Jumat, 21 Agustus 2020

Prediksi Virus Corona Sudah Masuk RI dan Data 'Suspek' Terbaru Kemenkes

 Sebuah riset di Harvard University memperkirakan seharusnya virus corona baru (2019-nCoV) sudah masuk Indonesia. Namun, faktanya data terbaru dari Kementerian Kesehatan menyebutkan hasil uji spesimen dari 62 suspect virus corona, 59 di antaranya dinyatakan negatif.
Sebagian penelitian menyebut alat yang dimiliki Indonesia belum bisa langsung mendeteksi novel coronavirus. Maka dari itu, ada kemungkinan virus corona baru yang mewabah di Wuhan sudah masuk Indonesia, namun tidak terdeteksi.

Menanggapi hal ini, dr Achmad Yurianto, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan sejak akhir Januari lalu Indonesia sudah memiliki alat deteksi baru bernama Polymerase Chain Reaction (PCR) yang bisa langsung mendeteksi novel coronavirus.

"PCR yang baru yang juga digunakan oleh Singapore dan juga digunakan oleh Australia. Di mana di dalam sistem PCR ini kita hanya dihadapkan pada pilihan nCoV atau bukan, sehingga pemeriksaannya bisa lebih cepat, satu hari selesai, nggak tiga hari seperti kemarin," katanya saat ditemui di Gedung Adhyatma, Ruang Naranta Pers, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (10/1/2020).

Saat diminta komentar soal riset yang dilakukan Harvard University, dr Yuri menanyakan kebenaran dari studi tersebut. Menurutnya, novel coronavirus adalah kasus baru. Perlu kajian lebih lanjut untuk memberikan suatu kesimpulan.

"Saya malah tanda tanya. Ini virus baru kok sudah ada studi bagaimana ceritanya. Kita belum bisa membuat simpulan tentang satu kajian yang masih on going. Bagaimana bisa disimpulkan, kan terlalu sakti. Enggak perlu ada kajian kalau begitu. Tetapi bagi kita yang penting bagaimana masyarakat jangan sampai sakit," tegasnya.

Anak Jarang Kena, Kenapa Virus Corona Lebih 'Galak' ke Orang Dewasa?

 Lebih dari 900 orang tewas akibat wabah virus corona Wuhan, sementara ribuan orang terinfeksi di berbagai negara. Namun satu hal yang bikin ilmuwan terheran-heran, sangat sedikit anak-anak yang tertular virus ini.
"Median umur pasien adalah antara 49 dan 56 tahun," tulis para ilmuwan dalam laporan ilmiah yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA).

"Kasus pada anak terbilang langka," demikian para ilmuwan menyimpulkan.

Tidak diketahui pasti kenapa anak-anak jarang tertular virus baru yang untuk sementara dinamai 2019-nCoV tersebut. Namun sejak lama, para ilmuwan menemukan pola serupa termasuk pada penyakit cacar air (chickenpox) dan campak (measles).

Bahkan, pola yang sama juga ditemukan pada wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang sama-sama disebabkan oleh keluarga virus corona.

"Kami tidak memahami sepenuhnya fenomena tersebut. Mungkin karena perbedaan respons imun pada anak dibanding pada dewasa," kata Dr Andrew Pavia dari University of Utah, dikutip dari Livescience.

"Salah satu hipotesis menyebut respons imun bawaan, yaitu respons awal yang ditujukan pada kelompok patogen, cenderung lebih aktif," lanjutnya.
https://nonton08.com/paradox/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar