Rabu, 19 Agustus 2020

Alasan Orang Usia 20-40 Tahun Disebut Jadi Pendorong Pandemi Corona

 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa (18/8/2020), menyebut ada kekhawatiran pandemi virus Corona COVID-19 semakin parah karena didorong oleh orang-orang di kelompok usia 20-40 tahun. WHO menyebut ini karena sebagian besar orang tidak sadar dirinya terinfeksi.
Direktur Regional WHO untuk wilayah Pasifik Barat, Takeshi Kasai, menyebut ada peningkatan kasus infeksi pada kelompok orang berusia 20-40 tahun secara global. Dampaknya kasus-kasus yang parah hingga kematian juga ikut meningkat, khususnya pada kelompok rentan, seperti lansia dan orang dengan penyakit penyerta.

"Ada perubahan epidemi," kata Takeshi seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/8/2020).

"Orang-orang berusia 20-an, 30-an, dan 40-an semakin mendorong penyebaran virus. Kebanyakan tidak sadar mereka terinfeksi," lanjutnya.

Kasus infeksi di kelompok usia 20-40 tahun meningkat kemungkinan karena mereka yang aktif berkegiatan di tengah masyarakat, menempatkan diri pada risiko tertular di perjalanan atau di tempat bekerja. Hanya saja dengan kondisi fisik yang bugar, sebagian besar orang pada kelompok ini bisa tidak memiliki atau minim gejala.

Meski tidak memiliki keluhan, orang-orang yang minim gejala di dalam tubuhnya bisa tetap tersimpan virus penyebab COVID-19. Ketika mereka berinteraksi tanpa protokol yang memadai, maka virus akan menginfeksi orang lain.

"Jadinya ini meningkatkan risiko penularan kasus pada kelompok yang lebih rentan," ungkap Takeshi.

BPOM Ungkap 'Critical Finding' dalam Uji Klinis Obat Corona Unair

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya buka suara soal kontroversi uji klinis III kombinasi obat COVID-19 yang dilakukan tim peneliti Universitas Airlangga (Unair). Ada beberapa evaluasi yang disampaikan.
"Ditemukan critical finding," kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam konferensi pers di channel YouTube BPOM, Rabu (19/8/2020).

Salah satu critical finding yang diungkap adalah soal keterwakilan subjek uji yang dinilai tidak mencerminkan randomisasi.

Selain itu, Penny mengungkap, dalam uji klinis tersebut, ada OTG (orang tanpa gejala) yang mendapat obat. Menurut protokol, OTG tidak perlu mendapat pengobatan.

Catatan lain yang diberikan adalah soal hasil. Menurut Penny, hasil uji klinis belum memenuhi nilai kebaruan.

"Belum menunjukkan perbedaan yang signifikan," tegas Penny.

Ketiga kombinasi obat yang menjalani uji klinis adalah sebagai berikut:

Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin
Lopinavir/Ritonavir dan Doxycyclin
Hydrochloroquine dan Azithromycin.

Update Corona Indonesia 19 Agustus: Tambah 1.902, Positif Jadi 144.945

 Jumlah kasus positif virus Corona COVID-19 pada Rabu (19/8/2020), bertambah 1.902 sehingga totalnya menjadi 144.945 kasus. Sebanyak 98.657 pasien sembuh dan 6.346 meninggal.
Demikian dikutip dari situs kemkes.go.id per 19 Agustus 2020 pukul 15.10 WIB.

Detail perkembangan virus Corona di Indonesia pada hari ini adalah sebagai berikut:

1. Kasus positif bertambah 1.902 menjadi 144.945
2. Pasien sembuh bertambah 2.351 menjadi 98.657
3. Pasien meninggal bertambah 69 menjadi 6.346

Sebelumnya pada Selasa (18/8/2020), jumlah kasus positif virus Corona COVID-19 tercatat 143.043 kasus, sembuh 96.306, dan meninggal 6.277 kasus.
https://nonton08.com/krampus/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar