Beberapa negara tetangga sudah terjangkit virus corona Wuhan (2019-nCoV). Indonesia jadi sorotan karena belum ada satupun kasus yang terkonfirmasi positif.
Sorotan makin tajam ketika sebuah penelitian di Harvard University memprediksi virus corona Wuhan seharusnya sudah masuk Indonesia. Prediksi ini dibuat dengan permodelan berdasarkan volume penerbangan dari dan ke Wuhan.
Dokter penyakit dalam yang juga vaksinolog dari Omni Hospitals Pulomas, dr Dirga Sakti Rambe, M.Sc, SpPD, mengatakan perkiraan yang dibuat berdasarkan statistik harus jadi perhatian. Secara saintifik, permodelan semacam itu bisa dipertanggungjawabkan.
Namun sebagaimana layaknya perkiraan, kemungkinan benar dan salah selalu terbuka. Ia mencontohkan seperti pada wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) beberapa tahun silam.
"Kita bicara soal probabilitas. Dulu confirmed case SARS ada di Singapura dan Thailand, tapi juga tidak ada di Indonesia," kata dr Dirga saat dihubungi detikcom, Senin (10/2/2020).
Penelitian di Harvard yang diberi catatan 'belum peer reviewed' ini menempatkan Indonesia di bawah interval prediksi 95 persen. Artinya, jumlah kasusnya berada di bawah perkiraan yang dibuat dengan permodelan statistik.
Vaksinolog Komentari Riset Harvard Soal Virus Corona 'Sudah Masuk RI'
Studi yang dilakukan peneliti Harvard University belakangan ini jadi perbincangan. Alasannya karena studi memprediksi seharusnya virus corona baru (2019-nCoV) sudah masuk ke Indonesia berdasarkan volume penerbangan dari dan ke Wuhan.
Namun demikian menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan drg R Vensya Sitohang, MEpid, hingga hari Jumat (7/2/2020) belum ditemukan adanya kasus positif di Indonesia. Hal ini diketahui setelah Kementerian Kesehatan menguji 50 spesimen sampel dari pasien dugaan virus corona.
"Indonesia belum melaporkan adanya kasus, dan seharusnya Anda sudah menemukan beberapa," kata salah seorang peneliti, Marc Lipsitch, dikutip dari IBTimes.
Terkait hal tersebut vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, dari OMNI Hospitals Pulomas berkomentar bahwa studi harus jadi perhatian.
"Itu adalah perkiraan yang dibuat berdasarkan metode statistik yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, secara saintifik, harus menjadi perhatian," kata dr Dirga pada detikcom, Senin (10/2/2020).
"Namun namanya perkiraan, bisa benar bisa salah," lanjutnya.
dr Dirga menyebut mungkin saja virus sudah masuk namun belum terdeteksi. Namun demikian tidak menutup kemungkinan memang Indonesia 'luput' dari serangan virus seperti contohnya ketika wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) beberapa tahun lalu.
Kemenkes Malaysia Laporkan Pasien Sembuh dari Virus Corona Tanpa Obat
Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) melaporkan seorang warga negara China berhasil sembuh dari virus corona dengan bantuan perawatan tanpa obat khusus. Pasien laki-laki tersebut merupakan kasus ke-10 virus corona di Malaysia.
"Tiga pasien #novelcoronavirus2019 di negara ini sudah sembuh dan boleh pulang dari rumah sakit," cuit akun resmi Twitter KKM pada Senin (10/2/2020).
Dikutip dari New Straits Times, Direktur Jenderal KKM Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan pasien diberi perawatan berdasarkan gejala dan dimonitor secara intens. Pasien tidak diberikan obat antiviral apapun.
"Dua tes dilakukan pada pasien tanggal 7 dan 8 Februari menunjukkan hasil negatif... Pasien dibolehkan pulang," kata Dr Noor Hisham.
Terkait obat virus corona beberapa negara memang dilaporkan sedang berlomba untuk menciptakannya. Thailan misalnya dilaporkan memanfaatkan obat yang biasa dipakai untuk human immunodeficiency virus (HIV) sementara China memakai obat eksperimental remdesivir yang pernah dipakai untuk melawan virus ebola.
Spesialis paru dr Frans Abednego Barus, SpP, dari OMNI Hospitals Pulomas menjelaskan kasus infeksi virus corona sebetulnya memang bisa sembuh sendiri. Hal ini tergantung dari kekuatan sistem imun seseorang.
Bila sistem imun seseorang dalam kondisi optimal, maka tubuhnya mungkin bisa bertahan dari serangan sampai virus mati. Virus mati karena 'ditelan' sel imun.
"Virusnya memang self limiting disease mati setelah lima sampai tujuh hari," kata dr Frans pada detikcom beberapa waktu lalu.
https://nonton08.com/kukejar-cinta-ke-negeri-cina-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar