Kamis, 06 Agustus 2020

Perawat di Wuhan Botaki Rambut demi Rawat Pasien COVID-19

Empat perawat yang bekerja di Rumah Sakit Pusat Wuhan akhirnya mencukur rambutnya hingga botak. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mereka lebih cepat memakai alat pelindung dalam merawat pasien COVID-19.

Dikutip dari New York Post, sebelumnya keempat perawat itu tidak ingin memotongnya. Keputusan sulit ini akhirnya diambil demi meningkatkan efisiensi mereka dalam bekerja merawat pasien.

"Aku sudah menjaga rambut panjang ini dalam waktu yang lama. Bahkan aku tidak ingin memotongnya sedikitpun," kata Ding Danyi (26), salah satu perawat tersebut.

"Tetapi untuk melawan virus, ada baiknya mencukur semua rambut yang ada di kepala saya," lanjutnya.

Keputusan ini dibuat para perawat saat penyakit akibat virus corona yang menyerang sejak akhir Desember 2019 lalu diberi nama COVID-19. Hingga saat ini, virus ini tercatat telah menewaskan sedikitnya 1.367 warga di China, dan jumlah kasus yang terkonfirmasi di seluruh dunia mencapai 60.000 pada Kamis lalu.

"Bakteri dan virus juga bisa saja masuk ke dalam rambut dan membuat orang di sekitar termasuk saya bisa terinfeksi," kata perawat lainnya, Tiantian Wang.

AS Ungkap Beberapa Alat Uji Virus Corona Tidak Berfungsi dengan Baik

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) mengatakan ada beberapa alat uji virus corona yang telah dikirim ke negara bagian, tidak berfungsi dengan baik. Hal ini disebabkan adanya komponen yang rusak atau tidak berfungsi.

"Setelah alat uji diberikan, ternyata itu tidak berfungsi seperti yang diharapkan, khususnya yang berada di laboratorium kesehatan masyarakat di beberapa negara bagian. Sehingga hasil yang didapat tidak akurat," kata perwakilan CDC, Nancy Messonnier yang dikutip dari CNN.

Keadaan ini membuat beberapa negara bagian tidak bisa memvalidasi tes dengan baik. Beberapa negara itu melaporkannya ke CDC dan meminta untuk segera dikirimkan komponen penggantinya. CDC juga tidak mengkonfirmasi berapa jumlah negara bagian yang mengalami hal tersebut.

Pihak CDC akhirnya membuat komponen baru dan dikirimkan kembali ke negara bagian yang memiliki masalah dengan mesin pengujinya.

"Kami memiliki beberapa level kontrol kualitas untuk mendeteksi masalah seperti ini. Kami juga sedang mencari sumber masalah ini untuk memahami apa yang salah, dan untuk mencegah hal-hal yang sama ini terjadi di masa depan," kata Messonnier.

Tapi tidak semua negara bagian mengalami hal yang sama. Menurut Departemen Kesehatan Masyarakat Illinois, mereka perangkat mereka bekerja dengan baik dan bisa terus melanjutkan pengujian untuk virus corona.

Viral, Korut Dikabarkan Eksekusi Suspek Corona yang Kabur dari Karantina

Saat penyebaran virus corona COVID-19 terjadi, Korea Utara menjadi negara pertama yang melakukan tindakan tegas dalam mengantisipasi penyebaran virus ini. Dikutip dari Dailymail, Korea Utara menjadi negara pertama yang memblokir semua turis asing untuk masuk sebagai langkah pencegahan penyebaran virus ini.
Namun langkah-langkah yang diambil cukup kontroversial, seperti mengisolasi siapa pun yang pernah berkunjung ke China atau melakukan kontak dengan warga negara tirai bambu tersebut. Pemerintah Korea Utara pun tak segan-segan untuk mengeksekusi warga negaranya yang tak mematuhi hukum yang telah ditetapkan.

Baru-baru ini, surat kabar Korea, Dong-a Ilbo menuliskan ada seorang pejabat di Korea Utara yang ditembak mati akibat keluar dari tempat karantina dan pergi ke pemandian umum.

Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19, lantaran pemandian umum menjadi tempat para kelelawar berinteraksi.

Kejadian ini adalah hal umum bagi pemerintah Korea Utara untuk mengeksekusi individu dalam hal-hal genting seperti ini. Sebab Kim Jong-un telah membuat keputusan bahwa siapa pun yang meninggalkan karantina tanpa persetujuan, akan dieksekusi sesuai dengan 'hukum militer'.

Hingga saat ini Korea Utara belum mengkonfirmasi kasus infeksi COVID-19.
https://kamumovie28.com/a-lewd-sister-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar