Reality TV 'Keeping Up With The Kardashians' berakhir setelah tayang 20 musim selama 14 tahun. Akhir episode ini telah diumumkan dan musim final akan ditayangkan tahun depan di 2021.
Banyak spekulasi beredar tentang alasan klan Kardashian-Jenner mengakhiri kerjasama jangka panjangnya dengan E! Seorang sumber yang merupakan orang dalam mengungkapkan penyebabnya berakar dari masalah finansial dan keluarga.
Seperti diberitakan Pagesix, kesehatan mental Kanye West, masalah finansial E! dan bayaran supermahal Kardashian-Jenner merupakan tiga faktor utama yang membuat tayangan 'Keeping Up With The Kardashians' dihentikan. Menurut sumber, masalah mental yang dialami Kanye West disebut menyebabkan bentrokan di antara bintang dan kru.
Orang dalam mengatakan Kim Kardashian sudah berencana membuka fakta tentang Kanye West yang berjuang mengatasi bipolar yang dideritanya ke publik. Namun di sisi lain ibu empat anak ini memohon kepada media dan publik agar mau berempati terhadap kondisi suaminya itu.
Menampilkan sisi Kanye West yang mengidap bipolar dalam reality show akan dianggap sebagai kemunafikan. Sementara itu mereka juga ingin pemilik brand Yeezy itu tidak lagi eksis di 'Keeping Up With The Kardashians'. Bentrok soal ide acara tersebut lah yang disinyalir jadi salah satu faktor berakhirnya reality TV terpopuler itu.
Sementara itu perusahaan yang menaungi E!, NBCUniversal, juga sedang menghadapi krisis finansial imbas dari pandemi virus Corona. Belum lama ini E! juga harus menutup siaran andalannya E! News karena kejatuhan ekonomi.
Sebelumnya pada 2017, keluarga Kardashian-Jenner memperbarui kerjasama mereka dengan E! hingga 2020 dengan nilai kontrak USD 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun. Kabarnya, mereka minta bayaran lebih tinggi.
Popularitas 'Keeping Up With The Kardashians' juga kian menurun. Saat awal-awal penayangan, reality TV tersebut sanggup menjaring hingga 5,8 juta penonton. Namun dalam beberapa episode terakhir penontonnya hanya sekitar 1,6 juta.
Tips Perkuat Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi: Iman Kuat, Rajin Ibadah
Masalah ketahanan keluarga menjadi salah satu materi yang dibahas dalam sebuah acara diskusi oleh Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) DKI Jakarta pekan lalu. Ketua Umum ALPPIND DKI Jakarta, Dr. Hj. Khasanah, M.Pd mengatakan di masa Pandemi COVID-19 seperti sekarang ini sangat penting untuk menguatkan ketahanan keluarga.
Pembina Yayasan Da'rul Qur'an Mulia, Dr. Aan Rohana yang menjadi salah satu pembicara mengatakan, ketahanan keluarga di masa pandemi COVID-19 sangatlah penting. Sebab keluarga adalah harta yang paling berharga dan menentukan masa depan. "(Keluarga) tempat melahirkan generasi unggul yang bertakwa dan menentukan peradaban dan kemajuan bangsa dan negara," kata Dr. Aan Rohana yang juga pendiri Alppind ini seperti keterangan tertulis yang diterima Tim Hikmah detikcom, Rabu 9 September 2020.
Dr. Aan Rohana pun menyebutkan beberapa hal yang bisa menjadi dasar strategi penguatan ketahanan keluarga di masa pandemi, yaitu: keimanan yang kokoh. Dengan beriman bahwa pandemi adalah takdir, maka seseorang akan rajin ibadah, memiliki hati tenang, banyak inspirasi melahirkan banyak kebaikan, bersabar dan berikhtiar maksimal untuk menjaga kesehatan.
Tak hanya dari segi psikologis keluarga, Dr. Aan Rohana juga menyebut pentingnya pola hidup sehat, bersikap qona'ah, banyak berdoa. Penting juga menjaga suasana kehangatan dalam keluarga, saling membahagiakan. "Dan yang tak kalah pentingnya adalah dengan kemampuan mengambil mengambil hikmah dari dampak Covid 19," kata dia.
Praktisi pendidikan dan Founder Sekolah Insan Mandiri, Dr. H. Karim Santoso, M.Si mengatakan, salah satu hikmah atau kebaikan yang didapatkan dari adanya pandemi Covid-19 ini yaitu kita dapat mendekatkan diri kepada keluarga serta meningkatkan keteguhan iman kepada Allah SWT. Misalnya, dia mengilustrasikan, sebelum ada pandemi sekolah menjadi indikator penting dalam perkembangan pendidikan dan sosial anak. Interaksi yang dibentuk melalui pertemuan yang intens dapat membentuk karakter anak.
Namun, di tengah Covid-19 setiap anak harus melakukan sistem pembelajaran jarak jauh, yakni belajar secara Online dari rumah masing-masing. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk mampu menyesuaikan dengan kebutuhan anak.
https://nonton08.com/love-lesson/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar