Jumat, 21 Agustus 2020

Kenapa Ada Pasien Corona yang Minim Gejala? Ini 4 Kemungkinannya

 Sebagian orang yang terinfeksi virus Corona COVID-19 bisa memiliki gejala penyakit yang minim atau bahkan tidak bergejala sama sekali (orang tanpa gejala/OTG). Hal ini yang disebut-sebut membuat sulit pengendalian wabah karena orang-orang seringkali tidak sadar dirinya positif lalu kemudian menginfeksi orang lain.
Sebenarnya apa sih yang menentukan kenapa ada orang yang minim gejala, sementara lainnya sesak napas, kehilangan fungsi indra, bahkan sampai meninggal dunia?

Menurut studi ada beberapa faktor yang bisa jadi penentu. Setidaknya ada 4 studi yang berusaha menjelaskan fenomena ini. Berikut penjelasannya:

1. Respons imun yang cepat
Sejak awal kemunculan wabah Corona, dugaan pertama para ahli kenapa ada OTG adalah karena mereka memiliki sistem imun atau kekebalan tubuh yang bagus. Ini dilihat dari statistik yang menunjukkan rata-rata pasien dengan gejala parah berusia tua dan atau memiliki kondisi penyakit penyerta.

Studi yang dipublikasi di jurnal Cell memperkuat dugaan tersebut. Temuan dari tim peneliti Karolinska Institutet, Swedia, menemukan rata-rata orang yang minim gejala memiliki sistem imun bernama sel T yang bereaksi cepat terhadap infeksi virus.

2. Imunitas silang
Beberapa studi menemukan ada populasi orang-orang di dunia yang sudah memiliki imunitas terhadap COVID-19 bahkan sebelum pandemi. Hal ini diduga karena mereka pernah terinfeksi oleh virus lain yang kemudian memicu respons sitem imun tersebut.

Sebagai contoh, peneliti di Singapura menemukan orang-orang mantan pasien SARS memiliki sel T yang juga bereaksi terhadap COVID-19.

3. Genetik
Studi awal menemukan bukti-bukti kemungkinan peran faktor genetik terhadap keparahan infeksi COVID-19. Studi yang dipublikasi di jurnal JAMA meneliti mengapa ada orang dewasa muda tanpa penyakit penyerta yang akhirnya mengalami gejala parah.

4. Jumlah virus
Kemungkinan lainnya yang juga bisa menjelaskan kenapa bisa ada OTG adalah tingkat atau jumlah virus yang menginfeksi. Bisa jadi saat seseorang terinfeksi, jumlah virus yang masuk ke tubuhnya tidak banyak sehingga gejala yang ditimbulkan juga jadi minim.

Kasus Corona Global Tembus 22 Juta, WHO Sebut Herd Immunity Masih Jauh

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan dunia masih jauh dari tingkat imunitas yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap virus Corona COVID-19. Hal ini disampaikan bersamaan dengan kasus COVID-19 global yang sudah tembus lebih dari 22 juta kasus.
Dilansir dari laman South China Morning Post (SCMP), sudah lebih dari 780.000 kematian terkait infeksi virus Corona dilaporkan di seluruh dunia. Amerika Serikat (AS) menjadi negara dengan kematian Corona terbanyak yaitu lebih dari 171.000 jiwa, diikuti oleh Brasil, Meksiko, India, dan Inggris.

Herd immunity biasanya dapat dicapai dengan vaksinasi. Sebagian besar ilmuwan memperkirakan setidaknya membutuhkan 50-70 persen populasi dunia yang memiliki antibodi COVID-19 untuk bisa mendapatkan hal tersebut.

Kepala program kedaruratan WHO, Dr Michael Ryan, mengatakan bahwa tidak seharusnya herd immunity dijadikan harapan. Ini karena akan ada banyak orang 'dikorbankan' bila virus dibiarkan begitu saja mewabah demi mendapatkan kekebalan secara alami.

"Sebagai populasi global, kita masih jauh dari tingkat imunitas yang dibutuhkan untuk menghentikan penularan penyakit ini," jelas Dr Ryan.

Sebagian besar penelitian yang dilakukan saat ini menunjukkan hanya sekitar 10 persen hingga 20 persen orang di dunia yang memiliki antibodi terhadap COVID-19.
https://kamumovie28.com/nobility-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar