona adalah senjata biologis yang didanai Bill & Melinda Gates Foundation untuk meningkatkan penjualan vaksin' dan penyakit datang dari China.

Para peneliti mendapati mayoritas hoax tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS), India, Spanyol, China, Indonesia, dan Brasil.

Analisis tersebut menunjukkan 24 persen hoax terkait dengan penyakit COVID-19, adalah kematian dan penularan virus Corona. Sebanyak 21 persen hoax terkait dengan bagaimana upaya pengendalian, 19 persen untuk pengobatan, dan 15 persen untuk asal usul virus. Peneliti menyatakan kesalahan informasi itu menyebabkan cedera dan kematian.

"Menyusul kesalahan informasi ini, sekitar 800 orang telah meninggal, sedangkan 5.876 telah dirawat di rumah sakit dan 60 telah mengembangkan kebutaan total setelah minum metanol sebagai obat untuk virus corona," tulis peneliti.

Peneliti menyadari studi ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti data yang berasal dari platform online sehingga diperkirakan lebih banyak informasi yang salah yang beredar di masyarakat.

102 Hari Nol Kasus Baru Corona, Selandia Baru 'Kecolongan' Lagi

 Selandia Baru kembali memberlakukan pembatasan atau lockdown. Hal ini dikarenakan muncul lagi empat kasus baru setelah 102 hari dinyatakan 'bebas' dari COVID-19.
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengkonfirmasi empat kasus virus Corona yang ditularkan secara lokal pada Selasa (11/8), dan mengumumkan bahwa kota terpadat di Selandia Baru, Auckland, akan di lockdown selama tiga hari.

"Setelah 102 hari, kita memiliki kasus COVID-19 lagi di luar fasilitas karantina, kami telah menyiapkan untuk hal ini," kata Ardern dikutip dari AFP.

Keempat kasus tersebut ditemukan dalam satu rumah di Auckland Selatan. Bepergian ke Auckland akan dilarang kecuali orang tinggal di sana dan sedang dalam perjalanan pulang.

Setelah pengumuman kasus baru, semua pemilik telepon selular di negara ini mendapatkan SMS yang berisi pengumuman "bila anda berada di Auckland, tetap di rumah, selamatkan diri," demikian bunyi pesan tersebut.

Selandia Baru sempat dipuji oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai negara yang sukses mengendalikan penularan virus Corona. Sejak 1 Mei, tidak ada kasus baru yang dilaporkan.

Warga di Selandia Baru menikmati hidup yang hampir normal. Bahkan pertandingan olahraga sudah membolehkan adanya penonton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar