Kamis, 10 September 2020

DKI Akhirnya PSBB Lagi, Ingat Ini 7 Tips Aman Cegah COVID-19 di KRL

DKI Jakarta akhirnya menerapkan lagi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) secara ketat. Tingginya angka penularan virus Corona COVID-19 jadi pertimbangan utamanya.
Penularan virus Corona (COVID-19) bisa terjadi di mana saja, termasuk di KRL. Maka dari itu, protokol kesehatan harus benar-benar dipatuhi dengan baik agar terhindar dari penularan COVID-19.

"Jadi ketika bepergian menggunakan transportasi umum, kita tidak tahu kapan dan di mana virus itu berada. Jadi kita harus ekstra berhati-hati sebelum berinteraksi dekat dengan anggota keluarga atau orang-orang di kantor. Kita harus memastikan diri kita itu bersih dulu," kata duta adaptasi kebiasaan baru dr Reisa Broto Asmoro dalam siaran Youtube BNPB, Rabu (9/9/2020).

Bagi para pengguna KRL, yuk simak baik-baik tips dari dr Reisa agar terhindar dari risiko penularan COVID-19 di KRL.

1. Tertib saat cek suhu tubuh
Saat memasuki stasiun biasanya suhu tubuh akan diperiksa terlebih dahulu. Selama menunggu giliran, dr Reisa menyarankan untuk tertib menjaga jarak.

"Sampai di stasiun siap-siap diukur suhu tubuh, antre yang benar, jaga jarak dengan antrean yang di depan dan di belakang dan biasakan cuci tangan saat sampai di stasiun," ucap dr Reisa.

2. Pakai baju lengan panjang
dr Reisa mengingatkan, jika ingin bepergian menggunakan KRL, maka wajib untuk menggunakan pakaian lengan panjang.

"Pakai lengan panjang atau jaket tipis atau manset," ujarnya.

3. Pakai masker dengan benar
Selain mengenakan pakaian lengan panjang, masker juga harus digunakan dengan benar.

"Pastikan pakai masker dengan benar sepanjang perjalanan ya, jangan kendor," kata dr Reisa.

4. Bawa hand sanitizer
Saat di dalam KRL, mungkin kamu akan sering berpegangan pada hand grip agar tidak jatuh. Maka dari itu, sebaiknya sediakan hand sanitizer agar mudah untuk membersihkan tangan di dalam KRL.

"Sering-sering bersihkan tangan dengan hand sanitizer dan jangan berdempetan," saran dr Reisa.

5. Dilarang berbicara
dr Reisa mengatakan, salah satu peraturan di dalam KRL adalah tidak boleh berbicara. Agar tidak bosan, kamu bisa melakukan berbagai aktivitas seperti mendengarkan musik dan menonton video.

"Jadi sibukkan diri dengan cara yang produktif, seperti baca buku atau dengar musik atau nonton video-video lucu," jelasnya.

6. Pakai face shield
Selanjutnya, kebiasaan menyentuh wajah juga sebaiknya dihindari agar terhindar dari risiko penularan COVID-19. dr Reisa pun menyarankan untuk menggunakan face shield.

"Mata, hidung, dan mulut harus dilindungi jangan dipegang-pegang. Kita bisa pakai face shield," ucap dr Reisa.

7. Jaga jarak
Terakhir, dr Reisa mengatakan untuk tetap saling menjaga jarak, karena ini adalah salah satu cara ampuh untuk menurunkan risiko penularan COVID-19.

"Jarak jarak itu paling ampuh menurunkan penularan risiko COVID-19. Jadi pastikan kita berjarak minimal satu meter dan hindari kontak dengan penumpang lain," tuturnya.

RS Tak Sanggup Hadapi Laju COVID-19, DKI Akhirnya PSBB Lagi

 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terhitung mulai tanggal 14 September 2020. Ini dilakukan karena tingkat penularan Corona yang tidak terkendali membuat fasilitas kesehatan terancam kelawahan atau kolaps.
Menurut data per 6 September 2020, tempat tidur di ICU 67 rumah sakit (RS) rujukan COVID-19 sudah 83 persen terisi penuh. Sementara itu tempat tidur ruang isolasi sudah 77 persen terisi penuh.

Anies memprediksi 4.052 tempat tidur isolasi di DKI Jakarta pada akhirnya akan penuh 100 persen pada tanggal 17 September bila tidak segera dilakukan intervensi.

"Situasi wabah di Jakarta ada dalam kondisi darurat," kata Anies lewat konferensi pers yang disiarkan kanal Youtube Pemprov DKI Jakarta, Rabu (9/9/2020).

"Sekali lagi ini soal menyelamatkan warga Jakarta. Bila ini dibiarkan maka RS tidak akan sanggup lagi menampung dan efeknya kematian akan tinggi terjadi di Jakarta," lanjutnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, dr Widyastuti, menyebut laju penularan virus Corona saat ini luar biasa cepat. Kapasitas rumah sakit (RS) memang akan terus ditingkatkan, namun tanpa ada intervensi maka pada akhirnya tetap akan kalah dengan penambahan jumlah kasus baru.

"Memang benar kalau tanpa intervensi tidak akan cukup. perlu intervensi yang lebih masif dan besar," kata dr Widyastuti dalam kesempatan terpisah.

Pemprov DKI Jakarta membeberkan data kasus aktif COVID-19 setiap akhir bulan sejak pandemi sebagai gambaran. Saat ini, per 9 September sendiri DKI Jakarta memiliki 11.245 kasus aktif.

Berikut detailnya:
29 Februari = 0 kasus
31 Maret = 608 kasus aktif
30 April = 3.345 kasus aktif
31 Mei = 4.650 kasus aktif
30 Juni = 4.123 kasus aktif
31 Juli = 7.157 kasus aktif
31 Agustus = 8.569 kasus aktif
9 September = 11.245 kasus aktif
https://indomovie28.net/seisokurokaminotuma-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar