Kamis, 06 Agustus 2020

AS Ungkap Beberapa Alat Uji Virus Corona Tidak Berfungsi dengan Baik

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) mengatakan ada beberapa alat uji virus corona yang telah dikirim ke negara bagian, tidak berfungsi dengan baik. Hal ini disebabkan adanya komponen yang rusak atau tidak berfungsi.

"Setelah alat uji diberikan, ternyata itu tidak berfungsi seperti yang diharapkan, khususnya yang berada di laboratorium kesehatan masyarakat di beberapa negara bagian. Sehingga hasil yang didapat tidak akurat," kata perwakilan CDC, Nancy Messonnier yang dikutip dari CNN.

Keadaan ini membuat beberapa negara bagian tidak bisa memvalidasi tes dengan baik. Beberapa negara itu melaporkannya ke CDC dan meminta untuk segera dikirimkan komponen penggantinya. CDC juga tidak mengkonfirmasi berapa jumlah negara bagian yang mengalami hal tersebut.

Pihak CDC akhirnya membuat komponen baru dan dikirimkan kembali ke negara bagian yang memiliki masalah dengan mesin pengujinya.

"Kami memiliki beberapa level kontrol kualitas untuk mendeteksi masalah seperti ini. Kami juga sedang mencari sumber masalah ini untuk memahami apa yang salah, dan untuk mencegah hal-hal yang sama ini terjadi di masa depan," kata Messonnier.

Tapi tidak semua negara bagian mengalami hal yang sama. Menurut Departemen Kesehatan Masyarakat Illinois, mereka perangkat mereka bekerja dengan baik dan bisa terus melanjutkan pengujian untuk virus corona.

Viral, Korut Dikabarkan Eksekusi Suspek Corona yang Kabur dari Karantina

Saat penyebaran virus corona COVID-19 terjadi, Korea Utara menjadi negara pertama yang melakukan tindakan tegas dalam mengantisipasi penyebaran virus ini. Dikutip dari Dailymail, Korea Utara menjadi negara pertama yang memblokir semua turis asing untuk masuk sebagai langkah pencegahan penyebaran virus ini.
Namun langkah-langkah yang diambil cukup kontroversial, seperti mengisolasi siapa pun yang pernah berkunjung ke China atau melakukan kontak dengan warga negara tirai bambu tersebut. Pemerintah Korea Utara pun tak segan-segan untuk mengeksekusi warga negaranya yang tak mematuhi hukum yang telah ditetapkan.

Baru-baru ini, surat kabar Korea, Dong-a Ilbo menuliskan ada seorang pejabat di Korea Utara yang ditembak mati akibat keluar dari tempat karantina dan pergi ke pemandian umum.

Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19, lantaran pemandian umum menjadi tempat para kelelawar berinteraksi.

Kejadian ini adalah hal umum bagi pemerintah Korea Utara untuk mengeksekusi individu dalam hal-hal genting seperti ini. Sebab Kim Jong-un telah membuat keputusan bahwa siapa pun yang meninggalkan karantina tanpa persetujuan, akan dieksekusi sesuai dengan 'hukum militer'.

Hingga saat ini Korea Utara belum mengkonfirmasi kasus infeksi COVID-19.

Hasil Tes Negatif Virus Corona COVID-19 Bisa Berubah Positif, Ini Penyebabnya

Sebelum dipastikan menjadi pasien positif COVID-19, para suspek yang menunjukkan berbagai gejala diisolasi dan menjalani tes atau uji lab. Hal ini untuk memastikan ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh.

Dikutip dari BBC, ada beberapa negara yang pasiennya sudah menjalani tes sebanyak 6 kali dan dinyatakan positif. Tapi, setelahnya malah didiagnosa mengidap COVID-19.

Dalam menguji sampel dari suspek, pihak pusat endemi di Provinsi Hubei, China, menggunakan tes Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Ini adalah tes standar yang digunakan untuk mendeteksi penyakit akibat virus, seperti HIV dan influenza.
Baca juga: Virus Corona Ternyata Mampu Bertahan 9 Hari di Permukaan

"Mereka (suspek) dites akurat secara umum dengan RT-PCR, yang tingkat false-positive rendah dan false-negative rendah," kata dr Nathalie MacDermott dari King's College London.

Namun, sebuah studi dalam jurnal Radiology menunjukkan 5 dari 167 pasien yang negatif dengan kondisi paru-paru yang sakit, malah dinyatakan positif saat dites kembali. Bahkan dengan adanya penemuan ini, dr Nancy Messonnier dari Centers for Disease and Prevention mengatakan hasil tes uji tersebut tidak meyakinkan.

"Gejala COVID-19 ini mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Mungkin saat pertama diuji, mereka tidak terinfeksi, tapi seiring berjalan waktu mungkin mereka terinfeksi, dites kemudian positif. Itu kemungkinan," kata dr MacDermott.

"Pada kasus Ebola, kami selalu menunggu sampai 72 jam setelah hasil negatif keluar. Ini untuk memastikan virus tersebut benar-benar tidak ada di dalam tubuh manusia," imbuhnya.

dr MacDermott juga memperkirakan bisa saja dokter yang mengujinya mengambil sampel yang salah dan hasilnya negatif. Agar lebih akurat, ia menyarankan untuk mendapatkan kode genetik virus yang tepat dulu sebelum menjalani tes.

"Selain itu, para petugas medis juga harus terus menguji atau tes lagi para pasien, selama mereka masih memiliki gejala untuk memastikan secara akurat," harapnya.
https://kamumovie28.com/fiancees-sister-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar