Rabu, 12 Agustus 2020

China Kembali Temukan Jejak Corona di Kemasan Seafood Beku

Otoritas berwenang di China baru-baru menemukan virus Corona COVID-19 pada kemasan makanan laut beku impor yang datang dari kota pelabuhan Dalian. Virus Corona didapati di kemasan luar makanan laut beku yang dibeli oleh tiga perusahaan di Yantai, di Provinsi Shandong Timur.
Dikutip dari laman CNA, pemerintah kota Yantai mengatakan bahwa makanan laut tersebut berasal dari pengiriman impor yang sempat singgah di pelabuhan Dalian. Namun tidak disebutkan lebih lanjut dari mana asalnya.

Sebelumnya pada bulan Juli lalu, petugas bea cukai di Dalia, pelabuhan utama di provinsi timur laut Liaoning, menemukan virus Corona dalam kemasan udang beku yang diimpor dari Ekuador, dan China kemudian menangguhkan impor dari tiga produsen udang Ekuador.

Sebagian makanan laut yang dibeli tiga perusahaan Yantai telah diproses untuk ekspor, sedangkan sisanya disimpan di kulkas dan belum masuk pasar.

Pihak berwenang pun telah menutup barang-barang tersebut. Setiap orang yang menangani produk makanan beku tersebut kini tengah dikarantina dan telah dinyatakan negatif virus Corona COVID-19.

Virus Corona COVID-19 di kota Dalian dimulai pada akhir Juli lalu, dengan kasus pertama muncul di sebuah perusahaan pengolahan makanan laut. Sementara hingga Minggu (9/8/2020), Dalian melaporkan jumlah infeksi virus Corona mencapai 92 kasus.

COVID-19 diyakini pertama muncul di pasar yang menjual makanan laut dan satwa liar di kota Wuhan, China pada akhir 2019 lalu. Sejak saat itu, wabah COVID-19 menyebar ke seluruh dunia dengan beberapa kasus baru dibawa oleh pelancong China yang kembali ke negara asalnya.

Berdasarkan laporan dari Worldometers, hingga saat ini Rabu (12/8/2020), China mencatatkan total kasus virus Corona mencapai 84.712 dengan 4.634 kematian.

Percaya Hoax Disebut Lebih 'Mematikan' dibanding Corona, Termasuk di Indonesia

 Sebuah penelitian baru membuktikan bahwa masyarakat yang percaya soal hoax virus Corona dapat menyebabkan banyak kematian, termasuk Indonesia. Studi ini menemukan hoax terkait virus Corona di Indonesia yang merupakan salah satu negara yang terbanyak di dunia.
Dikutip dari laman CNN, studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menunjukkan bahwa stigma, rumor, dan teori konspirasi terkait virus Corona beredar dalam 25 bahasa di 87 negara yang diteliti.

Penelitian ini menganalisis stigma, teori konspirasi, dan rumor terkait COVID-19 yang diunggah ke surat kabar, dan situs online pada rentang waktu dari 31 Desember 2019 hingga 5 April 2020.

Para peneliti mendefinisikan rumor sebagai informasi yang belum diverifikasi kebenarannya, informasi yang salah, atau dibuat-buat. Sedangkan stigma terkait dengan diskriminasi suatu kelompok. Sementara teori konspirasi didefinisikan sebagai mengarahkan individu atau kelompok pada sebuah kepercayaan yang tak terbukti kebenarannya.

Peneliti tersebut mengidentifikasi 2.311 laporan hoax terkait virus Corona COVID-19 dari 87 negara. Sebanyak 89 persen diklasifikasikan sebagai rumor, 7,8 persen soal teori konspirasi, dan 3,5 persen adalah stigma.

Peneliti menyebutkan beberapa contoh rumor diantaranya 'telur unggas terkontaminasi virus Corona' dan 'minum pemutih dapat membunuh virus'. Contoh stigma seperti 'virus Corona adalah senjata biologis yang didanai Bill & Melinda Gates Foundation untuk meningkatkan penjualan vaksin' dan penyakit datang dari China.

Para peneliti mendapati mayoritas hoax tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS), India, Spanyol, China, Indonesia, dan Brasil.

Analisis tersebut menunjukkan 24 persen hoax terkait dengan penyakit COVID-19, adalah kematian dan penularan virus Corona. Sebanyak 21 persen hoax terkait dengan bagaimana upaya pengendalian, 19 persen untuk pengobatan, dan 15 persen untuk asal usul virus. Peneliti menyatakan kesalahan informasi itu menyebabkan cedera dan kematian.

"Menyusul kesalahan informasi ini, sekitar 800 orang telah meninggal, sedangkan 5.876 telah dirawat di rumah sakit dan 60 telah mengembangkan kebutaan total setelah minum metanol sebagai obat untuk virus corona," tulis peneliti.

Peneliti menyadari studi ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti data yang berasal dari platform online sehingga diperkirakan lebih banyak informasi yang salah yang beredar di masyarakat.
https://kamumovie28.com/variant/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar