Jumat, 21 Agustus 2020

Mutasi Corona D614G, 10 Kali Lebih Menular Tapi Tak Lebih Mematikan

 Belum lama ini heboh soal mutasi virus Corona 10 kali lebih menular yang ditemukan di Malaysia. Mutasi virus ini sebelumnya umum ditemui di Eropa, Amerika Serikat (AS), dan sebagian negara di Asia.
Dikutip dari laman Reuters, ilmuwan menyebut mutasi virus Corona COVID-19 tersebut mungkin lebih menular, tetapi tidak terlalu mematikan. Mengapa dikatakan seperti itu?

Pakar penyakit menular terkemuka sekaligus Presiden International Society of Infectious Diseases, Paul Tambyah menjelaskan adanya bukti yang menunjukkan mutasi virus Corona tidak berbahaya. Mutasi Corona tersebut bernama D614G di beberapa bagian dunia bertepatan dengan laporan menurunnya tingkat kematian.

Hal ini yang kemudian diyakini oleh pakar bahwa mutasi Corona D614G memang tidak terlalu mematikan. Bahkan, mutasi Corona malah menjadi kabar baik.

"Mungkin itu hal yang baik untuk memiliki virus yang lebih menular tetapi tidak terlalu mematikan," ujar Tambyah kepada Reuters.

Tambyah mengatakan, sebagian besar virus tersebut cenderung menjadi kurang ganas saat bermutasi. "Adalah kepentingan virus untuk menginfeksi lebih banyak orang tetapi tidak membunuh mereka karena virus bergantung pada inang untuk makan dan tempat berlindung," tambahnya.

Para ilmuwan pun menemukan mutasi Corona 10 kali lebih menular pada awal Februari 2020 lalu. Mutasi Corona D614G sebelumnya telah beredar di Eropa dan Amerika lebih dulu sebelum ditemukan di Malaysia.

Menanggapi hal tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)akan melakukan pelacakan.

Menurut ahli epidemiologi dan penyakit infeksi WHO, dr Maria Van Kerkhove, mutasi virus D614G sebenarnya telah menyebar dan teridentifikasi sebelumnya sejak Februari 2020. Virus ini merupakan strain utama yang beredar di Amerika Utara, Eropa, dan kembali lagi ke Asia.

"Hal penting yang kami lakukan adalah melacak virus ini. Informasi terkait virus ini juga sudah dibagikan. Lalu, kami juga bekerja sama dengan kelompok khusus yang dibentuk beberapa waktu lalu," kata dr Maria di konferensi pers kantor Jenewa WHO, Rabu (19/08/2020).

dr Maria menambahkan, WHO sudah mendiskusikan potensi dari perubahan virus bersama dengan kelompok penelitian lainnya sejak Januari lalu. Riset ini pun tidak hanya mengidentifikasi adanya perubahan mutasi, tetapi riset ini juga memperhatikan perbedaan perilaku pada setiap virus.

"Kami sudah mendiskusikannya sejak Januari. Secara khusus, kami pun membentuk kelompok penelitian untuk melihat setiap perubahan yang terjadi. Mutasi mana yang penting, mutasi mana yang virusnya berpotensi memiliki perilaku berbeda, dan bagaimana mempelajarinya," pungkasnya.

Harga Vaksin Corona Sinopharm dari China Diprediksi Sampai Rp 2,1 Juta

- China National Pharmaceutical Group (Sinopharm) ditargetkan sudah bisa memproduksi vaksin virus Corona COVID-19 siap pakai pada akhir tahun 2020. Vaksin ini dikabarkan tengah menjalani uji klinis tingkat akhir di Uni Emirat Arab.
Menurut Kepala Sinopharm, Liu Jingzhen, vaksin ini dibuat dengan memanfaatkan virus Corona yang sudah dilemahkan atau sering disebut sebagai "inactivated vaccine". Liu mengatakan vaksin sudah lulus uji klinis tingkat I dan II pada April 2020 lalu.

"Efeknya ideal dan belum ada yang mengalami efek samping yang parah, kata Liu seperti dikutip dari South China Morning Post.

Dengan semakin mendekatnya tahap akhir uji klinis, Liu memprediksi vaksin bisa dijual dengan harga sekitar 1.000 yuan atau setara Rp 2,1 juta untuk dua kali suntikan.

Sebagian vaksin COVID-19 yang dikembangkan memang disebut butuh dua kali suntik agar tubuh bisa membentuk kekebalan yang optimal.

"Vaksin ini tidak akan dikenakan harga terlalu tinggi. Diperkirakan akan menghabiskan biaya beberapa ratus yuan untuk satu suntikan, dan untuk dua suntikan biayanya kurang dari 1.000 yuan," kata Liu.
https://kamumovie28.com/birds-of-prey-and-the-fantabulous-emancipation-of-one-harley-quinn/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar